tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMAPrakarya dan Kewirausahaan › Perancangan produk kerajinan nusantara
SMA · Kelas XI · Fase F

Modul Ajar Prakarya dan Kewirausahaan Kelas XI
Perancangan produk kerajinan nusantara

Modul ajar Prakarya dan Kewirausahaan SMA kelas XI materi Perancangan produk kerajinan nusantara lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Prakarya dan Kewirausahaan kelas XI materi Perancangan produk kerajinan nusantara
Ringkasan: Perancangan produk kerajinan nusantara merupakan proses kreatif yang mengintegrasikan kekayaan budaya, inovasi, dan nilai ekonomi. Dimulai dari identifikasi potensi bahan dan teknik lokal, perumusan ide dan konsep, visualisasi melalui sketsa, hingga pembuatan prototype untuk uji coba. Pentingnya inovasi dan keberlanjutan ditekankan untuk menciptakan produk yang relevan, fungsional, estetis, dan memiliki daya saing di pasar global, sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa.
Model: Project Based Learning (PjBL) + praktikDimensi: kreativitas, kolaborasi, penalaran kritisWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISPrakarya dan Kewirausahaan · Perancangan produk kerajinan nusantara · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu mengidentifikasi potensi lokal dan global, merancang, memproduksi, serta memasarkan produk kerajinan berbasis kearifan lokal dengan inovasi dan nilai tambah, serta melakukan evaluasi dan pengembangan berkelanjutan.

Acuan: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Kompetensi awal: Peserta didik memahami jenis-jenis kerajinan nusantara dan memiliki dasar kemampuan menggambar atau membuat sketsa sederhana.

Pemahaman bermakna: Memahami bahwa perancangan produk kerajinan nusantara bukan hanya tentang menciptakan objek fisik, tetapi juga tentang melestarikan budaya, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Pertanyaan pemantik: Bagaimana kita bisa membuat kerajinan tradisional yang relevan dan menarik bagi generasi muda saat ini, tanpa menghilangkan identitas budayanya?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi potensi bahan dan teknik kerajinan nusantara di lingkungan sekitar dengan tepat.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, memimpin doa, dan mengecek kehadiran. Dilanjutkan dengan apersepsi melalui pertanyaan 'Apa saja kerajinan khas daerah kalian atau daerah lain yang kalian ketahui?'. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi potensi kerajinan lokal dan pertanyaan pemantik 'Bagaimana kerajinan tradisional bisa menjadi produk modern yang diminati?', memastikan peserta didik sadar akan tujuan dan proses belajarnya.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengeksplorasi berbagai jenis kerajinan nusantara melalui tayangan video, gambar, atau studi kasus. Mereka mengidentifikasi bahan, teknik, dan nilai filosofis di balik setiap kerajinan, mengaitkannya dengan potensi yang ada di daerah mereka atau daerah terdekat.

Mengaplikasi: Setiap kelompok membuat peta pikiran (mind map) atau daftar potensi bahan baku lokal (misal: bambu, rotan, tanah liat, limbah kain) dan teknik kerajinan tradisional (misal: anyam, ukir, batik, gerabah) yang bisa dikembangkan menjadi produk inovatif, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan keberlanjutan.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi potensi. Kelompok lain memberikan tanggapan dan umpan balik. Guru memberikan penguatan tentang kekayaan kerajinan nusantara dan pentingnya melestarikan serta mengembangkannya secara inovatif.

Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan potensi kerajinan nusantara yang telah diidentifikasi. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan memberikan tugas untuk mulai memikirkan ide produk kerajinan yang inovatif. Pertemuan ditutup dengan doa dan motivasi untuk pertemuan selanjutnya yang menggembirakan.

Pertemuan 2 — Problem Based Learning (PBL)

Tujuan: Merumuskan ide dan konsep perancangan produk kerajinan nusantara yang inovatif dan relevan dengan pasar.

Kegiatan awal: Guru membuka pembelajaran dengan salam dan doa, dilanjutkan dengan menanyakan kembali hasil identifikasi potensi dari pertemuan sebelumnya. Guru mengingatkan tujuan pembelajaran hari ini yaitu merumuskan ide dan konsep produk kerajinan. Guru mengajukan pertanyaan pemantik 'Bagaimana kita bisa mengubah potensi kerajinan menjadi produk yang punya nilai jual dan solusi bagi masalah tertentu?', agar peserta didik berkesadaran terhadap tujuan dan proses belajarnya.

Memahami: Peserta didik menerima tantangan studi kasus tentang masalah 'Bagaimana menciptakan produk kerajinan yang ramah lingkungan dan diminati remaja?'. Mereka menganalisis masalah, mengidentifikasi kebutuhan pasar, dan mencari inspirasi desain dari berbagai sumber (internet, majalah desain, pameran virtual), mengaitkannya dengan potensi bahan dan teknik yang telah diidentifikasi.

