Modul ajar Bahasa Indonesia MTs kelas VII materi Cerita Fantasi (Narasi) lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Kompetensi awal: Peserta didik mampu memahami dan menceritakan kembali berbagai jenis cerita sederhana yang pernah didengar atau dibaca.
Pemahaman bermakna: Cerita fantasi mengajak kita berpetualang ke dunia imajinasi, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan mengasah kreativitas dalam berekspresi.
Pertanyaan pemantik: Pernahkah kalian membayangkan memiliki kekuatan super atau bertemu makhluk ajaib? Bagaimana rasanya hidup di dunia seperti itu?
Tujuan: Mengidentifikasi unsur-unsur cerita fantasi (tokoh, latar, alur, tema, amanat) yang dibaca dan didengar.
Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan menanyakan kabar peserta didik. Guru melakukan apersepsi dengan menampilkan potongan film fantasi pendek dan bertanya tentang kesan mereka. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi unsur cerita fantasi dan mengapa penting untuk mempelajarinya, serta menjelaskan garis besar kegiatan. Peserta didik diajak untuk sadar bahwa mereka akan menemukan pola cerita fantasi.
Memahami: Peserta didik menyimak pembacaan cerita fantasi pendek 'Petualangan di Negeri Awan' dan secara mandiri atau berkelompok kecil mengidentifikasi tokoh, latar, alur, tema, dan amanat yang terkandung dalam cerita tersebut, kemudian menuliskannya di buku catatan masing-masing.
Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik mendiskusikan hasil identifikasi unsur-unsur cerita fantasi dari 'Petualangan di Negeri Awan' dan membandingkannya dengan cerita fantasi lain yang pernah mereka ketahui, lalu mengisi LKPD untuk mengelompokkan unsur-unsur tersebut.
Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan umpan balik dan penguatan tentang pemahaman unsur-unsur cerita fantasi serta mengaitkannya dengan nilai-nilai moral yang bisa diambil. Peserta didik diajak untuk menyadari bahwa setiap cerita mengandung pesan.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan pembelajaran tentang unsur cerita fantasi. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik, memberikan motivasi untuk terus membaca, dan menyampaikan tugas membaca cerita fantasi lain di rumah untuk persiapan pertemuan berikutnya. Pembelajaran diakhiri dengan doa dan salam penutup yang ceria.
Tujuan: Menjelaskan karakteristik bahasa dalam cerita fantasi (penggunaan kata sifat, kata keterangan, kalimat langsung) dengan tepat dan menulis kerangka cerita fantasi berdasarkan ide orisinal dengan struktur yang runtut.
Kegiatan awal: Guru menyapa peserta didik dan mengajak mereka mengingat kembali pembelajaran sebelumnya tentang unsur cerita fantasi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menganalisis karakteristik bahasa cerita fantasi dan mulai menyusun kerangka cerita fantasi, serta menjelaskan manfaatnya dalam menulis kreatif. Peserta didik diajak untuk sadar bahwa mereka akan menjadi penulis cerita fantasi.
Memahami: Peserta didik menganalisis contoh kutipan cerita fantasi yang disediakan, fokus pada penggunaan kata sifat, kata keterangan, dan kalimat langsung yang menciptakan suasana fantasi. Mereka mendiskusikan bagaimana pemilihan kata tersebut mempengaruhi imajinasi pembaca.
Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik mencoba menyusun kerangka cerita fantasi berdasarkan ide-ide orisinal mereka, dengan memperhatikan struktur cerita (orientasi, komplikasi, resolusi) dan mulai memilih kata-kata yang mendukung nuansa fantasi. Mereka mengisi bagian kerangka cerita dalam LKPD.
Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan kerangka cerita fantasi mereka. Kelompok lain memberikan masukan dan saran terkait alur dan pilihan kata. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya kerangka dan penggunaan bahasa yang deskriptif dalam cerita fantasi. Peserta didik diajak untuk melihat bahwa ide-ide mereka bisa menjadi cerita yang menarik.
Penutup: Guru bersama peserta didik merangkum poin-poin penting tentang karakteristik bahasa dan penyusunan kerangka cerita fantasi. Guru memberikan apresiasi dan motivasi untuk terus mengembangkan ide-ide cerita. Peserta didik diberi tugas untuk menyempurnakan kerangka cerita fantasi mereka di rumah. Pembelajaran diakhiri dengan doa dan harapan agar kreativitas mereka terus berkembang.
