Modul ajar Sejarah SMK kelas X materi Kerajaan Hindu-Buddha dan Islam lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Rumusan: Peserta didik mampu menganalisis secara kritis perkembangan masyarakat Indonesia dari masa praaksara hingga masa kemerdekaan, mengidentifikasi faktor-faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial, serta mengaitkannya dengan konteks kekinian untuk menumbuhkan kesadaran akan identitas dan keberlanjutan bangsa.
Acuan: Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang konsep waktu, perubahan, dan keberlanjutan dalam konteks sejarah Indonesia.
Pemahaman bermakna: Memahami bahwa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam tidak hanya meninggalkan jejak fisik, tetapi juga membentuk fondasi kebudayaan, sosial, dan politik Indonesia modern melalui proses akulturasi dan adaptasi yang dinamis.
Pertanyaan pemantik: Bagaimana sebuah keyakinan atau agama dapat membentuk sebuah kerajaan besar dan meninggalkan warisan budaya yang masih kita rasakan hingga kini?
Tujuan: Menganalisis perkembangan kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia berdasarkan sumber sejarah.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan melakukan apersepsi dengan menampilkan gambar candi-candi kuno. Guru kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik: 'Apa yang membuat kerajaan-kerajaan kuno ini begitu kuat dan meninggalkan jejak monumental?'
Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengeksplorasi berbagai sumber digital (artikel, video pendek) tentang kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit, fokus pada aspek lokasi, pendiri, masa kejayaan, dan peninggalan budaya. Mereka mencatat informasi penting dan mengidentifikasi pola-pola perkembangan.
Mengaplikasi: Setiap kelompok membuat peta konsep atau garis waktu sederhana yang menggambarkan perkembangan kerajaan Hindu-Buddha, menyoroti keterkaitan antar kerajaan dan pengaruhnya terhadap wilayah Nusantara. Mereka juga mulai mengidentifikasi peninggalan yang masih relevan hingga kini.
Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil eksplorasi mereka. Guru memberikan umpan balik, menguatkan konsep-konsep kunci, dan meluruskan miskonsepsi. Diskusi kelas difokuskan pada perbandingan karakteristik antar kerajaan dan faktor-faktor yang mendorong kemajuan mereka.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi tentang kerajaan Hindu-Buddha. Peserta didik diminta menulis satu hal baru yang mereka pelajari dan satu pertanyaan yang masih ingin mereka ketahui. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan memberikan pengantar untuk materi pertemuan berikutnya.
Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran kerajaan Hindu-Buddha dan munculnya kerajaan Islam di Indonesia, serta menganalisis perkembangan kerajaan Islam di Indonesia dan pengaruhnya terhadap masyarakat.
Kegiatan awal: Guru menyapa, memimpin doa, presensi, dan mengulas singkat materi sebelumnya. Apersepsi dilakukan dengan menampilkan gambar-gambar situs peninggalan Islam kuno di Indonesia. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dan menghubungkannya dengan pertanyaan: 'Bagaimana agama Islam bisa menyebar begitu cepat dan menggantikan dominasi kerajaan Hindu-Buddha?'
Memahami: Peserta didik menganalisis studi kasus atau teks singkat tentang faktor-faktor kemunduran Majapahit dan jalur masuknya Islam ke Nusantara (perdagangan, perkawinan, pendidikan). Mereka mengidentifikasi kerajaan-kerajaan Islam awal seperti Samudera Pasai, Demak, dan Ternate-Tidore, serta ciri khasnya.
Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik mendiskusikan dan membandingkan karakteristik kerajaan Hindu-Buddha dan Islam, serta menganalisis bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya lokal. Mereka mulai merancang kerangka infografis atau poster digital yang akan menjadi produk akhir, fokus pada perbandingan dan pengaruh.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan draf awal infografis atau poster digital mereka, menjelaskan poin-poin perbandingan dan analisis pengaruh Islam. Guru dan kelompok lain memberikan umpan balik konstruktif. Guru memperkuat pemahaman tentang proses akulturasi dan peran ulama/wali songo.
