tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMPBahasa Bali › Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur
SMP · Kelas IX · Fase D

Modul Ajar Bahasa Bali Kelas IX
Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur

Modul ajar Bahasa Bali SMP kelas IX materi Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Bahasa Bali kelas IX materi Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur
Ringkasan: Kawagedan Basa adalah kemahiran berbahasa Bali yang meliputi penguasaan tata bahasa, etika komunikasi, dan nilai budaya. Penting untuk memahami struktur kalimat dalam Sor Singgih Basa untuk berkomunikasi secara tepat dan sopan. Kawagedan Basa erat kaitannya dengan kearifan lokal Bali yang mengajarkan keharmonisan dan tata krama. Lebih dari itu, kemahiran berbahasa ini juga menjadi alat penting untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi, mendorong kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab dalam setiap interaksi.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + praktikDimensi: kewargaan, penalaran kritis, komunikasiWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISBahasa Bali · Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu memahami dan menginternalisasi teks sastra dan non-sastra berbahasa Bali serta mampu menyampaikan gagasan secara lisan dan tertulis dengan memperhatikan kaidah kebahasaan, konteks budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Acuan: Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025

Kompetensi awal: Peserta didik memiliki pengetahuan dasar tentang kosakata dan struktur kalimat sederhana dalam Bahasa Bali serta mampu mengidentifikasi beberapa bentuk kearifan lokal Bali.

Pemahaman bermakna: Memahami Kawagedan Basa tidak hanya tentang tata bahasa, tetapi juga tentang bagaimana bahasa Bali menjadi cerminan kearifan lokal dan alat untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan pemantik: Mengapa kita perlu mahir berbahasa Bali, dan bagaimana kemahiran itu bisa membantu kita menjadi pribadi yang jujur dan berbudaya?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi pengertian Kawagedan Basa dengan benar dan menganalisis struktur kalimat dalam berbagai ragam bahasa Bali (sor singgih basa) dengan tepat.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut guru dengan salam 'Om Swastiastu', berdoa bersama, dilanjutkan presensi. Guru mengajak peserta didik mengingat kembali pengalaman menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta pertanyaan pemantik yang menggugah.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengeksplorasi berbagai sumber (buku, internet, narasumber) untuk menemukan pengertian Kawagedan Basa dan contoh-contoh struktur kalimat dalam sor singgih basa Bali yang dikaitkan dengan situasi komunikasi di lingkungan mereka.

Mengaplikasi: Setiap kelompok menganalisis contoh teks berbahasa Bali yang diberikan guru, mengidentifikasi ragam bahasa dan struktur kalimatnya, kemudian mencatat temuan mereka dalam lembar kerja kelompok. Mereka juga mendiskusikan bagaimana pemilihan ragam bahasa mencerminkan etika komunikasi.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka, kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan umpan balik dan penguatan tentang pentingnya penggunaan ragam bahasa yang tepat sebagai bentuk penghormatan dan integritas.

Penutup: Guru dan peserta didik menyimpulkan bersama tentang Kawagedan Basa dan sor singgih basa. Peserta didik melakukan refleksi singkat mengenai pemahaman mereka. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan menyampaikan gambaran kegiatan pertemuan berikutnya. Doa penutup.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning (PBL)

Tujuan: Menjelaskan hubungan Kawagedan Basa dengan nilai-nilai anti korupsi dan kearifan lokal Bali secara kritis.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut guru, berdoa, dan presensi. Guru mengingatkan kembali materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan pentingnya bahasa dalam menyampaikan nilai. Guru menyampaikan tujuan pertemuan hari ini dan memantik semangat peserta didik dengan studi kasus sederhana terkait komunikasi dan integritas.

Memahami: Peserta didik disajikan kasus atau skenario yang melibatkan komunikasi berbahasa Bali dan potensi konflik nilai (misalnya, menyampaikan informasi yang tidak jujur). Mereka menganalisis kasus tersebut untuk mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal dan anti korupsi yang relevan.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik merumuskan solusi atau respons terhadap kasus yang disajikan, dengan mempertimbangkan bagaimana Kawagedan Basa (penggunaan bahasa yang tepat dan beretika) dapat mendukung penanaman nilai anti korupsi dan kearifan lokal dalam komunikasi sehari-hari.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan solusi mereka. Kelompok lain memberikan masukan dan pertanyaan. Guru memfasilitasi diskusi mendalam tentang bagaimana bahasa menjadi jembatan untuk menanamkan kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati.

