tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMPPendidikan Agama Hindu › Penerapan Ajaran Tei Hitakarana
SMP · Kelas VII · Fase D

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu Kelas VII
Penerapan Ajaran Tei Hitakarana

Modul ajar Pendidikan Agama Hindu SMP kelas VII materi Penerapan Ajaran Tei Hitakarana lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kepka BKPDM No. 020 Tahun 2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Pendidikan Agama Hindu kelas VII materi Penerapan Ajaran Tei Hitakarana
Ringkasan: Tei Hitakarana adalah tiga penyebab kebahagiaan yang terdiri dari Parahyangan (hubungan dengan Tuhan), Pawongan (hubungan dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan dengan alam). Penerapan ketiga aspek ini secara seimbang akan menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan sejati dalam hidup. Konsep ini menjadi pedoman penting bagi umat Hindu untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin, serta berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + praktikDimensi: Keimanan dan Ketakwaan, Kewargaan, KolaborasiWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISPendidikan Agama Hindu · Penerapan Ajaran Tei Hitakarana · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Rumusan: Peserta didik mampu memahami ajaran Sradha dan Susila dalam agama Hindu serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud bhakti kepada Tuhan dan sesama.

Acuan: Kepka BKPDM No. 020 Tahun 2026

Kompetensi awal: Peserta didik memiliki pemahaman dasar tentang nilai-nilai luhur dalam agama Hindu dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

Pemahaman bermakna: Memahami Tei Hitakarana tidak hanya sebagai konsep filosofis, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang aplikatif untuk menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial.

Pertanyaan pemantik: Bagaimana kita bisa menciptakan kebahagiaan dan kedamaian yang sejati dalam hidup kita, di tengah berbagai tantangan dan perubahan dunia?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (5 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Menjelaskan pengertian dan bagian-bagian Tei Hitakarana dengan benar.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa bersama. Setelah itu, guru melakukan presensi dan menanyakan kabar peserta didik. Guru memantik diskusi dengan pertanyaan: "Apa yang membuat kalian merasa bahagia?" dan mengaitkannya dengan pentingnya harmoni dalam hidup. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memahami Tei Hitakarana.

Memahami: Peserta didik diajak mengamati gambar atau video tentang aktivitas keagamaan, sosial, dan pelestarian lingkungan di Bali. Mereka diajak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat dan kaitannya dengan konsep keharmonisan. Guru membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi tiga aspek penting dari gambar/video tersebut.

Mengaplikasi: Dalam kelompok kecil, peserta didik mencari informasi dari berbagai sumber (buku, internet) tentang pengertian Tei Hitakarana dan bagian-bagiannya (Parahyangan, Pawongan, Palemahan). Mereka mencatat poin-poin penting dan contoh-contoh awal yang mereka temukan.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Guru memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat, serta mengajak peserta didik merangkum pengertian dan bagian-bagian Tei Hitakarana secara bersama-sama.

Penutup: Peserta didik diajak merefleksikan pentingnya memahami Tei Hitakarana. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik dan memberikan tugas membaca materi untuk pertemuan selanjutnya. Pembelajaran ditutup dengan doa.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning

Tujuan: Mengidentifikasi contoh-contoh penerapan ajaran Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa. Guru mengulas kembali materi sebelumnya tentang pengertian Tei Hitakarana. Guru menampilkan berita atau studi kasus singkat tentang masalah lingkungan atau sosial di sekitar mereka, lalu bertanya: "Bagaimana ajaran Tei Hitakarana dapat membantu menyelesaikan masalah ini?" Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.

Memahami: Peserta didik secara individu mengidentifikasi contoh-contoh konkret penerapan Parahyangan (misal: sembahyang, menjaga kesucian tempat ibadah), Pawongan (misal: tolong-menolong, musyawarah), dan Palemahan (misal: menjaga kebersihan, menanam pohon) di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik menganalisis studi kasus yang diberikan guru (misalnya, konflik antar warga, sampah berserakan di sungai). Mereka berdiskusi bagaimana prinsip-prinsip Tei Hitakarana dapat diterapkan untuk mencari solusi atas masalah tersebut, dengan memberikan contoh tindakan nyata.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan analisis dan solusi yang mereka rumuskan. Guru memberikan umpan balik, mengklarifikasi, dan memperkaya contoh-contoh penerapan Tei Hitakarana, serta mengaitkannya dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Penutup: Peserta didik diajak menyimpulkan pentingnya Tei Hitakarana sebagai pedoman hidup. Guru memberikan apresiasi dan motivasi untuk terus menerapkan nilai-nilai luhur. Guru memberikan pengantar singkat untuk tugas proyek yang akan dimulai di pertemuan berikutnya. Pembelajaran ditutup dengan doa.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning

Tujuan: Menganalisis dampak positif penerapan Tei Hitakarana terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa. Guru menanyakan kembali pemahaman peserta didik tentang contoh penerapan Tei Hitakarana. Guru menyampaikan bahwa hari ini mereka akan mulai merancang proyek yang mengimplementasikan Tei Hitakarana, serta menyampaikan tujuan pembelajaran.

Memahami: Peserta didik secara individu merenungkan dampak positif dari penerapan Tei Hitakarana yang telah mereka pelajari, baik bagi diri sendiri (ketenangan hati), masyarakat (kerukunan), maupun lingkungan (kelestarian alam). Mereka mencatat ide-ide proyek yang relevan dengan dampak tersebut.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik mulai merancang proyek sederhana yang mengimplementasikan salah satu aspek Tei Hitakarana (misal: membuat poster kampanye kebersihan lingkungan, mengadakan kegiatan gotong royong kecil di sekolah, membuat video singkat tentang toleransi). Mereka menyusun rencana proyek meliputi tujuan, alat/bahan, langkah kerja, dan pembagian tugas.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan rancangan proyek mereka. Guru dan kelompok lain memberikan masukan konstruktif untuk penyempurnaan rancangan. Guru memastikan setiap proyek memiliki tujuan yang jelas dan dapat diimplementasikan.

