Modul ajar Pengembangan Komunikasi, Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI) SMPLB kelas VIII materi Deteksi Ada-Tidaknya Bunyi — Tunarungu lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran Pendidikan Khusus. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Jenjang, mapel, kelas, dan materinya sudah terbawa dari halaman ini. Tinggal nama, sekolah, dan pilih semester-nya.
| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Pengembangan Komunikasi, Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI) |
| Fase / Kelas | D / VIII |
| Materi Pokok | Deteksi Ada-Tidaknya Bunyi — Tunarungu |
| Alokasi Waktu | 3 Pertemuan (9 JP: 3 JP × 35 menit = 105 menit per pertemuan) |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning + Praktik Langsung |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Kompetensi awal: Peserta didik mampu menunjukkan respons awal terhadap getaran atau rangsangan visual yang berkaitan dengan bunyi.
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan: penalaran kritis, komunikasi, kesehatan.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran Pendidikan Khusus |
| Elemen / Domain | Mendengarkan dan Memahami Bunyi |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu mendeteksi keberadaan bunyi dari berbagai sumber, mengidentifikasi karakteristik bunyi sederhana, dan menunjukkan respons yang tepat terhadap bunyi dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari, baik secara mandiri maupun dengan bantuan. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Suara tepuk tangan, bel pintu, atau musik adalah contoh bunyi yang ada di sekitar kita. |
| Konseptual | Bunyi adalah getaran yang merambat melalui medium dan dapat dideteksi oleh telinga atau alat bantu dengar. |
| Prosedural | Mendeteksi bunyi dilakukan dengan memperhatikan respons tubuh, mata, atau ekspresi wajah saat ada sumber bunyi. |
| Metakognitif | Peserta didik menyadari bahwa kemampuan mendengar dan mendeteksi bunyi membantu mereka berinteraksi dengan lingkungan dan menjaga keselamatan. |
Tujuan Pembelajaran:
Pemahaman bermakna: Mendeteksi ada-tidaknya bunyi membantu kita memahami informasi dari lingkungan sekitar, berkomunikasi lebih efektif, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya.
Pertanyaan pemantik: "Bagaimana kita tahu ada sesuatu yang bergerak atau terjadi di sekitar kita jika kita tidak melihatnya?"
| Praktik Pedagogis | Discovery Learning + Praktik Langsung |
| Lintas Disiplin Ilmu | Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan: merespons bunyi peringatan (misalnya peluit, bel) saat berolahraga untuk keselamatan. Bahasa Indonesia: menggunakan bahasa isyarat dan tulisan untuk mendeskripsikan bunyi yang dideteksi. Seni Budaya: mengidentifikasi bunyi-bunyian dari alat musik sederhana dan merespons irama melalui gerakan. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua atau wali diajak berpartisipasi dalam melatih deteksi bunyi sederhana di rumah dan memastikan penggunaan serta perawatan alat bantu dengar secara teratur. |
| Lingkungan Pembelajaran | Ruang kelas diatur minim distraksi visual, dilengkapi poster visual sumber bunyi, dan area praktik yang aman untuk percobaan deteksi bunyi. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Pemanfaatan video singkat tanpa suara dan dengan suara (bersubtitle) untuk membandingkan pengalaman visual dan auditori, serta aplikasi sederhana untuk latihan identifikasi bunyi. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Peserta didik dapat menunjukkan respons fisik (misalnya menoleh, terkejut) saat merasakan adanya bunyi dari berbagai sumber dengan bantuan visual. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 20 menit | Guru menyapa dengan salam dan bahasa isyarat, mengajak berdoa, dan memeriksa kehadiran. Guru menampilkan gambar-gambar aktivitas sehari-hari yang menghasilkan bunyi (misalnya anak bermain musik, mobil melaju) dan menanyakan 'Apa yang kamu dengar di sini?' dengan isyarat. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan belajar bagaimana kita tahu ada bunyi di sekitar kita dan bagaimana tubuh kita meresponsnya, agar kita bisa lebih peka terhadap lingkungan. