tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMABahasa Daerah › Anggah Unggahing Basa Bali
SMA · Kelas X · Fase E

Modul Ajar Bahasa Daerah Kelas X
Anggah Unggahing Basa Bali

Modul ajar Bahasa Daerah SMA kelas X materi Anggah Unggahing Basa Bali lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Bahasa Daerah kelas X materi Anggah Unggahing Basa Bali
Ringkasan: Anggah Unggahing Basa Bali adalah sistem tingkatan bahasa yang krusial dalam budaya Bali untuk menunjukkan kesantunan dan rasa hormat. Terdiri dari Basa Alus, Basa Madia, dan Basa Kasar, penggunaannya disesuaikan dengan konteks, status sosial, dan hubungan antar penutur. Menguasai sistem ini tidak hanya memperlancar komunikasi tetapi juga melestarikan warisan budaya dan etika berbahasa masyarakat Bali.
Model: Problem Based Learning (PBL) + PraktikDimensi: penalaran kritis, komunikasi, kewargaanWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISBahasa Daerah · Anggah Unggahing Basa Bali · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu memahami dan menggunakan berbagai ragam bahasa daerah sesuai konteks, tujuan, dan mitra tutur secara santun dan efektif dalam berbagai situasi komunikasi.

Acuan: Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Kompetensi awal: Peserta didik memiliki pengetahuan dasar tentang kosakata bahasa Bali sehari-hari dan beberapa ungkapan sederhana.

Pemahaman bermakna: Memahami Anggah Unggahing Basa Bali membantu peserta didik berkomunikasi secara efektif dan santun sesuai norma budaya Bali, memperkuat identitas lokal, serta menghargai keberagaman budaya.

Pertanyaan pemantik: Mengapa kita tidak bisa berbicara dengan semua orang menggunakan bahasa yang sama, terutama di Bali?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali berdasarkan konteks penggunaannya.

Kegiatan awal: Guru menyapa dan mengajak peserta didik berdoa, memeriksa kehadiran, kemudian menampilkan video pendek percakapan dalam bahasa Bali yang berbeda tingkatan. Peserta didik diajak mengamati dan merumuskan pertanyaan awal tentang perbedaan tersebut. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan, yaitu mengidentifikasi jenis anggah unggahing basa Bali.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengamati contoh-contoh teks dialog atau video pendek yang menunjukkan berbagai tingkatan Anggah Unggahing Basa Bali. Mereka berdiskusi untuk menemukan pola dan ciri khas masing-masing tingkatan bahasa, mengaitkannya dengan siapa yang berbicara dan kepada siapa.

Mengaplikasi: Setiap kelompok menyusun daftar jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali yang mereka temukan beserta ciri-ciri utamanya. Mereka juga mencoba mengklasifikasikan beberapa kalimat acak ke dalam tingkatan bahasa yang sesuai, dengan bimbingan guru.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi mereka. Kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan penguatan konsep dan meluruskan pemahaman yang keliru, memastikan semua peserta didik memahami jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali. Guru mengapresiasi semangat diskusi yang aktif.

Penutup: Peserta didik dan guru menyimpulkan bersama tentang pentingnya mengenali jenis Anggah Unggahing Basa Bali. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, memberikan motivasi untuk terus belajar, dan menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya. Kegiatan ditutup dengan doa bersama.

Pertemuan 2 — Problem Based Learning

Tujuan: Menganalisis perbedaan penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam situasi formal dan informal.

Kegiatan awal: Guru menyapa, berdoa, dan memeriksa kehadiran. Guru mengingatkan kembali materi pertemuan sebelumnya tentang jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali. Guru memantik diskusi dengan pertanyaan 'Dalam situasi apa saja kita menggunakan tingkatan bahasa yang berbeda?' dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis perbedaan penggunaan bahasa dalam konteks formal dan informal.

Memahami: Peserta didik disajikan beberapa skenario masalah komunikasi dalam bahasa Bali (misalnya, berbicara dengan orang tua, teman sebaya, atau pejabat desa). Secara berkelompok, mereka menganalisis skenario tersebut untuk menentukan tingkatan bahasa yang paling tepat digunakan, mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, status sosial, dan hubungan kekerabatan.

