Modul ajar Bahasa sunda SMP kelas IX materi Misuka sisindiran lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Kompetensi awal: Peserta didik memahami sebagian kecil bentuk puisi Sunda sederhana atau pernah mendengar pantun.
Pemahaman bermakna: Memahami sisindiran tidak hanya sekadar menghafal bentuk, tetapi juga memaknai pesan yang terkandung di dalamnya dan mengaplikasikannya dalam konteks budaya Sunda untuk menyampaikan gagasan secara kreatif.
Pertanyaan pemantik: Pernahkah kalian mendengar ungkapan lucu atau nasihat yang disampaikan secara berima dalam bahasa Sunda?
Tujuan: Mengidentifikasi jenis-jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) berdasarkan ciri-cirinya dan menganalisis makna serta pesan yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan awal: Peserta didik disambut dengan salam, berdoa, dan presensi. Guru mengajak peserta didik menyanyikan lagu daerah Sunda untuk membangun suasana. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengenal sisindiran dan menanyakan 'Apa yang kalian ketahui tentang sisindiran atau pantun?' sebagai pertanyaan pemantik.
Memahami: Peserta didik diajak mengamati beberapa contoh sisindiran yang ditampilkan di layar, kemudian secara berkelompok diminta untuk menemukan pola dan ciri-ciri dari setiap jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) serta mendiskusikan kemungkinan maknanya.
Mengaplikasi: Setiap kelompok menerima LKPD yang berisi kumpulan sisindiran. Mereka bertugas mengidentifikasi jenis sisindiran dan menganalisis makna yang terkandung di dalamnya, lalu menuliskan hasil diskusinya.
Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi dan analisisnya. Kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep tentang jenis dan makna sisindiran, meluruskan pemahaman yang keliru.
Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan ciri-ciri dan makna sisindiran. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan motivasi untuk pertemuan selanjutnya, diakhiri dengan doa bersama dan salam penutup yang ceria.
Tujuan: Menyusun sisindiran jenis rarakitan, paparikan, dan wawangsalan dengan tema tertentu.
Kegiatan awal: Guru menyapa dan memimpin doa, memeriksa kehadiran. Guru mengulas singkat materi pertemuan sebelumnya tentang jenis sisindiran. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu membuat sisindiran dan menanyakan 'Bagaimana cara kita bisa membuat sisindiran yang indah dan bermakna?'
Memahami: Peserta didik diberikan kasus atau 'tantangan' berupa tema-tema tertentu (misalnya, kebersihan lingkungan, persahabatan, nasihat) dan diminta untuk membuat sisindiran dari setiap jenis yang telah dipelajari, dengan memperhatikan kaidah sampiran dan isi.
Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik mulai menyusun sisindiran sesuai tema yang diberikan. Mereka berkolaborasi untuk memastikan setiap sisindiran memenuhi kaidah rarakitan, paparikan, dan wawangsalan, serta memiliki makna yang jelas dan relevan dengan tema.
Merefleksi: Setiap kelompok membacakan sisindiran hasil karyanya. Kelompok lain memberikan masukan konstruktif tentang rima, kaidah, dan kesesuaian makna. Guru memberikan bimbingan dan koreksi untuk menyempurnakan sisindiran yang dibuat.
Penutup: Peserta didik dan guru merefleksikan proses pembuatan sisindiran. Guru mengapresiasi kreativitas peserta didik dan memberikan motivasi untuk terus berlatih. Guru memberikan informasi mengenai persiapan untuk menampilkan sisindiran pada pertemuan berikutnya, diakhiri dengan salam dan doa.
Tujuan: Menampilkan sisindiran yang telah dibuat di depan kelas dengan percaya diri.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik dengan semangat, memimpin doa, dan memeriksa kehadiran. Guru mengingatkan kembali tujuan pembelajaran yaitu menampilkan sisindiran hasil karya mereka. Guru memberikan pertanyaan 'Bagaimana kita bisa menampilkan sisindiran agar pesannya sampai dan menarik bagi pendengar?'
Memahami: Peserta didik secara individu atau berpasangan mempersiapkan diri untuk menampilkan sisindiran yang telah mereka buat pada pertemuan sebelumnya. Mereka berlatih intonasi, ekspresi, dan kepercayaan diri untuk penyampaian yang efektif.