Tujuan: Mengembangkan kerangka menjadi cerita fantasi utuh dengan pilihan kata yang menarik dan mempresentasikan cerita fantasi yang telah ditulis dengan intonasi dan ekspresi yang sesuai.
Kegiatan awal: Guru menyambut peserta didik dengan hangat dan menanyakan progres tugas kerangka cerita fantasi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengembangkan kerangka menjadi cerita utuh dan mempresentasikannya, serta pentingnya berbagi karya. Peserta didik diajak untuk sadar bahwa mereka akan menciptakan dan berbagi cerita mereka sendiri.
Memahami: Peserta didik secara individu mengembangkan kerangka cerita fantasi yang telah mereka buat menjadi cerita utuh. Mereka fokus pada pengembangan detail, penggunaan gaya bahasa yang menarik, dan penulisan dialog yang hidup, sambil merujuk pada contoh cerita fantasi yang telah dibaca.
Mengaplikasi: Setelah selesai menulis, peserta didik berlatih membaca nyaring cerita fantasi mereka di depan teman sebaya atau kelompok kecil, memperhatikan intonasi, ekspresi, dan jeda. Mereka saling memberikan masukan konstruktif untuk meningkatkan kualitas presentasi.
Merefleksi: Peserta didik secara bergiliran mempresentasikan cerita fantasi mereka di depan kelas. Guru dan teman-teman memberikan apresiasi, umpan balik positif, serta saran perbaikan. Guru memberikan penguatan tentang keberanian berekspresi dan menghargai karya orang lain. Peserta didik diajak untuk bangga dengan karya mereka dan belajar dari prosesnya.
Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan seluruh rangkaian pembelajaran tentang cerita fantasi, dari identifikasi unsur hingga penulisan dan presentasi. Guru memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas seluruh usaha dan kreativitas peserta didik, memotivasi mereka untuk terus menulis dan membaca. Pembelajaran diakhiri dengan doa, harapan agar semangat literasi terus tumbuh, dan salam penutup yang penuh kegembiraan.
Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan penyelesaian LKPD serta proses penyusunan kerangka cerita.
Akhir (sumatif): Penilaian cerita fantasi yang ditulis dan dipresentasikan berdasarkan rubrik penilaian (kreativitas, struktur, penggunaan bahasa, dan penampilan).
| Tujuan | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|
| Mengidentifikasi unsur-unsur cerita fantasi yang dibaca dan didengar. | Unsur-unsur cerita fantasi (tokoh, latar, alur, tema, amanat). | 2 JP | Penalaran Kritis |
| Menjelaskan karakteristik bahasa dalam cerita fantasi dan menulis kerangka cerita fantasi. | Karakteristik bahasa cerita fantasi (kata sifat, kata keterangan, kalimat langsung) dan struktur kerangka cerita fantasi. | 2 JP | Kreativitas |
| Mengembangkan kerangka menjadi cerita fantasi utuh dan mempresentasikannya. | Pengembangan kerangka menjadi cerita utuh, pilihan kata, dan teknik presentasi. | 2 JP | Komunikasi |
Cerita fantasi adalah gerbang menuju dunia imajinasi tanpa batas. Di dalamnya, kita bisa menemukan hal-hal ajaib yang tidak mungkin ada di dunia nyata, bertemu makhluk-makhluk unik, dan mengalami petualangan seru. Mempelajari cerita fantasi tidak hanya menghibur, tetapi juga mengasah kreativitas dan kemampuan kita dalam menyampaikan ide-ide unik.
Cerita fantasi adalah jenis cerita fiksi yang mengandung unsur-unsur khayalan, keajaiban, atau hal-hal yang tidak logis dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Cerita ini seringkali melibatkan tokoh, latar, dan peristiwa yang tidak biasa, serta memiliki kekuatan imajinatif yang kuat. Tujuannya adalah untuk menghibur pembaca dan mengajak mereka berpetualang dalam dunia rekaan penulis. Contohnya seperti cerita tentang penyihir, naga, atau perjalanan waktu.
Sebuah cerita fantasi tersusun dari beberapa unsur pembangun. Tokoh adalah pelaku dalam cerita, bisa manusia, hewan, atau makhluk khayalan. Latar adalah tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita (orientasi, komplikasi, resolusi). Tema adalah gagasan utama yang melandasi cerita, dan amanat adalah pesan moral atau pelajaran yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Memahami unsur-unsur ini membantu kita menikmati dan menganalisis cerita lebih dalam.
