Modul Ajar & RPP Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X
Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK)
Sudah jadi 11 lembar, tinggal tulis nama Anda ✍️
🎁 100% GRATIS · unduh Word + PDF tanpa bayar
Gratis 3 modul, tanpa bayar apa pun.
TERBARUTP 2026/2027Rumus 8-3-3-4Pembelajaran Mendalam
- 8Dimensi Profil Lulusan: keimanan & ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi
- 3Prinsip Pembelajaran: berkesadaran, bermakna, menggembirakan
- 3Pengalaman Belajar: memahami, mengaplikasi, merefleksi
- 4Kerangka Pembelajaran: praktik pedagogis, kemitraan, lingkungan, pemanfaatan digital
📜 Dasar: Permendikdasmen 13/2025 · Standar Proses 1/2026 · CP 046/H/KR/2025 jo. 020/2026
“Dulu lama menyusun modul — dengan sistem ini tinggal klik, jadi.”
Isi modul ini
Di bawah ini 11 lembar A4 pertama, persis seperti yang terunduh. Nama & tema yang Anda pilih di atas sudah terpasang.


| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan |
| Fase / Kelas | E / X |
| Materi Pokok | Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) |
| Alokasi Waktu | 2 pertemuan |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Pendekatan | Pembelajaran Mendalam |
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Identifikasi Peserta Didik:
| Kesiapan belajar (kompetensi awal) | Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang jenis-jenis hutan dan manfaatnya secara umum. |
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan:
- Penalaran kritis — mengolah informasi, menganalisis, dan menarik simpulan secara logis
- Kolaborasi — bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama
- Kreativitas — menghasilkan gagasan dan karya yang orisinal serta bermanfaat
🔒 Elemen tiap dimensi beserta wujudnya pada materi ini tersedia di Paket Lengkap.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Kurikulum Merdeka |
| Elemen / Domain | Proses Bisnis Menyeluruh Bidang Kehutanan |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu memahami proses bisnis menyeluruh bidang kehutanan, termasuk identifikasi dan pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta potensi dampaknya terhadap keberlanjutan sumber daya hutan. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Hutan Indonesia menghasilkan beragam jenis kayu seperti meranti dan jati, serta hasil hutan bukan kayu seperti rotan, madu, dan getah pinus. |
| Konseptual | Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu melibatkan serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pemanenan, pengolahan, hingga pemasaran dengan prinsip keberlanjutan. |
| Prosedural | Peserta didik akan mempelajari langkah-langkah identifikasi jenis HHBK, teknik pemanenan yang lestari, serta metode pengolahan awal HHBK. |
| Metakognitif | Peserta didik akan menyadari pentingnya berpikir kritis dalam memilih metode pengelolaan HHBK yang paling efektif dan berkelanjutan untuk masyarakat dan lingkungan. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi jenis-jenis hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) beserta karakteristiknya dengan tepat.
- Menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK yang berkelanjutan berdasarkan regulasi yang berlaku.
- Menganalisis potensi dan tantangan dalam pengelolaan HHBK di Indonesia.
- Merancang rencana sederhana pengelolaan HHBK yang berkelanjutan di lingkungan sekitar atau studi kasus.
Pemahaman bermakna: Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu secara berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang bertanggung jawab.
Pertanyaan pemantik: "Bagaimana kita bisa memanfaatkan kekayaan hutan tanpa merusaknya, dan bahkan menjadikannya sumber penghidupan yang lestari?"
