tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMKDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan › Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK)
SMK · Kelas X · Fase E

Modul Ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X
Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK)

Modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan SMK kelas X materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Kurikulum Merdeka. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X materi Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK)
Ringkasan: Pengelolaan hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan aspek krusial dalam keberlanjutan sektor kehutanan. HHK seperti jati dan meranti dimanfaatkan untuk konstruksi, sementara HHBK meliputi beragam produk seperti rotan, madu, dan getah. Pengelolaan harus berpegang pada prinsip keberlanjutan yang mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi, didukung oleh regulasi pemerintah. Tantangan dan potensi HHBK perlu dipahami untuk mengembangkan industri kehutanan yang bertanggung jawab dan lestari.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + praktikDimensi: penalaran kritis, kolaborasi, kreativitasWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan · Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu memahami proses bisnis menyeluruh bidang kehutanan, termasuk identifikasi dan pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta potensi dampaknya terhadap keberlanjutan sumber daya hutan.

Acuan: Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Kurikulum Merdeka

Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang jenis-jenis hutan dan manfaatnya secara umum.

Pemahaman bermakna: Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu secara berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang bertanggung jawab.

Pertanyaan pemantik: Bagaimana kita bisa memanfaatkan kekayaan hutan tanpa merusaknya, dan bahkan menjadikannya sumber penghidupan yang lestari?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi jenis-jenis hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) beserta karakteristiknya dengan tepat.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut salam guru, berdoa bersama, dan melakukan presensi. Guru memulai apersepsi dengan menampilkan gambar atau video hutan dan hasil-hasilnya, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik: 'Apa saja yang bisa dihasilkan dari hutan selain kayu?'

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengamati berbagai sampel atau gambar hasil hutan kayu dan bukan kayu (misal: potongan kayu, rotan, madu, getah pinus). Mereka berdiskusi untuk mengidentifikasi jenis, karakteristik, dan potensi manfaat dari setiap sampel.

Mengaplikasi: Setiap kelompok mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi tabel untuk mengklasifikasikan HHBK berdasarkan jenis, ciri-ciri fisik, dan kegunaan. Mereka juga mencari informasi tambahan dari sumber digital yang relevan.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi mereka. Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep tentang keragaman HHBK dan pentingnya identifikasi yang tepat. Guru juga mengaitkan dengan potensi ekonomi lokal.

Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan jenis-jenis HHBK. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik dan memberikan tugas untuk mencari tahu regulasi terkait pemanfaatan HHBK di Indonesia sebagai persiapan pertemuan berikutnya. Kegiatan ditutup dengan doa dan salam.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning (PBL)

Tujuan: Menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK yang berkelanjutan berdasarkan regulasi yang berlaku dan menganalisis potensi serta tantangannya.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut salam guru, berdoa, dan presensi. Guru mengulas materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan pentingnya pengelolaan berkelanjutan. Guru menyajikan studi kasus singkat tentang pemanfaatan HHBK yang tidak lestari dan dampaknya, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.

Memahami: Peserta didik dalam kelompok menganalisis studi kasus yang diberikan, mengidentifikasi masalah dan dampak yang terjadi. Mereka juga mendalami regulasi terkait pengelolaan HHBK (misal: perizinan, kuota panen) yang telah ditugaskan sebelumnya.

Mengaplikasi: Setiap kelompok berdiskusi untuk merumuskan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK yang berkelanjutan berdasarkan studi kasus dan regulasi yang ada. Mereka juga mengidentifikasi potensi ekonomi dan tantangan (misal: perambahan, kebakaran hutan) dalam pengelolaan HHBK di Indonesia.

Merefleksi: Kelompok mempresentasikan hasil analisis dan rumusan prinsip pengelolaan berkelanjutan. Guru memfasilitasi diskusi kelas, mengoreksi miskonsepsi, dan memberikan penguatan tentang pentingnya keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengelolaan HHBK.

Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan prinsip-prinsip pengelolaan HHBK berkelanjutan. Guru memberikan motivasi dan menginformasikan bahwa di pertemuan selanjutnya peserta didik akan merancang rencana pengelolaan sederhana. Kegiatan ditutup dengan apresiasi dan doa.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning (PjBL)

Tujuan: Merancang rencana sederhana pengelolaan HHBK yang berkelanjutan di lingkungan sekitar atau studi kasus.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut salam guru, berdoa, dan presensi. Guru mengingatkan kembali materi sebelumnya dan menyampaikan bahwa hari ini mereka akan menerapkan pengetahuan tersebut dalam sebuah proyek. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan tahapan proyek yang akan dilakukan.

