tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMPPendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti › Iman Kepada Allah
SMP · Kelas VII · Fase D

Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII
Iman Kepada Allah

Modul ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP kelas VII materi Iman Kepada Allah lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VII materi Iman Kepada Allah
Ringkasan: Iman kepada Allah adalah keyakinan hati, lisan, dan perbuatan terhadap keberadaan, keesaan, dan sifat-sifat sempurna-Nya. Dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) serta dalil aqli (akal dan alam semesta) menguatkan keimanan ini. Asmaul Husna seperti Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', dan Al-Bashir mengajarkan kita tentang kesempurnaan Allah dan menjadi pedoman dalam membentuk perilaku mulia, mendorong kita untuk selalu berhati-hati dan berbuat baik.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + PraktikDimensi: keimanan dan ketakwaan, penalaran kritis, kreativitasWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISPendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti · Iman Kepada Allah · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Kompetensi awal: Peserta didik mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan memiliki sifat-sifat sempurna.

Pemahaman bermakna: Memahami dan mengimani Allah SWT secara mendalam akan menumbuhkan ketenangan jiwa, motivasi beribadah, dan kesadaran untuk selalu berbuat baik dalam setiap aspek kehidupan, karena meyakini bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Pertanyaan pemantik: Bagaimana kita bisa yakin bahwa ada kekuatan Maha Besar yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini, meskipun kita tidak bisa melihat-Nya secara langsung?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Menganalisis makna iman kepada Allah SWT dengan benar dan mengidentifikasi dalil naqli serta aqli tentang keberadaan Allah SWT dengan tepat.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, memimpin doa, mengecek kehadiran, melakukan apersepsi dengan menanyakan 'Apa yang kalian rasakan saat melihat pemandangan alam?', menyampaikan tujuan pembelajaran, dan memantik diskusi dengan pertanyaan 'Bagaimana kita bisa yakin bahwa ada kekuatan Maha Besar yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini?'

Memahami: Peserta didik mengamati video/gambar keindahan alam semesta dan berdiskusi tentang kebesaran pencipta-Nya. Kemudian, mereka secara berkelompok mencari informasi dari berbagai sumber (buku, internet) mengenai makna iman kepada Allah dan dalil-dalilnya (naqli dan aqli).

Mengaplikasi: Setiap kelompok menganalisis informasi yang didapat, mengidentifikasi poin-poin penting dari dalil-dalil tersebut, dan mencatatnya dalam bentuk peta konsep atau mind map yang menjelaskan keterkaitan antara bukti-bukti tersebut dengan keimanan kepada Allah.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, kelompok lain memberikan tanggapan. Guru memberikan penguatan terhadap konsep iman kepada Allah dan meluruskan pemahaman yang keliru, serta menghubungkan dengan pentingnya bersyukur atas ciptaan-Nya.

Penutup: Peserta didik dan guru menyimpulkan materi hari ini, melakukan refleksi singkat tentang manfaat memahami iman kepada Allah, guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya, dan menutup dengan doa.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning (PBL)

Tujuan: Menjelaskan Asmaul Husna (Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', Al-Bashir) beserta maknanya secara akurat dan menyajikan contoh perilaku yang mencerminkan iman kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, memimpin doa, mengecek kehadiran, mengaitkan materi sebelumnya dengan Asmaul Husna, dan menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini. Guru memantik dengan pertanyaan 'Jika Allah Maha Mengetahui segalanya, bagaimana seharusnya sikap kita?'

Memahami: Peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan studi kasus atau skenario masalah yang berkaitan dengan pentingnya memiliki sifat-sifat mulia yang terinspirasi dari Asmaul Husna (Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', Al-Bashir). Mereka mencari makna dan implikasi dari Asmaul Husna tersebut.

Mengaplikasi: Setiap kelompok menganalisis studi kasus, mengidentifikasi bagaimana Asmaul Husna yang dipelajari dapat menjadi solusi atau panduan perilaku dalam menghadapi masalah tersebut, serta menyusun daftar contoh perilaku konkret yang mencerminkan pemahaman terhadap Asmaul Husna tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Merefleksi: Kelompok mempresentasikan hasil analisis dan solusi mereka, menjelaskan contoh perilaku yang relevan. Guru memberikan umpan balik, mengklarifikasi makna Asmaul Husna, dan mengaitkan secara mendalam bagaimana pengamalan Asmaul Husna membentuk karakter mulia dan ketakwaan.