Mengaplikasi: Secara berkelompok, peserta didik berdiskusi untuk merumuskan ide dan konsep produk kerajinan nusantara yang inovatif, fungsional, dan memiliki nilai jual. Mereka membuat deskripsi konsep yang mencakup nama produk, target pasar, bahan utama, teknik yang digunakan, fungsi, keunikan, dan perkiraan biaya produksi sederhana.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan ide dan konsep produk mereka. Guru dan kelompok lain memberikan masukan konstruktif untuk penyempurnaan konsep. Guru menekankan pentingnya riset pasar dan inovasi dalam perancangan produk.

Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan pentingnya konsep yang matang dalam perancangan produk. Guru memberikan apresiasi dan memberikan tugas untuk mulai membuat sketsa awal berdasarkan konsep yang sudah disempurnakan. Pertemuan diakhiri dengan suasana yang membangun semangat dan motivasi.

Pertemuan 3 — Project Based Learning (PjBL)

Tujuan: Membuat sketsa dan prototype desain produk kerajinan nusantara sesuai dengan konsep yang telah dirumuskan dan mengevaluasi desain produk kerajinan nusantara berdasarkan kriteria fungsionalitas, estetika, dan keberlanjutan.

Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik dan mengajak mereka mengingat kembali konsep produk yang telah dirumuskan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu membuat sketsa, prototype, dan mengevaluasi desain. Guru memotivasi dengan 'Hari ini kita akan mewujudkan ide-ide brilian kalian menjadi bentuk nyata!', memastikan peserta didik bersemangat dan sadar akan tujuan serta proses belajarnya.

Memahami: Peserta didik mempelajari prinsip-prinsip dasar pembuatan sketsa dan prototype produk melalui contoh-contoh atau tutorial singkat. Mereka memahami pentingnya visualisasi desain dan bagaimana prototype dapat membantu menguji fungsionalitas dan estetika produk, mengaitkan dengan konsep yang sudah dibuat.

Mengaplikasi: Masing-masing kelompok mulai membuat sketsa detail dari produk kerajinan yang telah dirancang. Selanjutnya, mereka membuat prototype sederhana (misal: dari kertas, kardus, atau bahan daur ulang) yang merepresentasikan bentuk, ukuran, dan fitur utama produk. Mereka juga menyiapkan presentasi singkat tentang desain dan prototype mereka.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan sketsa dan prototype produknya. Guru dan kelompok lain melakukan evaluasi bersama berdasarkan kriteria fungsionalitas, estetika, inovasi, dan keberlanjutan. Peserta didik menerima umpan balik dan melakukan refleksi terhadap proses perancangan yang telah dilakukan.

Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan seluruh proses perancangan produk kerajinan nusantara. Guru memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas dan kerja keras peserta didik. Guru memberikan motivasi untuk terus berinovasi dan melestarikan budaya melalui kerajinan. Pertemuan ditutup dengan doa dan suasana yang penuh kebanggaan serta kegembiraan.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, perumusan ide, dan pembuatan sketsa/prototype.

Akhir (sumatif): Penilaian presentasi sketsa dan prototype produk kerajinan nusantara berdasarkan rubrik yang telah ditentukan.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi potensi bahan dan teknik kerajinan nusantaraIdentifikasi potensi lokal dan global dalam kerajinan2 JPPenalaran Kritis
Merumuskan ide dan konsep perancangan produk kerajinanEksplorasi ide dan perumusan konsep desain2 JPKreativitas
Membuat sketsa dan prototype desain produk kerajinanVisualisasi desain dan pembuatan model awal2 JPKolaborasi, Kreativitas

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Modul ini akan membimbing Anda dalam memahami dan menguasai proses perancangan produk kerajinan nusantara. Anda akan diajak untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia, mengembangkan ide-ide inovatif, hingga mampu menciptakan desain produk kerajinan yang tidak hanya indah tetapi juga fungsional dan memiliki nilai jual. Mari bersama melestarikan dan mengembangkan warisan adiluhung bangsa!

Mengenal Kerajinan Nusantara: Kekayaan Bahan dan Teknik

Indonesia kaya akan kerajinan tangan yang beragam, mulai dari batik, ukiran kayu, anyaman, gerabah, hingga tenun. Setiap daerah memiliki ciri khas bahan baku seperti bambu, rotan, kayu jati, tanah liat, hingga serat alam. Teknik yang digunakan pun bervariasi, seperti membatik, mengukir, menganyam, menenun, atau membentuk. Memahami potensi bahan dan teknik ini adalah langkah awal dalam merancang produk kerajinan. Misalnya, bambu dapat diolah menjadi berbagai produk anyaman atau furnitur, sedangkan tanah liat menjadi gerabah atau keramik artistik. Kekayaan ini menjadi modal utama untuk inovasi.