Memahami: Peserta didik secara individu atau berpasangan memilih satu jenis HHBK (kayu atau bukan kayu) yang potensial di lingkungan sekitar atau dalam studi kasus yang diminati. Mereka melakukan riset singkat tentang HHBK tersebut, termasuk cara pemanenan, pengolahan, dan pemasaran.

Mengaplikasi: Peserta didik merancang sebuah rencana sederhana pengelolaan HHBK yang berkelanjutan. Rencana ini mencakup identifikasi HHBK, metode pemanenan lestari, pengolahan awal, serta potensi pemasaran dan dampak lingkungan/sosial. Rencana dapat disajikan dalam bentuk infografis, poster, atau presentasi singkat.

Merefleksi: Peserta didik mempresentasikan rencana pengelolaan HHBK mereka. Guru dan teman sekelas memberikan umpan balik konstruktif. Guru memberikan penilaian terhadap proyek dan memberikan penguatan tentang pentingnya inovasi dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya hutan.

Penutup: Peserta didik bersama guru merefleksikan seluruh proses pembelajaran dari pertemuan pertama hingga ketiga. Guru memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas dan usaha peserta didik, serta mendorong mereka untuk terus mengembangkan minat di bidang kehutanan. Kegiatan ditutup dengan doa dan harapan agar ilmu yang didapat bermanfaat.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan kelengkapan pengisian LKPD.

Akhir (sumatif): Penilaian proyek rencana pengelolaan HHBK berkelanjutan yang dibuat oleh peserta didik.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi jenis-jenis HHBK beserta karakteristiknya.Identifikasi HHBK (kayu & bukan kayu), ciri, dan kegunaan.2 JPPenalaran Kritis
Menjelaskan prinsip pengelolaan HHBK berkelanjutan dan menganalisis potensi/tantangan.Prinsip pengelolaan berkelanjutan, regulasi, potensi & tantangan HHBK.2 JPPenalaran Kritis, Kolaborasi
Merancang rencana sederhana pengelolaan HHBK berkelanjutan.Perancangan rencana pengelolaan HHBK (pemilihan, metode, pengolahan, pemasaran).2 JPKreativitas, Kolaborasi, Penalaran Kritis

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Hutan adalah anugerah tak ternilai dengan beragam hasil yang melimpah. Selain kayu, hutan juga menghasilkan berbagai produk lain yang tak kalah penting, sering disebut Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Memahami dan mengelola HHBK secara bijak adalah kunci untuk menjaga kelestarian hutan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Mari kita selami lebih dalam dunia pengelolaan hasil hutan yang kaya ini.

Pengertian Hasil Hutan Kayu (HHK)

Hasil Hutan Kayu (HHK) adalah bagian dari pohon di hutan yang dimanfaatkan terutama untuk bahan bangunan, furnitur, kertas, atau energi. Kayu memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung jenis pohonnya, seperti kepadatan, kekuatan, warna, dan tekstur. Contoh HHK meliputi kayu jati, meranti, ulin, dan sengon. Pemanfaatan HHK harus mengikuti aturan yang ketat untuk mencegah deforestasi dan kerusakan lingkungan, seperti sistem tebang pilih atau tebang tanam.

Pengertian Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah semua hasil hutan hayati maupun non-hayati selain kayu, yang berasal dari hutan. HHBK memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat lokal dan ekonomi nasional. Contoh HHBK sangat beragam, mulai dari bahan pangan, obat-obatan, kosmetik, hingga bahan baku industri. Pemanfaatannya seringkali lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan penebangan pohon secara besar-besaran, namun tetap perlu dikelola dengan prinsip keberlanjutan.

Jenis-jenis HHBK

HHBK dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Pertama, hasil hutan nabati seperti rotan, bambu, getah (damar, pinus), madu, buah-buahan hutan, jamur, serta tanaman obat. Kedua, hasil hutan hewani seperti sarang burung walet, telur penyu (dengan izin khusus), dan serangga tertentu. Ketiga, hasil hutan jasa lingkungan seperti air bersih, udara segar, keindahan alam untuk ekowisata, dan penyerapan karbon. Setiap jenis memiliki karakteristik dan cara pemanenan yang unik.