Mengaplikasi: Setiap peserta didik atau perwakilan kelompok maju ke depan kelas untuk menampilkan sisindiran yang telah dibuat. Mereka dapat memilih cara penyampaian yang kreatif, seperti membaca, melantunkan, atau mendeklamasikan.
Merefleksi: Setelah setiap penampilan, peserta didik lain memberikan apresiasi dan umpan balik positif. Guru memberikan penguatan terhadap penampilan dan memberikan tips untuk meningkatkan kemampuan berpuisi. Guru juga memberikan penilaian formatif.
Penutup: Peserta didik dan guru bersama-sama menyimpulkan seluruh pembelajaran tentang sisindiran. Guru memberikan apresiasi tinggi atas seluruh proses dan hasil karya peserta didik, serta mendorong mereka untuk terus melestarikan budaya Sunda. Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam yang penuh semangat.
Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan bimbingan saat menyusun sisindiran.
Akhir (sumatif): Penilaian hasil karya sisindiran dan penampilan presentasi di depan kelas.
| Tujuan | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|
| Mengidentifikasi jenis-jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) berdasarkan ciri-cirinya. | Pengenalan ciri-ciri sisindiran | 2 JP | Penalaran Kritis |
| Menganalisis makna dan pesan yang terkandung dalam sisindiran. | Analisis isi dan amanat sisindiran | 2 JP | Penalaran Kritis |
| Menyusun sisindiran jenis rarakitan, paparikan, dan wawangsalan dengan tema tertentu. | Praktik menyusun sisindiran | 2 JP | Kreativitas |
| Menampilkan sisindiran yang telah dibuat di depan kelas dengan percaya diri. | Presentasi dan apresiasi sisindiran | 2 JP | Komunikasi |
Sastra Sunda memiliki kekayaan yang luar biasa, salah satunya adalah sisindiran. Sisindiran adalah bentuk puisi tradisional Sunda yang mirip dengan pantun, memiliki sampiran dan isi. Materi ini akan mengajak kita menyelami keindahan sisindiran, memahami jenis-jenisnya, serta belajar cara membuatnya sendiri. Dengan begitu, kita bisa ikut melestarikan warisan budaya Sunda yang berharga ini.
Sisindiran adalah salah satu bentuk puisi lama dalam sastra Sunda yang strukturnya mirip dengan pantun dalam bahasa Indonesia. Sisindiran terdiri dari dua bagian utama, yaitu cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Cangkang berfungsi sebagai pembuka atau pengantar yang tidak berhubungan langsung dengan makna, sementara eusi adalah bagian yang memuat maksud atau pesan utama dari sisindiran tersebut. Sisindiran biasanya disampaikan secara lisan dan seringkali mengandung unsur humor, nasihat, atau sindiran halus. Keindahan sisindiran terletak pada permainan kata dan rima yang membuat pendengarnya terhibur sekaligus mendapatkan pesan.
Sisindiran memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat Sunda, di antaranya sebagai hiburan, alat menyampaikan nasihat, sindiran, bahkan rayuan. Ciri khas sisindiran adalah adanya purwakanti (persamaan bunyi) pada akhir baris cangkang dan eusi. Setiap bait sisindiran umumnya terdiri dari empat baris. Dua baris pertama merupakan cangkang, dan dua baris berikutnya adalah eusi. Jumlah suku kata dalam setiap baris biasanya delapan suku kata. Struktur ini menjadikan sisindiran mudah diingat dan disampaikan, sehingga tetap lestari hingga kini sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Sunda.
Rarakitan adalah jenis sisindiran yang memiliki ciri khas pengulangan kata pada awal baris cangkang dan awal baris eusi. Kata yang diulang ini bisa sama persis atau hanya sebagian. Pengulangan ini menciptakan kesan 'berangkai' atau 'berjajar' seperti rakit, sesuai dengan namanya 'rarakitan' yang berasal dari kata 'rakit'. Selain pengulangan kata, rarakitan juga tetap memperhatikan persamaan bunyi (purwakanti) pada akhir baris. Contoh: 'Boboko wadah bakatul, nyiru wadah beas; Ngomongna kudu ngatur, ulah nganyenyeri batur.' (Keranjang tempat bekatul, tampah tempat beras; Berbicara harus diatur, jangan menyakiti orang lain.)
