tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMPBahasa Sunda › Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda
SMP · Kelas VII · Fase D

Modul Ajar Bahasa Sunda Kelas VII
Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda

Modul ajar Bahasa Sunda SMP kelas VII materi Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Bahasa Sunda kelas VII materi Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda
Ringkasan: Ragam bahasa Sunda atau undak-usuk basa adalah sistem penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan konteks komunikasi, hubungan penutur, dan lawan bicara. Tiga ragam utama adalah basa loma (akrab), basa lemes keur ka sorangan (halus untuk diri sendiri), dan basa lemes keur ka batur (halus untuk orang lain). Tatakrama basa Sunda menekankan pentingnya kesopanan dan penghormatan dalam berkomunikasi, mencerminkan nilai-nilai budaya Sunda.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + PraktikDimensi: Komunikasi, Kewargaan, KemandirianWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISBahasa Sunda · Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu memahami, menganalisis, dan memproduksi teks lisan dan tulis dalam berbagai ragam bahasa Sunda sesuai konteks dan tatakrama komunikasi, serta mengapresiasi nilai-nilai budaya Sunda.

Acuan: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025

Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari di lingkungan keluarga atau pergaulan.

Pemahaman bermakna: Memahami ragam bahasa dan tatakrama bahasa Sunda sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif, santun, dan menghargai budaya lokal, sehingga terhindar dari kesalahpahaman dan menjaga hubungan baik.

Pertanyaan pemantik: Mengapa kita tidak bisa berbicara dengan teman sebaya menggunakan bahasa yang sama saat berbicara dengan orang tua atau guru?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur dalam teks percakapan.

Kegiatan awal: Peserta didik disambut dengan salam dan doa, dilanjutkan dengan presensi. Guru menampilkan video pendek percakapan dalam bahasa Sunda dan mengajukan pertanyaan pemantik: 'Apa yang kalian rasakan saat mendengar percakapan ini? Apakah ada perbedaan cara bicara antara tokoh-tokohnya?' Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi ragam bahasa Sunda.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengamati beberapa contoh teks percakapan yang berbeda konteks (misalnya, percakapan dengan teman, dengan orang tua, dengan guru). Mereka diminta untuk menggarisbawahi kata-kata yang dirasa berbeda dan mendiskusikan mengapa kata-kata tersebut digunakan secara berbeda.

Mengaplikasi: Setiap kelompok mengisi LKPD untuk mengklasifikasikan kata-kata yang ditemukan ke dalam kategori 'bahasa akrab', 'bahasa hormat untuk diri sendiri', dan 'bahasa hormat untuk orang lain'. Mereka mencoba merumuskan ciri-ciri masing-masing kategori berdasarkan pengamatan.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Guru memberikan umpan balik, menguatkan pemahaman tentang konsep ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur, serta meluruskan miskonsepsi. Peserta didik mencatat poin-poin penting.

Penutup: Guru membimbing peserta didik menyimpulkan materi hari ini. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif dan semangat belajar. Peserta didik melakukan refleksi singkat tentang pembelajaran hari ini dan guru memberikan gambaran materi pertemuan berikutnya. Pembelajaran ditutup dengan doa.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning (PBL)

Tujuan: Menganalisis perbedaan penggunaan ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur berdasarkan konteks komunikasi.

Kegiatan awal: Peserta didik diajak untuk mengingat kembali materi pertemuan sebelumnya. Guru menampilkan skenario percakapan yang kurang tepat penggunaan ragam bahasanya dan meminta peserta didik mengidentifikasi kesalahan tersebut. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menganalisis penggunaan ragam bahasa sesuai konteks.

Memahami: Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok diberikan beberapa kasus atau situasi komunikasi yang berbeda (misalnya, meminta izin kepada orang tua, bercerita dengan teman, bertanya kepada guru). Mereka diminta untuk menganalisis ragam bahasa yang paling tepat digunakan dalam setiap situasi tersebut.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik merancang dialog singkat untuk setiap kasus, dengan memperhatikan penggunaan ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur yang sesuai. Mereka juga menuliskan alasan pemilihan ragam bahasa tersebut berdasarkan konteks lawan bicara, tempat, dan topik.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan dialog yang telah dibuat. Kelompok lain memberikan masukan dan pertanyaan. Guru memfasilitasi diskusi, menekankan pentingnya tatakrama bahasa, dan memberikan penguatan konsep tentang keselarasan ragam bahasa dengan konteks komunikasi.