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Peserta didik diajak mengamati video pendek tanpa suara, lalu video yang sama dengan suara. Guru memancing pertanyaan 'Apa yang berbeda?' dan 'Bagaimana kamu tahu ada suara?' Guru menjelaskan bahwa bunyi adalah getaran yang bisa kita rasakan. Peserta didik mencoba merasakan getaran dari speaker kecil saat memutar musik pelan. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 30 menit | Dalam kelompok kecil, peserta didik melakukan percobaan sederhana: satu orang memejamkan mata (atau fokus ke visual lain), guru atau teman membuat bunyi (misalnya tepuk tangan, memukul meja) di belakang mereka. Peserta didik diminta menunjukkan respons (misalnya menoleh, mengangkat tangan) saat 'merasakan' adanya bunyi. Guru mendampingi dengan isyarat dan visualisasi. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik mempresentasikan respons mereka dan menyebutkan jenis bunyi yang mereka deteksi. Guru memberikan umpan balik positif dan menguatkan konsep bahwa tubuh kita bisa merasakan bunyi meskipun tidak selalu mendengar dengan jelas. Guru memberikan kartu bergambar sumber bunyi dan meminta peserta didik menunjuk kartu yang sesuai dengan bunyi yang mereka 'rasakan'. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 20 menit | Guru mengajak peserta didik menyimpulkan bersama bahwa bunyi ada di mana-mana dan kita bisa merasakannya. Guru mengapresiasi partisipasi aktif peserta didik. Sebagai tindak lanjut, peserta didik diminta mencoba merasakan bunyi di rumah. Guru menutup dengan doa dan senyum, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh semangat. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning (Sederhana) |
| Tujuan Pertemuan 2 | Peserta didik dapat mengidentifikasi sumber bunyi yang berbeda (misalnya tepuk tangan, bel, musik) melalui pengamatan visual dan sentuhan. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 20 menit | Guru menyapa, berdoa, dan presensi. Guru mengulang sedikit materi sebelumnya dan menanyakan 'Apa saja bunyi yang kamu 'rasakan' di rumah kemarin?' dengan isyarat. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan menjadi 'detektif bunyi' dan belajar mengidentifikasi dari mana bunyi itu berasal, agar kita bisa lebih mengenali lingkungan kita. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Guru menampilkan kartu-kartu bergambar berbagai sumber bunyi (misalnya bel, telepon, tepuk tangan, drum). Guru menirukan gerakan atau visualisasi bunyi tersebut (tanpa suara keras) dan meminta peserta didik menebak sumbernya. Guru menjelaskan bahwa setiap bunyi punya 'ciri khas' yang bisa kita kenali dari gerakannya atau getarannya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 30 menit | Peserta didik secara berpasangan atau kelompok kecil membuat 'Kotak Deteksi Bunyi' (kotak tertutup dengan lubang kecil). Guru menyiapkan benda-benda penghasil bunyi (misalnya kerincingan, bel kecil, sendok) di dalam kotak. Peserta didik secara bergantian memasukkan tangan atau mengamati lubang kecil, membuat bunyi, dan mencoba mengidentifikasi benda apa yang ada di dalam kotak tersebut, dengan isyarat dan tulisan. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Setiap kelompok menunjukkan benda-benda yang mereka identifikasi dan menjelaskan ciri-ciri visual atau sentuhan yang membantu mereka. Guru memberikan apresiasi atas kerja sama dan kemampuan identifikasi mereka. Guru menguatkan pemahaman bahwa mengenal sumber bunyi membantu kita memahami apa yang terjadi di sekitar. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 20 menit | Guru mengajak peserta didik menyimpulkan bahwa kita bisa mengenali berbagai sumber bunyi melalui pengamatan dan sentuhan. Guru memberikan stiker apresiasi untuk setiap 'detektif bunyi'. Guru memberikan tugas untuk mencari 3 sumber bunyi di sekolah dan menggambarkannya. Guru menutup dengan senyum dan semangat, menumbuhkan rasa ingin tahu yang berkelanjutan. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Praktik Langsung dan Refleksi |