Paparikan adalah jenis sisindiran yang memiliki ciri khas persamaan bunyi (purwakanti) pada akhir baris cangkang dan eusi, tetapi tidak ada pengulangan kata di awal baris seperti rarakitan. Persamaan bunyi ini bisa berupa vokal atau konsonan yang sama. Paparikan merupakan bentuk sisindiran yang paling umum dan sering ditemui. Contoh: 'Ka pasar meuli roti, ulah poho meuli jeruk; Kudu rajin ngaji, sangkan hirup teu katungtruk.' (Ke pasar beli roti, jangan lupa beli jeruk; Harus rajin mengaji, agar hidup tidak sengsruk/terpuruk.) Persamaan bunyi 'i' pada baris 1 dan 3, serta 'uk' pada baris 2 dan 4.
Wawangsalan berbeda dengan rarakitan dan paparikan. Wawangsalan hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah teka-teki (wangsal) yang merupakan cangkang, dan baris kedua adalah jawaban dari teka-teki tersebut sekaligus isi yang ingin disampaikan. Ciri khas wawangsalan adalah pada baris kedua terdapat salah satu kata yang memiliki kemiripan bunyi dengan jawaban teka-teki. Contoh: 'Lauk emas ngakan cai, lain emas lain tambaga.' (Ikan mas makan air, bukan emas bukan tembaga.) Jawabannya adalah 'Kukupu' (kupu-kupu), karena ada kemiripan bunyi 'kupu' pada 'kukupu' dengan 'ngakan cai' (berenang di air) dan 'lain emas lain tambaga' (bukan benda berharga).
Membuat sisindiran memerlukan kreativitas dan pemahaman kaidah. Pertama, tentukan jenis sisindiran yang ingin dibuat (rarakitan, paparikan, atau wawangsalan) dan tema atau pesan yang ingin disampaikan. Kedua, tentukan isi (eusi) sisindiran terlebih dahulu, karena ini adalah pesan utamanya. Ketiga, cari kata-kata yang memiliki purwakanti (persamaan bunyi) dengan isi untuk membuat cangkang (sampiran). Untuk rarakitan, pastikan ada pengulangan kata di awal baris. Untuk wawangsalan, buat teka-teki yang jawabannya memiliki kemiripan bunyi dengan kata di baris kedua. Terakhir, periksa kembali kaidah jumlah suku kata (umumnya 8 suku kata per baris) dan pastikan sisindiran yang dibuat memiliki rima yang tepat dan makna yang jelas.
Rangkuman: Sisindiran adalah puisi tradisional Sunda yang terdiri dari cangkang (sampiran) dan eusi (isi) dengan rima tertentu. Ada tiga jenis sisindiran: rarakitan (pengulangan kata di awal baris), paparikan (persamaan bunyi akhir baris tanpa pengulangan kata), dan wawangsalan (teka-teki dua baris dengan jawaban tersembunyi). Memahami dan membuat sisindiran membantu melestarikan budaya Sunda serta mengembangkan kreativitas berbahasa.
Tujuan: Menganalisis jenis, struktur, dan makna sisindiran serta membuat sisindiran baru.
Alat & bahan: Kumpulan contoh sisindiran, alat tulis, kertas HVS
| Sisindiran | Puisi tradisional Sunda yang memiliki sampiran dan isi. |
| Cangkang | Bagian sampiran dalam sisindiran, dua baris pertama. |
| Eusi | Bagian isi atau makna dalam sisindiran, dua baris terakhir. |
| Purwakanti | Persamaan bunyi atau rima dalam sisindiran. |
| Rarakitan | Jenis sisindiran dengan pengulangan kata di awal baris cangkang dan eusi. |
| Paparikan | Jenis sisindiran dengan persamaan bunyi akhir baris tanpa pengulangan kata di awal. |
| Wawangsalan | Jenis sisindiran teka-teki dua baris yang jawabannya tersirat di baris kedua. |
| Wangsal | Teka-teki dalam wawangsalan. |
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa sunda kelas IX langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.