| Praktik Pedagogis | Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Lintas Disiplin Ilmu | Ekonomi Bisnis: Mempelajari potensi pasar, rantai pasok, dan nilai tambah dari produk HHBK. Kimia Industri: Memahami proses pengolahan awal HHBK seperti destilasi getah pinus atau ekstraksi minyak atsiri. Sosiologi: Menganalisis peran masyarakat adat dan kearifan lokal dalam pengelolaan HHBK secara tradisional. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua atau tokoh masyarakat yang bekerja di sektor kehutanan atau memiliki kebun HHBK dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan praktis kepada peserta didik. |
| Lingkungan Pembelajaran | Kelas diatur agar kondusif untuk diskusi kelompok dan presentasi, serta memungkinkan akses ke taman sekolah atau area hijau untuk observasi HHBK sederhana bila memungkinkan. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Peserta didik menggunakan internet untuk riset jenis HHBK, regulasi kehutanan, dan contoh praktik pengelolaan berkelanjutan, serta memanfaatkan aplikasi presentasi atau desain grafis untuk membuat infografis/poster proyek. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi jenis-jenis hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) beserta karakteristiknya dengan tepat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Peserta didik menyambut salam guru, berdoa bersama, dan melakukan presensi. Guru memulai apersepsi dengan menampilkan gambar atau video hutan dan hasil-hasilnya, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik: 'Apa saja yang bisa dihasilkan dari hutan selain kayu?' |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Peserta didik secara berkelompok mengamati berbagai sampel atau gambar hasil hutan kayu dan bukan kayu (misal: potongan kayu, rotan, madu, getah pinus). Mereka berdiskusi untuk mengidentifikasi jenis, karakteristik, dan potensi manfaat dari setiap sampel. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi tabel untuk mengklasifikasikan HHBK berdasarkan jenis, ciri-ciri fisik, dan kegunaan. Mereka juga mencari informasi tambahan dari sumber digital yang relevan. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi mereka. Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep tentang keragaman HHBK dan pentingnya identifikasi yang tepat. Guru juga mengaitkan dengan potensi ekonomi lokal. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Peserta didik bersama guru menyimpulkan jenis-jenis HHBK. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik dan memberikan tugas untuk mencari tahu regulasi terkait pemanfaatan HHBK di Indonesia sebagai persiapan pertemuan berikutnya. Kegiatan ditutup dengan doa dan salam. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Problem-Based Learning (PBL) |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK yang berkelanjutan berdasarkan regulasi yang berlaku dan menganalisis potensi serta tantangannya. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Peserta didik menyambut salam guru, berdoa, dan presensi. Guru mengulas materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan pentingnya pengelolaan berkelanjutan. Guru menyajikan studi kasus singkat tentang pemanfaatan HHBK yang tidak lestari dan dampaknya, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Peserta didik dalam kelompok menganalisis studi kasus yang diberikan, mengidentifikasi masalah dan dampak yang terjadi. Mereka juga mendalami regulasi terkait pengelolaan HHBK (misal: perizinan, kuota panen) yang telah ditugaskan sebelumnya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok berdiskusi untuk merumuskan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK yang berkelanjutan berdasarkan studi kasus dan regulasi yang ada. Mereka juga mengidentifikasi potensi ekonomi dan tantangan (misal: perambahan, kebakaran hutan) dalam pengelolaan HHBK di Indonesia. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Kelompok mempresentasikan hasil analisis dan rumusan prinsip pengelolaan berkelanjutan. Guru memfasilitasi diskusi kelas, mengoreksi miskonsepsi, dan memberikan penguatan tentang pentingnya keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengelolaan HHBK. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Peserta didik bersama guru menyimpulkan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK berkelanjutan. Guru memberikan motivasi dan menginformasikan bahwa di pertemuan selanjutnya peserta didik akan merancang rencana pengelolaan sederhana. Kegiatan ditutup dengan apresiasi dan doa. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) berdasarkan karakteristik dan kegunaannya.
Alat & bahan: Sampel atau gambar HHBK (potongan kayu, rotan, madu, getah pinus), alat tulis, laptop/tablet (opsional)
Langkah kerja:
- Amati dengan seksama setiap sampel atau gambar HHBK yang disediakan.
- Identifikasi nama jenis HHBK tersebut (jika diketahui) atau ciri-ciri fisiknya.
- Diskusikan dalam kelompok mengenai karakteristik unik dari setiap HHBK.
- Tuliskan kegunaan atau manfaat dari masing-masing HHBK.
- Lengkapi tabel klasifikasi HHBK berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apa yang kamu ketahui tentang hutan?
- Sebutkan beberapa hasil hutan yang kamu tahu!
- Menurutmu, apakah semua hasil hutan itu kayu?
- Bagaimana cara kita menjaga agar hutan tetap lestari?
Formatif (proses): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan kelengkapan pengisian LKPD.
Sumatif (akhir): Penilaian proyek rencana pengelolaan HHBK berkelanjutan yang dibuat oleh peserta didik.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — rubrik ada di berkas unduhan, kunci jawaban khusus member Paket Lengkap.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi jenis-jenis HHBK beserta karakteristiknya. | Identifikasi HHBK (kayu & bukan kayu), ciri, dan kegunaan. | 2 JP | Penalaran Kritis |
| 2 | Menjelaskan prinsip pengelolaan HHBK berkelanjutan dan menganalisis potensi/tantangan. | Prinsip pengelolaan berkelanjutan, regulasi, potensi & tantangan HHBK. | 2 JP | Penalaran Kritis, Kolaborasi |
| 3 | Merancang rencana sederhana pengelolaan HHBK berkelanjutan. | Perancangan rencana pengelolaan HHBK (pemilihan, metode, pengolahan, pemasaran). | 2 JP | Kreativitas, Kolaborasi, Penalaran Kritis |
Hutan adalah anugerah tak ternilai dengan beragam hasil yang melimpah. Selain kayu, hutan juga menghasilkan berbagai produk lain yang tak kalah penting, sering disebut Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Memahami dan mengelola HHBK secara bijak adalah kunci untuk menjaga kelestarian hutan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Mari kita selami lebih dalam dunia pengelolaan hasil hutan yang kaya ini.