Penutup: Peserta didik dan guru menyimpulkan hubungan antara Asmaul Husna dan perilaku sehari-hari, melakukan refleksi individu tentang Asmaul Husna yang paling berkesan, guru memberikan apresiasi, menginformasikan persiapan proyek untuk pertemuan berikutnya, dan menutup dengan doa.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning (PjBL)

Tujuan: Menyusun karya kreatif (misalnya poster digital/infografis) tentang Asmaul Husna yang dipilih dan mempresentasikan hasil karya serta menjelaskan relevansinya dengan pembentukan karakter mulia.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, memimpin doa, mengecek kehadiran, mengingatkan kembali materi Asmaul Husna, dan menyampaikan tujuan pembelajaran proyek hari ini. Guru memotivasi dengan 'Mari kita wujudkan pemahaman kita menjadi sebuah karya yang indah dan bermakna!'

Memahami: Peserta didik secara berkelompok merencanakan proyek pembuatan poster digital atau infografis tentang salah satu Asmaul Husna (Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', Al-Bashir) yang paling mereka pahami dan ingin mereka internalisasikan. Mereka membuat rancangan desain dan konten.

Mengaplikasi: Setiap kelompok bekerja sama membuat poster digital/infografis menggunakan aplikasi sederhana (misalnya Canva, Google Slides) yang berisi makna Asmaul Husna, dalilnya (jika ada), dan contoh perilaku yang relevan. Mereka juga menyiapkan presentasi singkat untuk menjelaskan karya mereka.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil karya poster/infografis mereka di depan kelas, menjelaskan makna Asmaul Husna yang dipilih, dan mengaitkan bagaimana pemahaman tersebut membentuk perilaku positif. Guru dan peserta didik lain memberikan umpan balik konstruktif.

Penutup: Guru memberikan penguatan umum tentang pentingnya mengimani Allah dan mengamalkan Asmaul Husna, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta didik atas kerja keras dan kreativitas mereka, melakukan refleksi akhir tentang pengalaman belajar, dan menutup pembelajaran dengan doa serta motivasi untuk terus beriman dan beramal saleh.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, presentasi, dan pembuatan proyek, serta penilaian terhadap hasil kerja kelompok (peta konsep, poster/infografis).

Akhir (sumatif): Tes tertulis berupa pilihan ganda dan esai untuk mengukur pemahaman kognitif serta penilaian produk (poster/infografis) dan presentasi proyek.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Menganalisis makna iman kepada Allah SWT dengan benar.Makna iman kepada Allah, Dalil naqli dan aqli tentang keberadaan Allah.3 JPkeimanan dan ketakwaan, penalaran kritis
Menjelaskan Asmaul Husna (Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', Al-Bashir) beserta maknanya secara akurat.Asmaul Husna (Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', Al-Bashir) dan implikasinya dalam perilaku.3 JPkeimanan dan ketakwaan, penalaran kritis
Menyusun karya kreatif (poster/infografis) dan mempresentasikannya.Karya kreatif (poster/infografis) Asmaul Husna, presentasi dan relevansi dengan karakter.3 JPkreativitas, komunikasi

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Iman kepada Allah adalah rukun iman yang pertama dan pondasi utama dalam agama Islam. Ini bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang tertanam kuat dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Memahami dan mengimani Allah SWT secara mendalam akan membimbing kita menuju jalan kebaikan dan ketenangan hidup.

Makna Iman kepada Allah SWT

Iman secara bahasa berarti percaya atau membenarkan. Sedangkan secara istilah, iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Keyakinan ini harus mencakup keberadaan-Nya, keesaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya yang mulia.

Dalil Naqli tentang Keberadaan Allah SWT

Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis. Banyak ayat Al-Qur'an yang menegaskan keberadaan dan keesaan Allah, seperti firman Allah dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1-4: قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ. (Qul huwallahu ahad. Allahush shamad. Lam yalid wa lam yulad. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad.) Artinya: 'Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.'