Penutup: Peserta didik bersama-sama menyimpulkan pentingnya analisis konteks dalam berbahasa Sunda. Guru memberikan apresiasi atas kerja sama kelompok dan memberikan motivasi untuk terus berlatih. Guru menjelaskan tugas rumah berupa observasi percakapan sehari-hari. Pembelajaran diakhiri dengan doa.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning (PjBL)

Tujuan: Memproduksi kalimat atau dialog pendek menggunakan ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur dengan tepat serta mempraktikkan percakapan sederhana.

Kegiatan awal: Peserta didik diajak melakukan permainan singkat 'Tebak Ragam Bahasa' untuk merefresh ingatan. Guru kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membuat proyek dialog dan mempraktikkannya, sebagai puncak pemahaman materi.

Memahami: Guru menjelaskan proyek yang akan dikerjakan: membuat naskah dialog pendek (2-3 menit) yang menggambarkan situasi sehari-hari dan melibatkan penggunaan minimal dua ragam bahasa Sunda yang berbeda (loma dan lemes). Peserta didik diberikan kebebasan memilih tema.

Mengaplikasi: Secara berpasangan, peserta didik mulai merancang naskah dialog mereka. Mereka harus memastikan setiap kalimat menggunakan ragam bahasa yang tepat sesuai peran dan konteks. Guru berkeliling memberikan bimbingan dan umpan balik. Setelah naskah selesai, mereka berlatih memerankan dialog tersebut.

Merefleksi: Pasangan peserta didik secara bergiliran menampilkan dialog mereka di depan kelas. Peserta didik lain dan guru memberikan umpan balik konstruktif terkait penggunaan ragam bahasa, intonasi, dan ekspresi. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya konsistensi dalam tatakrama bahasa.

Penutup: Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan seluruh materi yang telah dipelajari tentang ragam bahasa dan tatakrama bahasa Sunda. Guru memberikan apresiasi yang tinggi atas usaha dan kreativitas peserta didik dalam proyek ini, serta motivasi untuk terus melestarikan bahasa Sunda. Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dalam suasana ceria.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, ketepatan dalam mengisi LKPD, dan kemampuan menganalisis konteks penggunaan ragam bahasa.

Akhir (sumatif): Penilaian proyek naskah dialog dan praktik percakapan yang mencakup ketepatan penggunaan ragam bahasa dan kelancaran berbicara.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur.Konsep ragam basa Sunda dan contohnya.4 JPKomunikasi
Menganalisis perbedaan penggunaan ragam basa berdasarkan konteks.Konteks komunikasi dan relevansi ragam bahasa.4 JPPenalaran Kritis
Memproduksi dan mempraktikkan dialog dengan tatakrama bahasa Sunda.Penyusunan naskah dialog dan praktik percakapan.4 JPKemandirian, Komunikasi

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Bahasa Sunda adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam sistem ragam bahasanya. Memahami dan menguasai ragam bahasa serta tatakrama berbahasa Sunda bukan hanya tentang tata bahasa, tetapi juga tentang menghargai lawan bicara dan melestarikan nilai-nilai kesopanan dalam masyarakat Sunda. Modul ini akan membimbingmu untuk menjelajahi keindahan dan kerumitan ragam bahasa Sunda.

Naon Ari Ragam Basa Sunda Teh?

Ragam bahasa Sunda adalah variasi penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan konteks komunikasi, terutama hubungan antara penutur dan lawan bicara. Penentuan ragam bahasa ini sangat dipengaruhi oleh usia, status sosial, dan keakraban. Dalam bahasa Sunda, dikenal beberapa tingkatan atau ragam bahasa yang disebut 'undak-usuk basa'. Sistem ini membantu penutur memilih kata dan frasa yang tepat agar komunikasi berjalan lancar, santun, dan sesuai dengan etika berbahasa. Pemahaman terhadap ragam bahasa ini adalah kunci untuk berkomunikasi secara efektif dan menghargai budaya Sunda.

Basa Loma: Basa Akrab keur Sasama

Basa loma adalah ragam bahasa Sunda yang digunakan dalam situasi informal atau akrab. Ragam ini biasanya digunakan saat berbicara dengan teman sebaya, anggota keluarga yang lebih muda, atau orang yang sudah sangat akrab. Ciri khas basa loma adalah penggunaan kata-kata yang lebih sederhana dan tidak terlalu formal. Contoh kata dalam basa loma antara lain: 'dahar' (makan), 'indit' (pergi), 'balik' (pulang), 'ngomong' (bicara). Meskipun informal, penggunaan basa loma tetap harus memperhatikan kesopanan agar tidak terkesan kasar atau tidak menghargai lawan bicara, terutama dalam konteks tertentu.