Penutup: Guru bersama peserta didik merangkum poin-poin penting tentang transisi dari Hindu-Buddha ke Islam. Guru memberikan apresiasi dan motivasi untuk menyelesaikan proyek infografis/poster digital sebagai tindak lanjut, serta mengingatkan untuk mempersiapkan presentasi di pertemuan selanjutnya.
Tujuan: Menyajikan hasil analisis tentang warisan kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam dalam bentuk infografis atau poster digital, serta menumbuhkan sikap kritis dalam menyikapi informasi sejarah dan menghargai keberagaman budaya.
Kegiatan awal: Guru menyapa, memimpin doa, presensi, dan mengingatkan kembali tujuan proyek infografis/poster digital. Guru memotivasi peserta didik untuk menampilkan karya terbaik mereka dan menekankan pentingnya sikap menghargai keberagaman pandangan dan budaya.
Memahami: Peserta didik dalam kelompok terakhir kali memeriksa dan menyempurnakan infografis atau poster digital mereka, memastikan semua informasi akurat, visual menarik, dan pesan tersampaikan dengan jelas. Mereka juga menyiapkan strategi presentasi yang efektif.
Mengaplikasi: Setiap kelompok mempresentasikan infografis atau poster digital mereka di depan kelas. Setelah presentasi, diadakan sesi tanya jawab dan diskusi. Peserta didik lain memberikan pertanyaan atau tanggapan kritis terkait konten dan penyajian.
Merefleksi: Guru dan peserta didik secara bersama-sama merefleksikan proses pembelajaran dan hasil proyek. Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap setiap kelompok, baik dari segi konten, kreativitas, maupun kemampuan presentasi. Diskusi diarahkan pada relevansi warisan sejarah ini dengan kehidupan modern dan pentingnya toleransi budaya.
Penutup: Guru memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta didik atas kerja keras dan hasil karya mereka. Guru melakukan refleksi akhir pembelajaran, menanyakan 'Apa pelajaran terpenting yang kalian dapatkan dari materi ini?' dan 'Bagaimana kalian akan menerapkan sikap kritis dan menghargai keberagaman dalam kehidupan sehari-hari?'. Doa penutup.
Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan progres penyusunan infografis/poster digital.
Akhir (sumatif): Penilaian infografis/poster digital dan presentasi kelompok.
| Tujuan | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|
| Menganalisis perkembangan kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia berdasarkan sumber sejarah. | Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia (Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Majapahit). | 2 JP | penalaran kritis |
| Mengidentifikasi faktor-faktor kemunduran kerajaan Hindu-Buddha dan munculnya kerajaan Islam. | Transisi Hindu-Buddha ke Islam, jalur penyebaran Islam. | 2 JP | kewargaan |
| Menganalisis perkembangan kerajaan Islam dan pengaruhnya terhadap masyarakat. | Kerajaan Islam di Indonesia (Samudera Pasai, Demak, Ternate-Tidore), akulturasi budaya. | 2 JP | kolaborasi |
Sejarah Indonesia kaya akan peradaban besar yang membentuk fondasi bangsa. Dari kemegahan candi-candi Hindu-Buddha hingga jejak-jejak peradaban Islam yang tersebar luas, semua adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kita. Modul ini akan membawa kita menyelami masa lalu yang gemilang, memahami bagaimana kerajaan-kerajaan ini berdiri, berkembang, dan meninggalkan warisan yang abadi.