Penutup: Peserta didik bersama guru merangkum hubungan antara Kawagedan Basa, anti korupsi, dan kearifan lokal. Peserta didik menuliskan satu kalimat refleksi tentang komitmen mereka untuk menggunakan bahasa dengan jujur. Guru memberikan pujian atas pemikiran kritis dan menyampaikan tugas proyek untuk pertemuan berikutnya. Doa penutup.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning (PjBL)

Tujuan: Membuat contoh percakapan sederhana yang mengintegrasikan Kawagedan Basa, nilai anti korupsi, dan kearifan lokal, serta mempresentasikannya dengan percaya diri.

Kegiatan awal: Peserta didik menyambut guru, berdoa, dan presensi. Guru mengulas singkat materi sebelumnya dan mengingatkan kembali pentingnya praktik. Guru menjelaskan proyek pembuatan percakapan dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta kriteria penilaian proyek untuk memotivasi peserta didik.

Memahami: Peserta didik secara individu atau berpasangan merancang skenario percakapan sederhana (2-3 orang) berbahasa Bali yang mengintegrasikan Kawagedan Basa, nilai anti korupsi (misalnya, menolak mencontek, melaporkan ketidakjujuran), dan kearifan lokal (misalnya, musyawarah, gotong royong).

Mengaplikasi: Peserta didik berlatih memerankan percakapan yang telah mereka susun. Mereka saling memberikan masukan dalam kelompok kecil untuk memastikan penggunaan bahasa yang tepat, pesan anti korupsi yang jelas, dan kearifan lokal yang relevan.

Merefleksi: Setiap pasangan/individu mempresentasikan (memerankan) percakapan mereka di depan kelas. Guru dan teman-teman memberikan umpan balik konstruktif. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan dalam mewujudkan nilai-nilai luhur.

Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran tentang Kawagedan Basa dan penerapannya. Guru memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta didik atas kreativitas dan partisipasi mereka. Guru menutup dengan pesan motivasi untuk terus melestarikan Bahasa Bali dan menerapkan nilai-nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, dilanjutkan doa penutup.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, kemampuan menganalisis teks, dan kontribusi dalam proyek percakapan.

Akhir (sumatif): Penilaian performa presentasi proyek percakapan yang mengintegrasikan Kawagedan Basa, nilai anti korupsi, dan kearifan lokal.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi pengertian Kawagedan BasaPengertian Kawagedan Basa2 JPPenalaran Kritis
Menganalisis struktur kalimat sor singgih basaStruktur kalimat dalam sor singgih basa2 JPPenalaran Kritis, Komunikasi
Menjelaskan hubungan Kawagedan Basa dengan nilai anti korupsi dan kearifan lokalIntegrasi nilai anti korupsi dan kearifan lokal dalam Kawagedan Basa2 JPKewargaan, Komunikasi

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan dari kekayaan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Kemampuan berbahasa Bali yang baik, atau Kawagedan Basa, menjadi kunci untuk memahami dan melestarikan nilai-nilai luhur tersebut. Modul ini akan membimbing Anda untuk menguasai Kawagedan Basa, tidak hanya dari segi tata bahasa, tetapi juga bagaimana bahasa dapat menjadi sarana menanamkan integritas dan anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Kawagedan Basa

Kawagedan Basa secara harfiah berarti 'kemahiran berbahasa'. Ini mencakup kemampuan untuk menggunakan Bahasa Bali secara efektif dan efisien dalam berbagai situasi, baik lisan maupun tulisan. Kemahiran ini tidak hanya terbatas pada penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga pemahaman konteks budaya, etika komunikasi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa. Kawagedan Basa memungkinkan penutur untuk menyampaikan pesan dengan jelas, sopan, dan sesuai dengan norma sosial yang berlaku di Bali, seperti penggunaan Basa Alus saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau di lingkungan formal.