Gaya bahasa dalam cerita fantasi memiliki kekhasan. Penulis sering menggunakan banyak kata sifat (misalnya, 'pedang berkilauan', 'hutan gelap gulita') untuk menggambarkan detail dan menciptakan suasana. Kata keterangan (misalnya, 'melayang anggun', 'berbisik pelan') digunakan untuk menjelaskan cara suatu tindakan dilakukan. Selain itu, kalimat langsung (dialog) sangat penting untuk menghidupkan percakapan antar tokoh dan menunjukkan karakter mereka, seperti 'Jangan takut!' seru sang peri.
Secara umum, cerita fantasi memiliki struktur narasi yang terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, Orientasi, yaitu pengenalan tokoh, latar, dan awal mula konflik. Kedua, Komplikasi, yaitu munculnya masalah atau puncak konflik yang dialami tokoh. Ketiga, Resolusi, yaitu penyelesaian masalah atau konflik dalam cerita. Struktur ini membantu cerita mengalir dengan runtut dan mudah dipahami pembaca, meskipun ceritanya penuh imajinasi.
Sebelum menulis cerita fantasi yang utuh, penting untuk membuat kerangka. Kerangka membantu kita merencanakan alur cerita agar tidak keluar jalur. Mulailah dengan menentukan ide dasar, tokoh utama, dan latar tempat yang unik. Kemudian, tentukan konflik yang akan dihadapi tokoh, bagaimana konflik itu memuncak, dan bagaimana penyelesaiannya. Kerangka ini menjadi peta jalan kita dalam menulis, memastikan cerita memiliki pondasi yang kuat dan logis dalam dunia fantasinya.
Setelah kerangka tersusun, langkah selanjutnya adalah mengembangkannya menjadi cerita fantasi yang utuh. Tambahkan detail-detail deskriptif menggunakan kata sifat dan keterangan yang kaya. Kembangkan dialog antar tokoh agar terasa hidup. Pastikan setiap adegan mengalir logis sesuai kerangka. Perhatikan juga penggunaan majas atau gaya bahasa kiasan untuk memperindah cerita dan memperkuat kesan fantasi. Revisi dan baca ulang untuk memastikan alur menarik dan pesan tersampaikan.
Imajinasi adalah kunci utama dalam menulis cerita fantasi. Berani bermimpi, berani menciptakan dunia dan karakter yang belum pernah ada. Kreativitas membantu kita merangkai ide-ide tersebut menjadi sebuah narasi yang menarik dan orisinal. Jangan takut untuk bereksperimen dengan ide-ide gila, karena justru dari situlah cerita fantasi yang paling memukau bisa lahir. Semakin kaya imajinasi, semakin luas dunia fantasi yang bisa kita ciptakan.
Rangkuman: Cerita fantasi adalah fiksi yang penuh khayalan, memiliki unsur tokoh, latar, alur, tema, dan amanat. Ciri bahasanya kaya kata sifat, keterangan, dan dialog. Struktur cerita meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Menyusun kerangka dan mengembangkannya menjadi cerita utuh dengan imajinasi adalah proses kreatif yang menyenangkan, sekaligus melatih kita berekspresi secara unik.
Tujuan: Mengidentifikasi unsur-unsur pembangun cerita fantasi dan menyusun kerangka cerita fantasi.
Alat & bahan: Kertas HVS, pensil/pulpen, contoh cerita fantasi, lembar kerja.
| Fantasi | Khayalan, daya berimajinasi. |
| Narasi | Cerita atau deskripsi suatu kejadian atau serangkaian kejadian. |
| Tokoh | Pemeran dalam cerita. |
| Latar | Tempat, waktu, dan suasana dalam cerita. |
| Alur | Jalan cerita; rangkaian peristiwa. |
| Amanat | Pesan moral dalam cerita. |
| Orientasi | Pengenalan tokoh dan latar dalam cerita. |
| Komplikasi | Puncak masalah atau konflik dalam cerita. |
| Resolusi | Penyelesaian masalah dalam cerita. |
| Deskriptif | Menggambarkan sesuatu dengan detail. |
Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Indonesia kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.
Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.