Dalil Aqli tentang Keberadaan Allah SWT

Dalil aqli adalah bukti keberadaan Allah yang dapat diterima oleh akal sehat manusia. Lihatlah alam semesta ini: matahari terbit dan terbenam tepat waktu, pergantian siang dan malam, hujan turun menyuburkan tanah, serta keajaiban penciptaan manusia. Semua ini menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Teratur. Tidak mungkin semua ini terjadi secara kebetulan tanpa ada yang mengatur.

Asmaul Husna: Al-Alim (Maha Mengetahui)

Al-Alim (الْعَلِيمُ) berarti Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya. Implikasi bagi kita adalah selalu berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan, karena Allah senantiasa mengetahui niat dan tindakan kita.

Asmaul Husna: Al-Khabir (Maha Mengenal)

Al-Khabir (الْخَبِيرُ) berarti Allah Maha Mengenal atau Maha Mengetahui segala rahasia dan seluk-beluk suatu perkara. Pengetahuan-Nya sangat detail dan menyeluruh. Kita harus yakin bahwa Allah mengetahui setiap ujian yang kita hadapi dan setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun itu. Hal ini mendorong kita untuk selalu berbuat yang terbaik.

Asmaul Husna: As-Sami' (Maha Mendengar)

As-Sami' (السَّمِيعُ) berarti Allah Maha Mendengar segala suara, baik yang keras maupun yang pelan, yang diucapkan maupun yang dibisikkan, bahkan doa dan permohonan hamba-Nya. Keyakinan ini menumbuhkan semangat untuk senantiasa berdoa dan berzikir, serta menjaga lisan dari perkataan buruk karena Allah selalu mendengar.

Asmaul Husna: Al-Bashir (Maha Melihat)

Al-Bashir (الْبَصِيرُ) berarti Allah Maha Melihat segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil, yang terang maupun yang gelap, yang nyata maupun yang tersembunyi. Tidak ada satupun yang luput dari penglihatan-Nya. Pemahaman ini mendorong kita untuk selalu berakhlak mulia di mana pun dan kapan pun, karena kita merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Perilaku Mencerminkan Iman kepada Allah

Iman kepada Allah harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Contohnya adalah selalu bersyukur atas nikmat-Nya, sabar menghadapi cobaan, jujur dalam perkataan dan perbuatan, tidak berputus asa, selalu optimis, dan berusaha menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Dengan meyakini Allah Maha Melihat dan Mendengar, kita akan termotivasi untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Rangkuman: Iman kepada Allah adalah keyakinan hati, lisan, dan perbuatan terhadap keberadaan, keesaan, dan sifat-sifat sempurna-Nya. Dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) serta dalil aqli (akal dan alam semesta) menguatkan keimanan ini. Asmaul Husna seperti Al-Alim, Al-Khabir, As-Sami', dan Al-Bashir mengajarkan kita tentang kesempurnaan Allah dan menjadi pedoman dalam membentuk perilaku mulia, mendorong kita untuk selalu berhati-hati dan berbuat baik.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Menganalisis makna iman kepada Allah dan mengidentifikasi dalil-dalilnya.

Alat & bahan: Kertas karton, spidol warna, gunting, lem, gambar/foto alam semesta, Al-Qur'an terjemahan

  1. Bentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang.
  2. Diskusikan dalam kelompok, apa makna iman kepada Allah menurut pemahaman kalian.
  3. Cari dan tuliskan minimal 2 dalil naqli (Al-Qur'an/Hadis) dan 2 dalil aqli (bukti akal) tentang keberadaan Allah SWT.
  4. Buatlah peta konsep atau mind map di kertas karton yang menghubungkan makna iman dan dalil-dalil yang kalian temukan.
  5. Sajikan peta konsep kalian di depan kelas dan jelaskan maknanya.

8 Glosarium

ImanPercaya atau membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan.
Dalil NaqliBukti atau dasar hukum yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis.
Dalil AqliBukti atau dasar hukum yang bersumber dari akal pikiran manusia.
Asmaul HusnaNama-nama baik dan indah milik Allah SWT yang berjumlah 99.
Tadabbur AlamMerenungi dan mengambil pelajaran dari penciptaan alam semesta.
KufurTidak percaya atau mengingkari kebenaran Allah SWT.

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Iman Kepada Allah ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.