Modul ajar Bimbingan konseling SMP kelas VIII materi mengatasi bulying ( perundungan) lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Kompetensi awal: Peserta didik mengetahui bahwa perundungan adalah tindakan yang tidak baik dan dapat merugikan orang lain.
Pemahaman bermakna: Memahami dampak perundungan dan mengembangkan strategi efektif untuk mencegah serta mengatasinya akan membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua. Setiap individu memiliki peran penting dalam menghentikan lingkaran perundungan.
Pertanyaan pemantik: Bagaimana perasaanmu jika melihat temanmu diejek atau disakiti oleh teman lain?
Tujuan: Mengidentifikasi jenis-jenis dan bentuk-bentuk perundungan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik, memimpin doa, memeriksa kehadiran, melakukan apersepsi dengan menanyakan pengalaman terkait konflik antar teman, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi jenis dan bentuk perundungan serta pertanyaan pemantik tentang perasaan jika melihat teman diejek.
Memahami: Peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan studi kasus atau gambar/video pendek tentang berbagai skenario perundungan. Mereka diminta untuk mengidentifikasi jenis-jenis perundungan (fisik, verbal, sosial, siber) dan bentuk-bentuknya (mengejek, memukul, mengucilkan, menyebarkan gosip di media sosial) yang terdapat dalam skenario tersebut.
Mengaplikasi: Setiap kelompok berdiskusi untuk mencatat hasil identifikasi dan mengklasifikasikan jenis serta bentuk perundungan yang ditemukan, kemudian menyiapkan presentasi singkat untuk berbagi temuan mereka.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, diikuti sesi tanya jawab dan umpan balik dari kelompok lain dan guru. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya mengenali berbagai bentuk perundungan agar dapat bertindak tepat.
Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan jenis-jenis perundungan yang telah dipelajari. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan menugaskan peserta didik untuk mengamati potensi perundungan di lingkungan sekitar sebagai persiapan pertemuan berikutnya.
Tujuan: Menganalisis dampak negatif perundungan bagi korban, pelaku, dan lingkungan sosial serta merumuskan strategi pencegahan perundungan di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik, memimpin doa, memeriksa kehadiran, mengulas singkat materi pertemuan sebelumnya tentang jenis perundungan, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis dampak serta merumuskan strategi pencegahan perundungan.
Memahami: Peserta didik disajikan kasus nyata (anonim) tentang perundungan dan diminta menganalisis dampak yang mungkin terjadi pada korban (psikis, fisik, akademik), pelaku (hukuman, stigma sosial), dan lingkungan sekolah (rasa tidak aman, menurunnya prestasi).
Mengaplikasi: Secara berkelompok, peserta didik merumuskan strategi pencegahan perundungan yang dapat diterapkan di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari, seperti meningkatkan kesadaran, membangun lingkungan inklusif, atau membentuk agen anti-perundungan.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dampak dan strategi pencegahan yang telah dirumuskan. Guru dan peserta didik lain memberikan tanggapan dan masukan untuk memperkaya ide-ide yang ada.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan pentingnya pencegahan perundungan dan strategi efektif yang dapat dilakukan. Guru memberikan apresiasi dan menugaskan peserta didik untuk mencari informasi lebih lanjut tentang peran serta dalam menghentikan perundungan.
Tujuan: Menerapkan langkah-langkah konkret untuk menanggapi situasi perundungan sebagai korban, saksi, atau pihak yang ingin membantu dan mengembangkan sikap empati dan keberanian untuk melawan perundungan.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik, memimpin doa, memeriksa kehadiran, mengingatkan kembali materi sebelumnya tentang dampak dan strategi pencegahan, serta menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menerapkan langkah konkret menanggapi perundungan dan mengembangkan empati.
Memahami: Peserta didik diberikan skenario perundungan yang lebih kompleks dan diminta untuk berdiskusi tentang peran apa yang bisa mereka ambil (sebagai korban, saksi, atau penolong) dan langkah-langkah konkret apa yang akan mereka lakukan dalam skenario tersebut.
Mengaplikasi: Setiap kelompok membuat poster kampanye anti-perundungan yang berisi pesan-pesan kuat, ajakan untuk bertindak, dan langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan oleh siswa jika menghadapi atau menyaksikan perundungan.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan poster kampanye mereka di depan kelas, menjelaskan pesan dan langkah-langkah yang diusulkan. Guru memberikan umpan balik dan penguatan tentang keberanian dan empati dalam menghadapi perundungan.
Penutup: Peserta didik bersama guru menyimpulkan pentingnya tindakan nyata dalam mengatasi perundungan dan dampak positif dari sikap empati serta keberanian. Guru mengapresiasi seluruh kerja keras dan kreativitas peserta didik, serta mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan presentasi, serta kualitas poster kampanye anti-perundungan.
Akhir (sumatif): Penilaian terhadap jawaban esai dan produk poster kampanye anti-perundungan.
| Tujuan | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|
| Mengidentifikasi jenis-jenis dan bentuk-bentuk perundungan. | Jenis dan bentuk perundungan. | 2 JP | kewargaan |
| Menganalisis dampak negatif dan merumuskan strategi pencegahan perundungan. | Dampak perundungan dan strategi pencegahan. | 2 JP | komunikasi |
| Menerapkan langkah-langkah konkret dan mengembangkan sikap empati. | Tindakan mengatasi perundungan dan empati. | 2 JP | kolaborasi |
Perundungan atau bullying adalah masalah serius yang sering terjadi di lingkungan sekolah dan dapat berdampak buruk bagi semua pihak. Modul ini akan membimbingmu untuk memahami apa itu perundungan, mengapa ia terjadi, dan bagaimana kita semua dapat berperan aktif dalam mencegah serta mengatasinya. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi setiap orang.