Prinsip Pengelolaan HHBK Berkelanjutan

Pengelolaan HHBK berkelanjutan berarti memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tanpa mengurangi potensi reproduksi atau ketersediaannya di masa depan, serta menjaga fungsi ekologis hutan. Prinsip ini mencakup aspek ekologi (menjaga keanekaragaman hayati), sosial (memperhatikan hak masyarakat adat dan lokal), dan ekonomi (memberikan manfaat ekonomi yang adil). Pemanenan harus selektif, tidak merusak, dan disertai dengan upaya konservasi serta rehabilitasi.

Potensi Ekonomi HHBK di Indonesia

Indonesia memiliki potensi HHBK yang sangat besar dan beragam, mulai dari rotan sebagai bahan furnitur, madu hutan sebagai produk pangan dan kesehatan, hingga getah pinus untuk industri cat dan kosmetik. Pemanfaatan HHBK dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat sekitar hutan, mengurangi ketergantungan pada kayu, dan mendorong pengembangan industri berbasis bioresources. Pengembangan HHBK juga mendukung ekonomi hijau dan sirkular.

Tantangan dalam Pengelolaan HHBK

Meskipun potensinya besar, pengelolaan HHBK di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi kurangnya data inventarisasi HHBK yang komprehensif, praktik pemanenan yang belum lestari, rendahnya nilai tambah produk karena minimnya pengolahan, akses pasar yang terbatas, serta konflik tenurial dengan masyarakat adat. Selain itu, ancaman deforestasi dan perubahan iklim juga berdampak pada ketersediaan HHBK.

Regulasi dan Kebijakan HHBK

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai regulasi dan kebijakan untuk mendukung pengelolaan HHBK yang berkelanjutan. Ini termasuk Undang-Undang Kehutanan, Peraturan Pemerintah tentang Pemanfaatan Hutan, serta kebijakan yang mengatur perizinan pemanenan, pengolahan, dan perdagangan HHBK. Tujuan regulasi ini adalah untuk memastikan pemanfaatan HHBK dilakukan secara legal, lestari, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat.

Teknik Pemanenan dan Pengolahan Awal HHBK

Setiap jenis HHBK memerlukan teknik pemanenan yang spesifik agar tidak merusak sumber daya. Misalnya, pemanenan madu hutan harus memperhatikan kelestarian koloni lebah, rotan dipanen pada umur yang tepat, dan getah disadap tanpa melukai pohon secara permanen. Pengolahan awal HHBK bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya simpan, seperti pengeringan rotan, penyaringan madu, atau pembersihan getah. Ini juga menjadi langkah awal peningkatan nilai tambah produk.

Rangkuman: Pengelolaan hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan aspek krusial dalam keberlanjutan sektor kehutanan. HHK seperti jati dan meranti dimanfaatkan untuk konstruksi, sementara HHBK meliputi beragam produk seperti rotan, madu, dan getah. Pengelolaan harus berpegang pada prinsip keberlanjutan yang mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi, didukung oleh regulasi pemerintah. Tantangan dan potensi HHBK perlu dipahami untuk mengembangkan industri kehutanan yang bertanggung jawab dan lestari.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) berdasarkan karakteristik dan kegunaannya.

Alat & bahan: Sampel atau gambar HHBK (potongan kayu, rotan, madu, getah pinus), alat tulis, laptop/tablet (opsional)

  1. Amati dengan seksama setiap sampel atau gambar HHBK yang disediakan.
  2. Identifikasi nama jenis HHBK tersebut (jika diketahui) atau ciri-ciri fisiknya.
  3. Diskusikan dalam kelompok mengenai karakteristik unik dari setiap HHBK.
  4. Tuliskan kegunaan atau manfaat dari masing-masing HHBK.
  5. Lengkapi tabel klasifikasi HHBK berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi.

8 Glosarium

HHBKHasil Hutan Bukan Kayu
HHKHasil Hutan Kayu
LestariBerkelanjutan, tidak merusak sumber daya untuk masa depan
DeforestasiPenggundulan hutan secara besar-besaran
EkowisataWisata alam yang berwawasan lingkungan

9 Materi Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Terkait

Isu-isu Global di Bidang KehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMK
Pelajari Isu-isu Global di Bidang Kehutanan →
Perkembangan Teknologi di Bidang KehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMK
Pelajari Perkembangan Teknologi di Bidang Kehutanan →
Proses bisnis secara menyeluruh di bidang kehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMK
Pelajari Proses bisnis secara menyeluruh di bidang kehutanan →
Rantai pasok produk kehutananDasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Kelas X SMK
Pelajari Rantai pasok produk kehutanan →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan Pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu (HHBK) ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Dasar-dasar Program Keahlian Kehutanan kelas X langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Kurikulum Merdeka.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.