Proses Perancangan Produk Kerajinan: Dari Ide hingga Konsep

Perancangan produk kerajinan adalah sebuah proses sistematis yang dimulai dari identifikasi masalah atau kebutuhan. Ini melibatkan eksplorasi ide-ide kreatif, riset pasar untuk memahami target konsumen, hingga perumusan konsep yang matang. Konsep desain mencakup aspek fungsionalitas (kegunaan produk), estetika (keindahan), ergonomi (kenyamanan), dan keberlanjutan (dampak lingkungan). Contoh, jika merancang tas dari anyaman, konsepnya harus jelas: untuk siapa, digunakan kapan, bentuknya bagaimana, dan apa yang membuatnya unik dari tas anyaman lainnya.

Sketsa dan Prototype: Visualisasi dan Uji Coba Desain

Setelah konsep terbentuk, langkah selanjutnya adalah visualisasi melalui sketsa. Sketsa adalah gambaran awal produk dari berbagai sudut pandang yang membantu mengkomunikasikan ide secara visual. Kemudian, prototype dibuat sebagai model awal produk. Prototype bisa berupa model 2D (gambar detail) atau 3D (maket/model fisik sederhana) yang dibuat dari bahan murah seperti kardus atau kertas. Tujuannya adalah untuk menguji bentuk, ukuran, proporsi, dan fungsionalitas produk sebelum masuk ke tahap produksi sebenarnya. Ini membantu mengidentifikasi kekurangan dan melakukan perbaikan desain.

Aspek Inovasi dan Keberlanjutan dalam Desain Kerajinan

Inovasi dalam kerajinan nusantara berarti memberikan sentuhan baru pada produk tradisional, baik dari segi fungsi, bentuk, maupun bahan, agar tetap relevan dan diminati pasar modern. Misalnya, tas batik dengan desain minimalis atau lampu hias dari limbah kayu. Aspek keberlanjutan sangat penting, yaitu memastikan proses produksi dan bahan yang digunakan tidak merusak lingkungan serta mendukung ekonomi lokal. Memilih bahan ramah lingkungan, teknik produksi yang efisien, dan memberdayakan pengrajin lokal adalah contoh praktik keberlanjutan dalam perancangan produk kerajinan.

Rangkuman: Perancangan produk kerajinan nusantara merupakan proses kreatif yang mengintegrasikan kekayaan budaya, inovasi, dan nilai ekonomi. Dimulai dari identifikasi potensi bahan dan teknik lokal, perumusan ide dan konsep, visualisasi melalui sketsa, hingga pembuatan prototype untuk uji coba. Pentingnya inovasi dan keberlanjutan ditekankan untuk menciptakan produk yang relevan, fungsional, estetis, dan memiliki daya saing di pasar global, sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Mengembangkan ide dan membuat sketsa awal produk kerajinan nusantara yang inovatif.

Alat & bahan: Kertas gambar, pensil, penghapus, spidol warna, penggaris, referensi gambar kerajinan nusantara (cetak/digital)

  1. Identifikasi 3 potensi bahan dan 2 teknik kerajinan nusantara yang menarik minat kelompok Anda.
  2. Diskusikan masalah atau kebutuhan di sekitar Anda yang dapat diselesaikan dengan produk kerajinan.
  3. Rumuskan minimal 2 ide produk kerajinan yang inovatif, fungsional, dan memiliki nilai jual, berdasarkan identifikasi potensi dan masalah.
  4. Pilih 1 ide terbaik dan buatlah sketsa awal produk dari berbagai sudut pandang (tampak depan, samping, atas).
  5. Berikan deskripsi singkat tentang nama produk, bahan, teknik, fungsi, dan keunikan produk Anda.

8 Glosarium

PrototypeModel awal atau contoh produk yang dibuat untuk menguji konsep dan desain.
ErgonomiIlmu yang mempelajari interaksi manusia dengan elemen lain dari suatu sistem, dengan menerapkan teori, prinsip, data, dan metode untuk merancang agar optimal.
Kearifan LokalNilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat.
FungsionalitasKemampuan suatu produk untuk menjalankan fungsi atau kegunaannya dengan baik.

9 Materi Prakarya dan Kewirausahaan Terkait

Perencanaan Usaha KerajinanPrakarya dan Kewirausahaan Kelas XII SMA
Pelajari Perencanaan Usaha Kerajinan →
Kerajinan Inspirasi Budaya LokalPrakarya dan Kewirausahaan Kelas X SMA
Pelajari Kerajinan Inspirasi Budaya Lokal →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Prakarya dan Kewirausahaan Perancangan produk kerajinan nusantara ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Prakarya dan Kewirausahaan kelas XI langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.