| Tujuan Pertemuan 3 | Peserta didik dapat membedakan antara kondisi ada bunyi dan tidak ada bunyi dalam simulasi sederhana dengan akurasi dan dapat menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea secara mandiri untuk mendeteksi bunyi di lingkungan sekitar. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 20 menit | Guru menyapa dengan antusias, berdoa, dan presensi. Guru mengajak peserta didik mengingat kembali apa yang sudah dipelajari tentang deteksi bunyi dan menanyakan 'Apakah kamu sudah mencoba alat bantu dengarmu hari ini?' dengan isyarat. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan berlatih membedakan ada-tidaknya bunyi dan menggunakan alat bantu kita, agar kita semakin mandiri dan percaya diri. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Guru menunjukkan dua kartu: satu dengan gambar telinga dan gelombang suara (ada bunyi), satu lagi dengan gambar telinga dan tanda silang (tidak ada bunyi). Guru menjelaskan konsep 'ada bunyi' dan 'tidak ada bunyi'. Guru juga mengajak peserta didik memeriksa dan memasang alat bantu dengar atau implan koklea mereka dengan bimbingan, menjelaskan fungsinya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 30 menit | Peserta didik melakukan permainan 'Ada Bunyi - Tidak Ada Bunyi'. Guru atau teman membuat bunyi di balik layar. Peserta didik mengangkat kartu 'ada bunyi' atau 'tidak ada bunyi' sesuai deteksi mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan latihan penggunaan alat bantu dengar: guru membuat berbagai bunyi (misalnya tepuk tangan, membunyikan bel, memanggil nama) dari jarak berbeda, peserta didik menunjukkan respons dengan alat bantu dengar mereka. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik berbagi pengalaman mereka dalam membedakan bunyi dan menggunakan alat bantu. Guru memberikan umpan balik individu dan kelompok, memuji kemajuan mereka. Guru mengingatkan pentingnya merawat alat bantu dengar. Guru juga membahas pentingnya merespons bunyi peringatan sederhana. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 20 menit | Guru mengajak peserta didik menyimpulkan seluruh pembelajaran tentang deteksi bunyi dan penggunaan alat bantu dengar. Guru memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta didik atas usaha dan partisipasi mereka. Guru memberikan pesan positif bahwa kemampuan ini akan sangat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Guru menutup dengan doa dan semangat, menumbuhkan rasa bangga dan optimisme. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Peserta didik dapat mendeteksi keberadaan bunyi dan mengidentifikasi sumbernya dengan bantuan visual atau sentuhan.
Alat & bahan: Kartu gambar sumber bunyi, benda-benda penghasil bunyi (bel, tepuk tangan, kerincingan, sendok), kotak deteksi bunyi, alat tulis, lembar kerja.
Langkah kerja:
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
Formatif (proses): Observasi partisipasi peserta didik dalam diskusi kelompok, respons terhadap instruksi deteksi bunyi, dan kemampuan mengidentifikasi sumber bunyi.
Sumatif (akhir): Penilaian performa peserta didik dalam simulasi deteksi bunyi dan penggunaan alat bantu dengar, serta kemampuan merespons bunyi peringatan.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Menunjukkan respons fisik terhadap bunyi. | Konsep dasar bunyi dan respons tubuh. | 3 JP | penalaran kritis, kesehatan |
| 2 | Mengidentifikasi sumber bunyi yang berbeda. | Ciri-ciri sumber bunyi. | 3 JP | komunikasi, penalaran kritis |
| 3 | Membedakan ada/tidak ada bunyi dan menggunakan alat bantu dengar. | Konsep ada/tidak ada bunyi, fungsi alat bantu dengar. | 3 JP | kesehatan, kemandirian |
Bunyi adalah bagian penting dari dunia di sekitar kita. Meskipun kita tidak selalu bisa mendengar dengan jelas, kita bisa belajar untuk 'merasakan' dan mendeteksi keberadaan bunyi. Modul ini akan membantu kita memahami apa itu bunyi, bagaimana cara mendeteksinya, dan bagaimana kita bisa menggunakan alat bantu dengar untuk berinteraksi lebih baik dengan lingkungan. Mari kita menjadi detektif bunyi yang hebat!
1. Apa Itu Bunyi?
Bunyi adalah getaran yang merambat melalui udara, air, atau benda padat, dan bisa sampai ke telinga kita. Kita mungkin tidak selalu mendengar suara dengan jelas, tetapi kita bisa merasakan getaran yang dihasilkan oleh bunyi. Misalnya, saat ada musik keras, kita bisa merasakan lantai bergetar. Atau saat ada orang berbicara, kita bisa merasakan getaran di tenggorokan mereka. Bunyi bisa berasal dari banyak hal, seperti tepuk tangan, bel pintu, atau suara kendaraan. Memahami bahwa bunyi adalah getaran adalah langkah pertama dalam mendeteksinya.
