Modul ajar Bahasa Indonesia SMK kelas XII materi Teks Editorial lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat dan mampu menyampaikan pendapat secara lisan atau tertulis.
Pemahaman bermakna: Memahami teks editorial membantu kita menyikapi isu aktual dengan lebih kritis dan mampu menyuarakan pandangan secara lugas, logis, dan bertanggung jawab. Ini penting untuk menjadi warga negara yang aktif dan berkontribusi.
Pertanyaan pemantik: Mengapa media massa seringkali memiliki 'suara' sendiri dalam menyikapi suatu peristiwa, dan bagaimana kita bisa membedakan fakta dengan opini di dalamnya?
Tujuan: Mengidentifikasi ciri-ciri, struktur, dan kaidah kebahasaan teks editorial dengan tepat.
Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, mengajak berdoa, memeriksa kehadiran, melakukan apersepsi dengan menanyakan berita terbaru yang sedang hangat, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi teks editorial dan kaitannya dengan isu aktual, serta menjelaskan tahapan kegiatan yang akan dilakukan.
Memahami: Peserta didik diajak membaca beberapa contoh teks editorial dari media massa cetak maupun online, kemudian secara mandiri atau berkelompok mengidentifikasi ciri-ciri umum, struktur (pengenalan isu, argumen, penegasan), dan kaidah kebahasaan yang dominan dalam teks-teks tersebut.
Mengaplikasi: Dalam kelompok kecil, peserta didik mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi tabel untuk membandingkan dan menganalisis struktur serta kaidah kebahasaan dari dua teks editorial berbeda yang membahas isu serupa.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisisnya, kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep tentang karakteristik teks editorial serta meluruskan miskonsepsi yang mungkin terjadi.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan ciri-ciri, struktur, dan kaidah kebahasaan teks editorial. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan memberikan tugas untuk mencari isu aktual yang menarik perhatian mereka sebagai persiapan pertemuan berikutnya, kemudian berdoa bersama.
Tujuan: Menganalisis isu aktual dari berbagai sudut pandang untuk menemukan argumen pro dan kontra dan menyusun kerangka teks editorial.
Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, berdoa, presensi. Guru mengaitkan materi sebelumnya dengan meminta peserta didik menyebutkan salah satu isu aktual yang telah mereka temukan, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis isu dan menyusun kerangka editorial, serta menjelaskan tahapan kegiatan yang akan dilakukan.
Memahami: Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok memilih satu isu aktual yang relevan dan kontroversial. Mereka kemudian melakukan riset singkat (melalui internet atau sumber lain) untuk mengumpulkan fakta dan berbagai sudut pandang (pro dan kontra) terkait isu tersebut.
Mengaplikasi: Dengan bimbingan guru, setiap kelompok berdiskusi untuk menganalisis data yang terkumpul, merumuskan opini redaksi mereka, dan menyusun kerangka teks editorial yang meliputi judul, pengenalan isu, argumen pendukung, argumen penentang (jika ada), serta penegasan atau rekomendasi solusi.
Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan kerangka teks editorial mereka. Kelompok lain memberikan masukan konstruktif mengenai kekuatan argumen, relevansi isu, dan kelengkapan struktur kerangka. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya data dan argumen yang logis dalam menyusun opini.
Penutup: Guru bersama peserta didik merangkum langkah-langkah analisis isu dan penyusunan kerangka editorial. Guru memberikan motivasi untuk terus berlatih berpikir kritis, memberikan tugas untuk menyempurnakan kerangka editorial dan mulai menulis draf awal, serta menutup dengan doa.
Tujuan: Menulis teks editorial dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang benar serta mempresentasikannya.
Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, berdoa, presensi. Guru mengingatkan kembali tugas menulis draf teks editorial dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menulis dan mempresentasikan teks editorial, serta menjelaskan tahapan kegiatan yang akan dilakukan.
Memahami: Peserta didik secara individu atau berpasangan melanjutkan proses penulisan teks editorial berdasarkan kerangka yang telah dibuat sebelumnya. Guru berkeliling memberikan bimbingan individual, membantu peserta didik dalam mengembangkan argumen, memilih diksi yang tepat, dan memastikan penggunaan kaidah kebahasaan yang benar.
Mengaplikasi: Setelah selesai menulis, peserta didik melakukan penyuntingan mandiri atau bertukar teks dengan teman untuk saling memberikan masukan terkait kejelasan, kelogisan, dan keefektifan teks editorial. Mereka kemudian merevisi teks berdasarkan masukan yang diterima.
Merefleksi: Beberapa peserta didik secara sukarela atau ditunjuk mempresentasikan teks editorial mereka di depan kelas. Peserta didik lain dan guru memberikan apresiasi serta umpan balik konstruktif terhadap isi, struktur, kaidah kebahasaan, dan cara penyampaian. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan seluruh proses pembelajaran teks editorial, mulai dari identifikasi hingga penulisan dan presentasi. Guru memberikan apresiasi atas kerja keras dan kreativitas peserta didik, memberikan motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan menulis, dan menutup pembelajaran dengan doa.
Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan bimbingan penulisan kerangka serta draf teks editorial.
Akhir (sumatif): Penilaian teks editorial yang ditulis peserta didik berdasarkan rubrik penilaian dan presentasi lisan.
| Tujuan | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|
| Mengidentifikasi ciri-ciri, struktur, dan kaidah kebahasaan teks editorial. | Ciri-ciri, struktur, kaidah kebahasaan teks editorial. | 2 JP | Penalaran Kritis |
| Menganalisis isu aktual dan menyusun kerangka teks editorial. | Isu aktual, argumen pro-kontra, kerangka teks editorial. | 2 JP | Penalaran Kritis, Kewargaan |
| Menulis dan mempresentasikan teks editorial. | Penulisan teks editorial, presentasi, argumentasi. | 2 JP | Komunikasi, Penalaran Kritis |
Teks editorial, atau tajuk rencana, adalah salah satu bentuk tulisan jurnalistik yang memiliki peran penting dalam membentuk opini publik. Sebagai pembaca, kita perlu memahami bagaimana teks ini dibangun dan bagaimana ia menyampaikan pesan-pesan penting tentang isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Mari kita selami lebih dalam dunia teks editorial.
Teks editorial adalah artikel utama dalam surat kabar atau media massa yang berisi pandangan atau opini redaksi terhadap suatu peristiwa atau isu aktual yang sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Opini ini biasanya mencerminkan kebijakan dan sikap media tersebut terhadap isu yang dibahas, bersifat kritis, dan bertujuan memengaruhi pembaca.
Teks editorial memiliki beberapa ciri khas, antara lain: topiknya selalu aktual, sedang hangat dibicarakan, dan kontroversial; bersifat sistematis dan logis; berisi opini redaksi yang bersifat subjektif namun didukung data dan fakta; serta memiliki fungsi untuk memengaruhi, mengajak, atau memberikan pandangan kepada pembaca. Gaya bahasanya lugas dan persuasif.
Struktur teks editorial umumnya terdiri dari tiga bagian utama: 1) Pengenalan Isu (Tesis): Bagian awal yang memperkenalkan isu atau masalah yang akan dibahas, biasanya berisi sorotan terhadap suatu peristiwa. 2) Penyampaian Argumen (Rangkaian Argumen): Bagian inti yang berisi pendapat, tanggapan, atau alasan redaksi terhadap isu, didukung oleh fakta dan data. 3) Penegasan/Rekomendasi: Bagian penutup yang berisi simpulan, saran, atau rekomendasi redaksi kepada pihak terkait atau masyarakat luas.
Teks editorial menggunakan beberapa kaidah kebahasaan khas, seperti: 1) Penggunaan adverbia (misalnya, selalu, biasanya, mungkin, barangkali) untuk menyatakan kepastian atau kemungkinan. 2) Penggunaan konjungsi kausalitas (sebab, karena, oleh sebab itu) untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat. 3) Penggunaan verba mental (misalnya, memikirkan, menduga, berasumsi) untuk menyatakan pikiran atau perasaan. 4) Penggunaan kata-kata populer untuk menjangkau khalayak luas.
Menulis teks editorial diawali dengan memilih isu aktual yang menarik dan kontroversial. Kemudian, lakukan riset untuk mengumpulkan fakta dan berbagai sudut pandang. Setelah itu, rumuskan opini redaksi yang jelas dan kuat. Susun kerangka teks editorial sesuai struktur, lalu kembangkan kerangka menjadi teks utuh. Terakhir, lakukan penyuntingan untuk memastikan kejelasan dan kaidah kebahasaan.
Fungsi utama teks editorial adalah untuk menyampaikan opini redaksi terhadap isu-isu penting, memberikan informasi dan edukasi kepada pembaca, serta memengaruhi pembaca agar memiliki pandangan atau sikap yang sejalan dengan redaksi. Teks ini juga berfungsi sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah atau peristiwa tertentu.
Rangkuman: Teks editorial adalah opini redaksi media massa tentang isu aktual, kontroversial, dan fenomenal. Memiliki struktur pengenalan isu, argumen, dan penegasan, serta menggunakan kaidah kebahasaan khas seperti adverbia, konjungsi kausalitas, dan verba mental. Memahami dan menulis teks editorial melatih penalaran kritis dan kemampuan berkomunikasi efektif.
Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisis struktur serta kaidah kebahasaan teks editorial.
Alat & bahan: Teks editorial dari koran/internet, alat tulis, kertas HVS
| Editorial | Artikel utama surat kabar yang berisi pandangan redaksi. |
| Tajuk Rencana | Istilah lain untuk teks editorial. |
| Aktual | Terjadi atau sedang hangat dibicarakan saat ini. |
| Kontroversial | Menimbulkan perdebatan atau perbedaan pendapat. |
| Adverbia | Kata keterangan yang memberikan informasi tambahan. |
| Konjungsi Kausalitas | Kata penghubung yang menyatakan hubungan sebab-akibat. |
| Verba Mental | Kata kerja yang berkaitan dengan kegiatan berpikir atau merasakan. |
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Indonesia kelas XII langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.