Indonesia mengenal peradaban Hindu-Buddha melalui jalur perdagangan maritim dengan India dan Tiongkok. Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur menjadi kerajaan Hindu tertua dengan bukti prasasti Yupa. Kemudian muncul Tarumanegara di Jawa Barat dengan Raja Purnawarman yang terkenal. Kerajaan Sriwijaya di Sumatera tumbuh menjadi kemaharajaan maritim Buddhis yang menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara, menjadi pusat studi agama Buddha. Peninggalan mereka seperti Prasasti Kedukan Bukit dan Candi Muara Takus menunjukkan kejayaan maritim dan keagamaan.
Puncak kejayaan kerajaan Hindu di Nusantara dicapai oleh Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Didirikan oleh Raden Wijaya, Majapahit mencapai masa keemasan di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, dengan ambisi mempersatukan Nusantara melalui Sumpah Palapa. Peninggalan seperti Kitab Negarakertagama dan Candi Penataran menjadi bukti kemajuan peradaban mereka. Namun, konflik internal dan perebutan kekuasaan menjadi faktor penting kemunduran Majapahit hingga akhirnya runtuh pada abad ke-15.
Islam masuk ke Nusantara secara damai melalui jalur perdagangan, terutama oleh para pedagang dari Gujarat dan Timur Tengah. Proses penyebaran juga dipercepat melalui perkawinan, pendidikan (pesantren), dan dakwah oleh para ulama. Wali Songo di Jawa memiliki peran sentral dalam mengislamkan masyarakat dengan pendekatan budaya. Akulturasi Islam dengan budaya lokal menghasilkan corak kebudayaan yang khas, seperti terlihat pada arsitektur masjid kuno dan seni pertunjukan.
Setelah kemunduran Majapahit, banyak kerajaan Islam baru bermunculan. Samudera Pasai di Aceh menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan dan studi Islam. Di Jawa, Kesultanan Demak menjadi kerajaan Islam pertama yang kuat, diikuti oleh Pajang dan Mataram Islam. Di wilayah timur, Kesultanan Ternate dan Tidore menjadi kekuatan maritim yang penting berkat rempah-rempah. Kerajaan-kerajaan ini tidak hanya menyebarkan Islam tetapi juga mengembangkan sistem pemerintahan dan kebudayaan baru yang memperkaya khazanah bangsa.
Kerajaan Hindu-Buddha dan Islam meninggalkan warisan budaya yang tak ternilai. Dari arsitektur megah seperti candi dan masjid, seni pahat, sastra kuno (kakawin, hikayat), hingga sistem kepercayaan dan nilai-nilai sosial. Warisan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia mampu menyerap dan mengadaptasi pengaruh asing, menciptakan kebudayaan yang unik dan majemuk. Memahami warisan ini membantu kita menghargai keberagaman budaya dan sejarah yang membentuk identitas bangsa Indonesia.
Rangkuman: Peradaban Hindu-Buddha dan Islam secara berurutan membentuk wajah awal Indonesia. Kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan kejayaan maritim dan budaya. Kemudian, Islam masuk secara damai, berakulturasi dengan budaya lokal, dan melahirkan kerajaan-kerajaan seperti Demak dan Ternate. Kedua periode ini meninggalkan warisan budaya, sosial, dan politik yang kaya, menjadi fondasi bagi keberagaman dan identitas bangsa Indonesia hingga kini.
Tujuan: Menganalisis karakteristik dan peninggalan kerajaan Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia.
Alat & bahan: Buku paket Sejarah, internet, peta Indonesia, alat tulis, kertas HVS
| Akulturasi | Proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling memengaruhi tanpa menghilangkan kebudayaan asli. |
| Prasasti | Piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama seperti batu atau logam. |
| Nusantara | Istilah kuno untuk menyebut wilayah kepulauan Indonesia. |
| Sumpah Palapa | Sumpah yang diucapkan Gajah Mada untuk tidak akan menikmati palapa (rempah-rempah) sebelum berhasil mempersatukan Nusantara. |
| Wali Songo | Sembilan tokoh penyebar agama Islam di Jawa pada abad ke-14 dan 15. |
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Sejarah kelas X langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.