1. Pengertian Hasil Hutan Kayu (HHK)
Hasil Hutan Kayu (HHK) adalah bagian dari pohon di hutan yang dimanfaatkan terutama untuk bahan bangunan, furnitur, kertas, atau energi. Kayu memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung jenis pohonnya, seperti kepadatan, kekuatan, warna, dan tekstur. Contoh HHK meliputi kayu jati, meranti, ulin, dan sengon. Pemanfaatan HHK harus mengikuti aturan yang ketat untuk mencegah deforestasi dan kerusakan lingkungan, seperti sistem tebang pilih atau tebang tanam.
2. Pengertian Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah semua hasil hutan hayati maupun non-hayati selain kayu, yang berasal dari hutan. HHBK memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat lokal dan ekonomi nasional. Contoh HHBK sangat beragam, mulai dari bahan pangan, obat-obatan, kosmetik, hingga bahan baku industri. Pemanfaatannya seringkali lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan penebangan pohon secara besar-besaran, namun tetap perlu dikelola dengan prinsip keberlanjutan.
3. Jenis-jenis HHBK
HHBK dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Pertama, hasil hutan nabati seperti rotan, bambu, getah (damar, pinus), madu, buah-buahan hutan, jamur, serta tanaman obat. Kedua, hasil hutan hewani seperti sarang burung walet, telur penyu (dengan izin khusus), dan serangga tertentu. Ketiga, hasil hutan jasa lingkungan seperti air bersih, udara segar, keindahan alam untuk ekowisata, dan penyerapan karbon. Setiap jenis memiliki karakteristik dan cara pemanenan yang unik.
4. Prinsip Pengelolaan HHBK Berkelanjutan
Pengelolaan HHBK berkelanjutan berarti memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tanpa mengurangi potensi reproduksi atau ketersediaannya di masa depan, serta menjaga fungsi ekologis hutan. Prinsip ini mencakup aspek ekologi (menjaga keanekaragaman hayati), sosial (memperhatikan hak masyarakat adat dan lokal), dan ekonomi (memberikan manfaat ekonomi yang adil). Pemanenan harus selektif, tidak merusak, dan disertai dengan upaya konservasi serta rehabilitasi.
5. Potensi Ekonomi HHBK di Indonesia
Indonesia memiliki potensi HHBK yang sangat besar dan beragam, mulai dari rotan sebagai bahan furnitur, madu hutan sebagai produk pangan dan kesehatan, hingga getah pinus untuk industri cat dan kosmetik. Pemanfaatan HHBK dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat sekitar hutan, mengurangi ketergantungan pada kayu, dan mendorong pengembangan industri berbasis bioresources. Pengembangan HHBK juga mendukung ekonomi hijau dan sirkular.
6. Tantangan dalam Pengelolaan HHBK
Meskipun potensinya besar, pengelolaan HHBK di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi kurangnya data inventarisasi HHBK yang komprehensif, praktik pemanenan yang belum lestari, rendahnya nilai tambah produk karena minimnya pengolahan, akses pasar yang terbatas, serta konflik tenurial dengan masyarakat adat. Selain itu, ancaman deforestasi dan perubahan iklim juga berdampak pada ketersediaan HHBK.
7. Regulasi dan Kebijakan HHBK
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai regulasi dan kebijakan untuk mendukung pengelolaan HHBK yang berkelanjutan. Ini termasuk Undang-Undang Kehutanan, Peraturan Pemerintah tentang Pemanfaatan Hutan, serta kebijakan yang mengatur perizinan pemanenan, pengolahan, dan perdagangan HHBK. Tujuan regulasi ini adalah untuk memastikan pemanfaatan HHBK dilakukan secara legal, lestari, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat.
8. Teknik Pemanenan dan Pengolahan Awal HHBK
Setiap jenis HHBK memerlukan teknik pemanenan yang spesifik agar tidak merusak sumber daya. Misalnya, pemanenan madu hutan harus memperhatikan kelestarian koloni lebah, rotan dipanen pada umur yang tepat, dan getah disadap tanpa melukai pohon secara permanen. Pengolahan awal HHBK bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya simpan, seperti pengeringan rotan, penyaringan madu, atau pembersihan getah. Ini juga menjadi langkah awal peningkatan nilai tambah produk.