2. Bagaimana Tubuh Kita Merespons Bunyi?
Meskipun kita memiliki hambatan pendengaran, tubuh kita masih bisa merespons adanya bunyi. Respons ini bisa berupa gerakan mata yang menoleh ke arah sumber bunyi, ekspresi wajah terkejut, atau gerakan tubuh lainnya. Respon ini adalah cara alami tubuh kita memberitahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di lingkungan. Contohnya, jika ada bel berbunyi di belakang kita, kita mungkin akan menoleh atau mengangkat kepala. Latihan untuk menyadari respons-respons ini akan membantu kita lebih peka terhadap keberadaan bunyi.
3. Mengidentifikasi Sumber Bunyi
Setiap bunyi memiliki sumbernya. Bel pintu berasal dari bel, tepuk tangan berasal dari tangan, dan musik berasal dari alat musik. Kita bisa mengidentifikasi sumber bunyi tidak hanya dari suaranya, tetapi juga dari visualnya (melihat gerakan) atau dari getarannya (merasakan sentuhan). Misalnya, kita melihat seseorang menepukkan tangan, maka kita tahu ada bunyi tepuk tangan. Atau kita merasakan getaran di lantai, lalu melihat ada truk besar lewat. Dengan menghubungkan visual dan sentuhan dengan bunyi, kita bisa lebih mudah mengidentifikasi apa yang terjadi.
4. Membedakan Ada Bunyi dan Tidak Ada Bunyi
Penting untuk bisa membedakan kapan ada bunyi dan kapan tidak ada bunyi. Ini adalah keterampilan dasar dalam deteksi bunyi. Dalam situasi 'tidak ada bunyi', lingkungan terasa tenang atau hening. Dalam situasi 'ada bunyi', kita bisa merasakan getaran atau melihat gerakan yang menghasilkan suara. Latihan membedakan kedua kondisi ini akan membantu kita lebih fokus dan responsif terhadap perubahan di lingkungan, serta menghindari kebingungan.
5. Peran Alat Bantu Dengar dan Implan Koklea
Alat bantu dengar (ABD) dan implan koklea adalah teknologi penting yang membantu banyak orang dengan hambatan pendengaran untuk mendeteksi dan memahami bunyi. ABD bekerja dengan memperkuat suara sehingga lebih mudah didengar, sedangkan implan koklea bekerja dengan mengirimkan sinyal listrik langsung ke saraf pendengaran. Menggunakan alat-alat ini secara rutin dan merawatnya dengan baik adalah kunci untuk memaksimalkan kemampuan deteksi bunyi kita. Belajar memasang, menyalakan, dan merawatnya secara mandiri sangatlah penting.
6. Merespons Bunyi Peringatan
Beberapa bunyi sangat penting untuk keselamatan kita, seperti bel kebakaran, klakson kendaraan, atau alarm. Bunyi-bunyi ini disebut bunyi peringatan. Kita perlu belajar mengenali bunyi-bunyi ini dan tahu bagaimana harus meresponsnya. Misalnya, saat mendengar bel kebakaran, kita harus segera mencari tahu sumbernya dan mengikuti instruksi evakuasi. Dengan latihan dan kesadaran, kita bisa merespons bunyi peringatan dengan cepat dan tepat untuk menjaga diri kita aman.
Rangkuman: Mendeteksi ada-tidaknya bunyi adalah keterampilan penting. Bunyi adalah getaran yang bisa kita rasakan dan respons tubuh kita bisa menjadi petunjuk. Kita bisa mengidentifikasi sumber bunyi dari visual dan sentuhan. Membedakan kondisi ada/tidak ada bunyi, serta menggunakan dan merawat alat bantu dengar atau implan koklea secara mandiri, akan meningkatkan kemampuan kita. Merespons bunyi peringatan juga krusial untuk keselamatan. Mari terus berlatih agar semakin peka terhadap dunia bunyi di sekitar kita.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Bunyi | Getaran yang merambat dan dapat dideteksi. |
| Deteksi | Proses menemukan atau merasakan keberadaan sesuatu. |
| Respons | Tanggapan atau reaksi terhadap suatu rangsangan. |
| Alat Bantu Dengar (ABD) | Perangkat elektronik yang memperkuat suara. |
| Implan Koklea | Perangkat medis yang membantu orang tuli mendengar dengan merangsang saraf pendengaran. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Deteksi Ada-Tidaknya Bunyi — Tunarungu" mata pelajaran Pengembangan Komunikasi, Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI) Kelas VIII ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Pembelajaran Mendalam) · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses) · CP: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Pengembangan Komunikasi, Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI) kelas VIII langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran Pendidikan Khusus.
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.