Perundungan adalah tindakan agresif yang disengaja dan berulang yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok terhadap orang lain yang lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti atau mendominasi. Tindakan ini bisa berupa fisik, verbal, sosial, atau siber. Kunci utama dalam perundungan adalah adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban, serta adanya niat untuk menyakiti secara berulang.
Perundungan tidak hanya tentang kekerasan fisik. Ada beberapa jenis perundungan yang perlu kita kenali. Perundungan fisik meliputi memukul, menendang, mendorong, atau merusak barang. Perundungan verbal melibatkan ejekan, panggilan nama, fitnah, atau ancaman. Perundungan sosial (relasional) adalah mengucilkan, menyebarkan gosip, atau memanipulasi hubungan pertemanan. Terakhir, perundungan siber (cyberbullying) terjadi melalui media elektronik seperti pesan teks, email, atau media sosial, berupa penyebaran rumor, ancaman, atau postingan yang memalukan.
Dampak perundungan sangat merugikan, tidak hanya bagi korban tetapi juga pelaku dan lingkungan sekitar. Bagi korban, perundungan dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, rendah diri, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Secara fisik, korban bisa mengalami luka atau sakit. Akademis mereka juga bisa terganggu karena sulit berkonsentrasi. Pelaku perundungan juga berisiko mengembangkan perilaku agresif yang lebih parah di masa depan dan menghadapi masalah hukum atau sosial. Lingkungan sekolah yang terdapat perundungan akan terasa tidak aman dan tidak nyaman bagi siswa lainnya, menghambat proses belajar-mengajar.
Perundungan bisa terjadi karena berbagai faktor. Pelaku mungkin ingin menunjukkan kekuasaan, meniru perilaku yang mereka lihat, atau merasa tidak aman dan ingin mengalihkan perhatian dari masalah pribadi mereka. Kurangnya pengawasan dari orang dewasa, budaya sekolah yang permisif terhadap perilaku agresif, atau kurangnya empati juga dapat menjadi pemicu. Terkadang, korban dianggap 'berbeda' atau 'lemah' sehingga menjadi sasaran empuk bagi pelaku.
Pencegahan adalah kunci dalam mengatasi perundungan. Sekolah dapat menerapkan kebijakan anti-perundungan yang jelas dan tegas, mengadakan sosialisasi rutin tentang bahaya perundungan, serta melatih guru dan staf untuk mengenali dan menangani kasus perundungan. Penting juga untuk membangun iklim sekolah yang inklusif, di mana setiap siswa merasa dihargai dan aman. Program-program pengembangan empati dan keterampilan sosial juga sangat efektif.
Setiap individu memiliki peran penting. Jika kamu korban, jangan diam! Bicaralah kepada orang dewasa yang kamu percaya (guru, orang tua, konselor). Jika kamu saksi, jangan ikut-ikutan atau membiarkan. Laporkan kepada guru atau orang dewasa, atau coba bantu korban jika aman. Berikan dukungan kepada korban dan tunjukkan bahwa kamu peduli. Jika kamu pelaku, sadari dampak tindakanmu dan beranilah meminta maaf serta mengubah perilaku. Bersama-sama, kita bisa menciptakan perubahan.
Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dengan empati, kita bisa memahami mengapa perundungan itu menyakitkan dan termotivasi untuk bertindak. Keberanian berarti berani melawan ketidakadilan, berani berbicara, dan berani membela teman yang dirundung, meskipun itu sulit. Latih dirimu untuk selalu mempertimbangkan perasaan orang lain dan berani mengambil sikap yang benar.
Jika kamu atau temanmu menjadi korban perundungan, sangat penting untuk melaporkannya. Kamu bisa melaporkan kepada guru Bimbingan Konseling, wali kelas, kepala sekolah, orang tua, atau bahkan melalui kotak saran yang mungkin disediakan sekolah. Jangan merasa takut atau malu; melaporkan adalah langkah pertama untuk menghentikan perundungan dan melindungi diri serta orang lain. Ingat, kamu tidak sendirian.
Rangkuman: Perundungan adalah tindakan agresif berulang yang merugikan. Ada berbagai jenis perundungan seperti fisik, verbal, sosial, dan siber, yang semuanya memiliki dampak negatif serius bagi korban, pelaku, dan lingkungan. Pencegahan melalui kebijakan sekolah yang tegas dan pengembangan empati sangat penting. Setiap individu memiliki peran krusial dalam melawan perundungan dengan berani berbicara, melaporkan, dan mendukung korban untuk menciptakan lingkungan yang aman dan positif.
Tujuan: Menganalisis studi kasus perundungan dan merumuskan langkah penanganan yang tepat.
Alat & bahan: Kertas HVS, spidol warna, gunting, lem, studi kasus perundungan.
| Bullying | Perundungan; tindakan agresif yang disengaja dan berulang untuk menyakiti atau mendominasi. |
| Empati | Kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain. |
| Cyberbullying | Perundungan yang dilakukan melalui media elektronik atau digital. |
| Pelaku | Orang yang melakukan tindakan perundungan. |
| Korban | Orang yang menjadi sasaran tindakan perundungan. |
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bimbingan konseling kelas VIII langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.