Rangkuman: Pengelolaan hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan aspek krusial dalam keberlanjutan sektor kehutanan. HHK seperti jati dan meranti dimanfaatkan untuk konstruksi, sementara HHBK meliputi beragam produk seperti rotan, madu, dan getah. Pengelolaan harus berpegang pada prinsip keberlanjutan yang mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi, didukung oleh regulasi pemerintah. Tantangan dan potensi HHBK perlu dipahami untuk mengembangkan industri kehutanan yang bertanggung jawab dan lestari.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| HHBK | Hasil Hutan Bukan Kayu |
| HHK | Hasil Hutan Kayu |
| Lestari | Berkelanjutan, tidak merusak sumber daya untuk masa depan |
| Deforestasi | Penggundulan hutan secara besar-besaran |
| Ekowisata | Wisata alam yang berwawasan lingkungan |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK)" mata pelajaran Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Pembelajaran Mendalam) · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses) · CP: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025
Bukan Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) yang Anda cari? Materi Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X lainnya:
Materi Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Terkait
Isu-isu Global di Bidang KehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMKPerkembangan Teknologi di Bidang KehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMKProses bisnis secara menyeluruh di bidang kehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMKRantai pasok produk kehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMKPertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ini modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas 10 yang saya cari?
Kemungkinan besar ya. Kelas X dan kelas 10 adalah kelas yang sama — yang satu ditulis angka Romawi seperti di dokumen resmi, yang satu angka biasa. Berkas ini perangkat ajar untuk materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) pada Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan SMK, Fase E, elemen Proses Bisnis Menyeluruh Bidang Kehutanan.
Modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini untuk semester 1 (ganjil) atau semester 2 (genap)?
Mengikuti program semester sekolah Anda. Pilih Semester 1 atau 2 saat mengunduh; pilihan itu tercetak di lembar identitas modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) untuk Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X.
Apakah modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini gratis?
Ya. Modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) untuk kelas X SMK dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 18 jam.
Bagaimana cara download modul ajar Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini dalam Word (.docx) dan PDF?
Ketuk tombol unduh, isi nama dan sekolah, lalu buka dengan email atau Google dan nomor WhatsApp aktif. Berkas Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X ini turun sebagai Word (.docx) yang bisa diedit dan PDF siap cetak, tanpa iklan dan tanpa tautan Drive.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X langsung tersusun atas nama Anda.
Bisakah modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) dapat Anda sesuaikan dengan murid Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
Apakah modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Kurikulum Merdeka, pada Fase E untuk kelas X SMK. Profil Pelajar Pancasila (P5) kini dilanjutkan sebagai 8 Dimensi Profil Lulusan; dimensi yang dikembangkan materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) tercantum di lembar identitasnya.
Ini modul ajar, RPP, atau RPM deep learning?
Ketiganya berkas yang sama. Sampulnya memang bertanda Deep Learning · Pembelajaran Mendalam, dan sebagian guru menyebutnya RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam). Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) untuk Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Apakah ada soal, kisi-kisi, dan rubrik KKTP-nya?
Ada. Modul Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini memuat bank soalnya sendiri — 6 pilihan ganda dan 5 uraian (kunci jawabannya khusus member Paket Lengkap), ditambah rubrik KKTP pada bagian asesmennya. Yang belum termasuk: paket soal satu semester penuh Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X SMK berikut kisi-kisi dan kartu soalnya — Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS/PTS) dan Akhir Semester (ASAS/PAS). Penjelasannya ada di halaman Kisi-Kisi & ASAS.
Apakah Kaldik, Prota, dan Promes (Program Semester) ikut di unduhan gratis?
Tidak. Unduhan gratis berisi modul ajar Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) beserta ATP, LKPD, asesmen, dan bank soalnya. Perangkat pembelajaran pelengkap Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X berupa Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes/Prosem) ber-kop sekolah tersedia lewat Paket Modul — bersama Kalender Pendidikan (libur nasional & cuti bersama resmi SKB 3 Menteri sudah tercantum) dan Alokasi Waktu yang menghitung minggu efektifnya otomatis.
Modul Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan ini cocok untuk SMK negeri maupun swasta?
Ya. Kop, logo, dan nama SMK Anda dipasang otomatis, negeri maupun swasta; sekolah berciri (Muhammadiyah, NU, Islam Terpadu) mendapat kop dan mapel khasnya sendiri saat mengisi borang. Materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) disusun untuk SMK dari kurikulum yang sama.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.