Struktur Kalimat dalam Ragam Bahasa Bali (Sor Singgih Basa)

Bahasa Bali memiliki sistem tingkatan bahasa yang disebut Sor Singgih Basa, yang mengatur penggunaan kata dan struktur kalimat berdasarkan status sosial, usia, dan hubungan antara penutur. Ragam bahasa ini meliputi Basa Alus (terbagi menjadi Alus Singgih, Alus Mider, Alus Sor), Basa Madia, dan Basa Kasar. Misalnya, penggunaan 'titiang' (saya) dalam Basa Alus Singgih menunjukkan rasa hormat, berbeda dengan 'tiang' atau 'icang' yang lebih informal. Pemahaman struktur kalimat dalam setiap tingkatan ini sangat penting agar komunikasi berjalan lancar dan tidak menyinggung perasaan lawan bicara, mencerminkan tata krama yang dijunjung tinggi masyarakat Bali.

Kearifan Lokal dalam Kawagedan Basa

Kearifan lokal Bali, seperti Tri Hita Karana (hubungan harmonis dengan Tuhan, manusia, dan alam) dan menyama braya (persaudaraan), sangat tercermin dalam Kawagedan Basa. Penggunaan bahasa yang santun, menghindari kata-kata kotor atau provokatif, serta kemampuan menyampaikan pendapat dengan bijak adalah wujud nyata kearifan lokal. Misalnya, dalam musyawarah adat, pemilihan kata-kata yang menenangkan dan mencari titik temu sangat diutamakan, menunjukkan nilai 'paras paros sarpanaya' (saling menghargai dan bermufakat). Bahasa menjadi alat untuk menjaga keharmonisan sosial dan spiritual.

Integrasi Nilai Anti Korupsi

Kawagedan Basa dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Melalui bahasa, kita diajarkan untuk berbicara jujur, menyampaikan informasi apa adanya, dan menolak praktik ketidakjujuran. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, membiasakan diri untuk tidak berbohong atau memanipulasi kata-kata demi keuntungan pribadi adalah bentuk awal integritas. Bahasa juga digunakan untuk menyampaikan kritik konstruktif terhadap praktik korupsi, dengan tetap menjaga etika dan tata krama. Kemahiran berbahasa yang baik mendorong komunikasi yang transparan dan bertanggung jawab, sebagai fondasi masyarakat yang bersih dari korupsi.

Rangkuman: Kawagedan Basa adalah kemahiran berbahasa Bali yang meliputi penguasaan tata bahasa, etika komunikasi, dan nilai budaya. Penting untuk memahami struktur kalimat dalam Sor Singgih Basa untuk berkomunikasi secara tepat dan sopan. Kawagedan Basa erat kaitannya dengan kearifan lokal Bali yang mengajarkan keharmonisan dan tata krama. Lebih dari itu, kemahiran berbahasa ini juga menjadi alat penting untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi, mendorong kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab dalam setiap interaksi.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Menganalisis penggunaan ragam bahasa Bali dalam teks dan mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal dan anti korupsi yang terkandung.

Alat & bahan: Teks percakapan berbahasa Bali, alat tulis, kamus Bahasa Bali (daring/cetak)

  1. Baca dan pahami teks percakapan berbahasa Bali yang diberikan.
  2. Identifikasi tokoh-tokoh dalam percakapan dan hubungan sosial mereka.
  3. Tandai kalimat-kalimat yang menunjukkan penggunaan ragam bahasa Bali (sor singgih basa) yang berbeda.
  4. Diskusikan dalam kelompok, mengapa ragam bahasa tertentu digunakan oleh tokoh tersebut.
  5. Identifikasi nilai-nilai kearifan lokal atau anti korupsi yang tersirat dalam percakapan tersebut.

8 Glosarium

Kawagedan BasaKemahiran atau kemampuan berbahasa Bali yang baik dan benar.
Sor Singgih BasaSistem tingkatan bahasa dalam Bahasa Bali yang digunakan berdasarkan status sosial penutur.
Basa AlusRagam bahasa Bali yang halus dan sopan, digunakan dalam situasi formal atau kepada orang yang dihormati.
Tri Hita KaranaKonsep filosofi Bali tentang tiga penyebab kebahagiaan: hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Menyama BrayaKonsep persaudaraan atau kekeluargaan dalam masyarakat Bali.

9 Materi Bahasa Bali Terkait

UgrawakiaBahasa Bali Kelas IX SMP
Pelajari Ugrawakia →
Pidarta Bahasa BaliBahasa Bali Kelas VIII SMP
Pelajari Pidarta Bahasa Bali →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Bahasa Bali Kawagedan Basa, integrasi anti korupsi dan kearifan lokal, Menjelaskan Pengertian,struktur ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Bali kelas IX langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.