Mengaplikasi: Setiap kelompok memilih satu skenario dan mengembangkan analisis mendalam tentang mengapa tingkatan bahasa tertentu harus digunakan, serta konsekuensi jika menggunakan tingkatan yang salah. Mereka juga menyusun alternatif kalimat dengan tingkatan bahasa yang berbeda untuk skenario tersebut.

Merefleksi: Kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka di depan kelas. Guru memfasilitasi diskusi kritis, meminta peserta didik untuk saling memberikan argumen dan contoh tambahan. Guru memberikan umpan balik konstruktif dan memperkuat pemahaman tentang pentingnya kesesuaian penggunaan bahasa dengan konteks. Guru mengapresiasi keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.

Penutup: Peserta didik dan guru merangkum poin-poin penting tentang analisis penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam berbagai situasi. Guru memberikan apresiasi atas kerja keras dan pemikiran kritis peserta didik, memberikan semangat untuk terus berlatih, dan memberikan informasi mengenai tugas di pertemuan selanjutnya. Kegiatan ditutup dengan doa.

Pertemuan 3 — Project Based Learning (Praktik Dialog)

Tujuan: Menyusun dialog sederhana menggunakan Anggah Unggahing Basa Bali yang tepat dan Mempraktikkan percakapan dengan menggunakan Anggah Unggahing Basa Bali secara santun.

Kegiatan awal: Guru menyapa, berdoa, dan memeriksa kehadiran. Guru mengulas singkat materi sebelumnya tentang identifikasi dan analisis Anggah Unggahing Basa Bali. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menyusun dan mempraktikkan dialog, serta menunjukkan video singkat percakapan sehari-hari yang santun dalam Bahasa Bali untuk memotivasi peserta didik.

Memahami: Peserta didik secara berpasangan atau berkelompok kecil (3-4 orang) menerima sebuah kartu skenario yang berisi situasi komunikasi sehari-hari (misalnya, meminta izin kepada orang tua, menyapa guru, atau berbelanja di pasar tradisional). Mereka berdiskusi untuk merencanakan dialog yang akan mereka buat, menentukan tokoh, konteks, dan tingkatan bahasa yang sesuai.

Mengaplikasi: Setiap kelompok menyusun naskah dialog berdasarkan skenario yang diberikan, dengan fokus pada penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali yang tepat. Setelah naskah selesai, mereka berlatih mempraktikkan dialog tersebut, memperhatikan intonasi, ekspresi, dan kesantunan berbahasa. Guru berkeliling memberikan bimbingan dan koreksi jika diperlukan.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan atau mempraktikkan dialog mereka di depan kelas. Peserta didik lain dan guru memberikan umpan balik konstruktif terkait ketepatan penggunaan bahasa, kelancaran, dan kesantunan. Guru memberikan penguatan positif dan mengapresiasi usaha setiap kelompok dalam mempraktikkan Anggah Unggahing Basa Bali. Guru juga menunjuk beberapa siswa untuk memberikan refleksi singkat tentang pengalaman mereka.

Penutup: Peserta didik dan guru menyimpulkan pembelajaran tentang pentingnya praktik langsung dalam menguasai Anggah Unggahing Basa Bali. Guru memberikan apresiasi tinggi atas semua upaya dan penampilan peserta didik, memberikan motivasi untuk terus melestarikan bahasa dan budaya Bali. Guru memberikan informasi tentang asesmen akhir dan menutup kegiatan dengan doa dan semangat.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan analisis skenario, serta bimbingan saat menyusun dialog.

Akhir (sumatif): Penilaian performa praktik dialog dan ketepatan penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam naskah dialog.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali berdasarkan konteks penggunaannya.Jenis dan konteks Anggah Unggahing Basa Bali.2 JPpenalaran kritis
Menganalisis perbedaan penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam situasi formal dan informal.Analisis konteks formal dan informal Anggah Unggahing Basa Bali.2 JPpenalaran kritis, komunikasi
Menyusun dan mempraktikkan dialog sederhana menggunakan Anggah Unggahing Basa Bali yang tepat dan santun.Penyusunan dan praktik dialog Anggah Unggahing Basa Bali.2 JPkomunikasi, kewargaan

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Anggah Unggahing Basa Bali adalah sistem tingkatan bahasa dalam bahasa Bali yang menunjukkan kesantunan dan penghormatan. Memahami sistem ini sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif dan menghargai nilai-nilai budaya Bali. Modul ini akan membimbing Anda untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mempraktikkan penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam berbagai situasi.