Basa Lemes keur ka Sorangan: Ngahormat Diri Sorangan

Basa lemes keur ka sorangan adalah ragam bahasa halus yang digunakan ketika membicarakan diri sendiri atau melakukan tindakan untuk diri sendiri, namun dalam konteks berkomunikasi dengan orang yang dihormati. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan kesopanan. Contoh kata yang digunakan: 'neda' (makan, untuk diri sendiri), 'angkat' (pergi, untuk diri sendiri), 'wangsul' (pulang, untuk diri sendiri), 'nyarios' (bicara, untuk diri sendiri). Meskipun merujuk pada diri sendiri, penggunaan ragam ini menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicara yang lebih tua atau memiliki kedudukan lebih tinggi.

Basa Lemes keur ka Batur: Ngahormat Nu Diajak Nyarita

Basa lemes keur ka batur adalah ragam bahasa halus yang digunakan ketika berbicara dengan atau membicarakan orang lain yang dihormati, seperti orang tua, guru, atau orang yang lebih tua. Ragam ini berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat dan sopan santun yang tinggi. Penggunaan kata-kata dalam ragam ini berbeda dengan basa loma maupun lemes keur ka sorangan. Contoh kata: 'tuang' (makan, untuk orang lain), 'angkat' (pergi, untuk orang lain), 'mulih' (pulang, untuk orang lain), 'nyarios' (bicara, untuk orang lain). Pemilihan ragam ini sangat penting dalam menjaga etika komunikasi dalam budaya Sunda.

Tatakrama Basa Sunda: Pituduh Komunikasi Nu Santun

Tatakrama basa Sunda adalah seperangkat aturan atau etika dalam berbahasa Sunda yang mengatur bagaimana seseorang harus berbicara agar santun, sopan, dan menghargai lawan bicara. Ini mencakup pemilihan ragam bahasa yang tepat, intonasi, ekspresi, hingga gestur. Tatakrama basa bukan hanya sekadar aturan linguistik, tetapi juga cerminan nilai-nilai budaya Sunda yang menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi, dan rasa hormat. Dengan memahami tatakrama basa, kita dapat menciptakan komunikasi yang harmonis dan mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.

Rangkuman: Ragam bahasa Sunda atau undak-usuk basa adalah sistem penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan konteks komunikasi, hubungan penutur, dan lawan bicara. Tiga ragam utama adalah basa loma (akrab), basa lemes keur ka sorangan (halus untuk diri sendiri), dan basa lemes keur ka batur (halus untuk orang lain). Tatakrama basa Sunda menekankan pentingnya kesopanan dan penghormatan dalam berkomunikasi, mencerminkan nilai-nilai budaya Sunda.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Menganalisis dan mengklasifikasikan kata-kata bahasa Sunda ke dalam ragam basa loma, lemes keur ka sorangan, dan lemes keur ka batur.

Alat & bahan: Teks percakapan berbahasa Sunda, alat tulis, lembar kerja

  1. Baca dengan seksama teks percakapan yang diberikan.
  2. Garis bawahi setiap kata kerja dan kata benda yang menurutmu memiliki variasi bentuk.
  3. Diskusikan dengan kelompokmu, kapan dan kepada siapa kata-kata tersebut digunakan.
  4. Klasifikasikan kata-kata yang telah digarisbawahi ke dalam tabel yang disediakan.
  5. Tuliskan kesimpulan singkat mengenai perbedaan penggunaan masing-masing ragam bahasa.

8 Glosarium

Ragam BasaVariasi penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan konteks.
Basa LomaRagam bahasa Sunda yang digunakan dalam situasi akrab/informal.
Basa LemesRagam bahasa Sunda yang digunakan dalam situasi formal/hormat.
Undak-usuk BasaSistem tingkatan atau ragam bahasa dalam bahasa Sunda.
Tatakrama BasaEtika atau aturan kesopanan dalam berbahasa.

9 Materi Bahasa Sunda Terkait

BiantaraBahasa sunda Kelas IX SMP
Pelajari Biantara →
Misuka sisindiranBahasa sunda Kelas IX SMP
Pelajari Misuka sisindiran →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Bahasa Sunda Ragam Bahasa Jeung Tatakrama Basa Sunda ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Sunda kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.