Pengertian Anggah Unggahing Basa Bali

Anggah Unggahing Basa Bali, atau sering disebut sor singgih basa, adalah aturan penggunaan tingkatan bahasa dalam berkomunikasi di Bali. Sistem ini mengatur pemilihan kata dan struktur kalimat berdasarkan hubungan penutur dengan lawan bicara, status sosial, usia, dan situasi. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan rasa hormat, kesantunan, dan etika berbahasa. Pemahaman yang baik terhadap sistem ini menjadi cerminan kepribadian dan penghargaan terhadap budaya Bali.

Jenis-jenis Anggah Unggahing Basa Bali

Secara umum, Anggah Unggahing Basa Bali dibagi menjadi beberapa tingkatan utama. Yang paling sering dikenal adalah Basa Alus (tingkat halus), Basa Madia (tingkat menengah), dan Basa Kasar (tingkat kasar). Basa Alus sendiri masih terbagi lagi menjadi Basa Alus Singgih (sangat halus, untuk orang yang sangat dihormati), Basa Alus Mider (halus umum), dan Basa Alus Sor (halus merendah). Setiap tingkatan memiliki kosakata dan pola kalimat yang berbeda, yang harus dipilih sesuai konteks.

Konteks Penggunaan dalam Komunikasi

Pemilihan Anggah Unggahing Basa Bali sangat bergantung pada konteks komunikasi. Misalnya, Basa Alus Singgih digunakan ketika berbicara dengan pemuka agama, raja, atau orang yang sangat dihormati. Basa Alus Mider cocok digunakan dalam pertemuan formal atau dengan orang yang baru dikenal. Sementara itu, Basa Madia sering digunakan dalam percakapan sehari-hari yang lebih santai antar teman sebaya atau keluarga dekat, dan Basa Kasar dihindari kecuali dalam situasi yang sangat informal atau untuk mengekspresikan kemarahan.

Contoh Penerapan dalam Dialog

Untuk memahami lebih dalam, mari kita lihat contoh penerapannya. Jika kita ingin menyapa guru, kita akan menggunakan 'Suksma Bapak/Ibu guru' (terima kasih Bapak/Ibu guru) yang termasuk Basa Alus. Namun, jika menyapa teman sebaya, kita cukup mengatakan 'Suksma, bli/mbok' (terima kasih, kakak). Perbedaan ini menunjukkan bagaimana Anggah Unggahing Basa Bali mengatur interaksi sosial, memastikan kesantunan dan penghargaan tetap terjaga dalam setiap percakapan. Latihan praktik dialog akan memperkuat pemahaman ini.

Rangkuman: Anggah Unggahing Basa Bali adalah sistem tingkatan bahasa yang krusial dalam budaya Bali untuk menunjukkan kesantunan dan rasa hormat. Terdiri dari Basa Alus, Basa Madia, dan Basa Kasar, penggunaannya disesuaikan dengan konteks, status sosial, dan hubungan antar penutur. Menguasai sistem ini tidak hanya memperlancar komunikasi tetapi juga melestarikan warisan budaya dan etika berbahasa masyarakat Bali.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Menganalisis penggunaan Anggah Unggahing Basa Bali dalam berbagai konteks percakapan.

Alat & bahan: Teks dialog pendek, kartu skenario, alat tulis

  1. Baca dan pahami setiap teks dialog yang diberikan.
  2. Identifikasi tokoh-tokoh dalam dialog dan hubungan antar mereka.
  3. Tentukan jenis Anggah Unggahing Basa Bali yang digunakan dalam setiap percakapan.
  4. Berikan alasan mengapa tingkatan bahasa tersebut digunakan berdasarkan konteks.
  5. Tuliskan kesimpulan kelompok Anda mengenai pentingnya kesesuaian tingkatan bahasa.

8 Glosarium

Anggah UnggahTingkatan atau tata krama
Basa AlusBahasa halus/sopan
Basa MadiaBahasa menengah/biasa
Basa KasarBahasa kasar/tidak sopan
Sor Singgih BasaSistem tingkatan bahasa
Mitra TuturLawan bicara

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Bahasa Daerah Anggah Unggahing Basa Bali ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Daerah kelas X langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.