Penutup: Guru memberikan penguatan dan semangat kepada peserta didik untuk melaksanakan proyeknya dengan sungguh-sungguh. Guru mengingatkan tentang jadwal pelaksanaan proyek. Pembelajaran ditutup dengan doa dan harapan agar proyek berjalan lancar.

Pertemuan 4 — Project-Based Learning

Tujuan: Merancang proyek sederhana yang mengimplementasikan salah satu aspek Tei Hitakarana di lingkungan sekolah atau rumah.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa. Guru menanyakan progres proyek yang sudah direncanakan. Guru menyampaikan bahwa hari ini adalah waktu untuk melaksanakan proyek dan menyelesaikannya. Guru mengingatkan kembali tujuan pembelajaran hari ini.

Memahami: Peserta didik dalam kelompok secara mandiri mengevaluasi kembali rencana proyek yang telah dibuat, memastikan semua anggota memahami peran dan tugas masing-masing serta ketersediaan alat dan bahan.

Mengaplikasi: Peserta didik melaksanakan proyek yang telah mereka rancang. Guru berkeliling mengamati, memberikan bimbingan, dan memfasilitasi jika ada kendala. Peserta didik mendokumentasikan proses pelaksanaan proyek (foto/video).

Merefleksi: Setelah proyek selesai atau mencapai tahap tertentu, setiap kelompok melakukan refleksi singkat tentang tantangan yang dihadapi dan bagaimana mereka mengatasinya. Mereka juga mempersiapkan materi presentasi untuk pertemuan selanjutnya.

Penutup: Guru memberikan apresiasi atas kerja keras peserta didik dalam melaksanakan proyek. Guru mengingatkan untuk mempersiapkan presentasi dengan baik. Pembelajaran ditutup dengan doa.

Pertemuan 5 — Project-Based Learning + Penilaian

Tujuan: Mempresentasikan hasil proyek penerapan Tei Hitakarana dengan percaya diri dan komunikatif.

Kegiatan awal: Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa. Guru mengulas kembali kegiatan proyek yang telah dilaksanakan. Guru menyampaikan bahwa hari ini adalah puncak dari proyek mereka, yaitu presentasi dan penilaian. Guru mengingatkan tujuan pembelajaran hari ini.

Memahami: Peserta didik secara individu atau kelompok meninjau kembali hasil proyek dan materi presentasi mereka, memastikan semua poin penting tersampaikan dan mereka siap menjawab pertanyaan.

Mengaplikasi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek penerapan Tei Hitakarana di depan kelas. Kelompok lain dan guru memberikan pertanyaan serta umpan balik. Presentasi dapat berupa demonstrasi, pameran mini, atau pemutaran video dokumentasi.

Merefleksi: Setelah semua kelompok presentasi, guru memimpin diskusi kelas untuk merefleksikan keseluruhan proses pembelajaran, mulai dari pemahaman konsep hingga implementasi proyek. Peserta didik berbagi pengalaman dan pembelajaran yang mereka dapatkan. Guru memberikan penguatan akhir dan menyimpulkan pembelajaran.

Penutup: Guru memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras, kreativitas, dan kolaborasi peserta didik. Guru memberikan motivasi untuk terus menerapkan Tei Hitakarana dalam kehidupan sehari-hari. Guru menyampaikan tindak lanjut dan menutup pembelajaran dengan doa yang menggembirakan.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, kemampuan mengidentifikasi contoh Tei Hitakarana, dan kolaborasi dalam merancang proyek.

Akhir (sumatif): Penilaian hasil proyek dan presentasi kelompok, serta tes tertulis untuk mengukur pemahaman konsep Tei Hitakarana.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Menjelaskan pengertian dan bagian-bagian Tei HitakaranaPengertian dan bagian Tei Hitakarana2 JPKeimanan dan Ketakwaan
Mengidentifikasi contoh-contoh penerapan Tei HitakaranaContoh penerapan Parahyangan, Pawongan, Palemahan2 JPKewargaan
Menganalisis dampak positif Tei HitakaranaDampak positif Tei Hitakarana2 JPPenalaran Kritis
Merancang dan mempresentasikan proyek Tei HitakaranaRancangan dan presentasi proyek4 JPKolaborasi, Kreativitas

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Ajaran Tei Hitakarana merupakan salah satu konsep fundamental dalam agama Hindu yang mengajarkan tentang tiga penyebab kebahagiaan. Konsep ini menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Dengan memahami dan menerapkan ajaran ini, kita diharapkan dapat menciptakan kehidupan yang seimbang, damai, dan penuh kebahagiaan di dunia ini.

Pengertian Tei Hitakarana

Tei Hitakarana berasal dari kata 'Tei' yang berarti tiga, 'Hita' yang berarti kebahagiaan atau kesejahteraan, dan 'Karana' yang berarti penyebab. Jadi, Tei Hitakarana adalah tiga penyebab kebahagiaan. Konsep ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan sejati, manusia harus menjaga hubungan yang harmonis dalam tiga aspek kehidupan, yaitu hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam lingkungan. Ini adalah filosofi hidup yang mendalam dan aplikatif.

Bagian Pertama: Parahyangan

Parahyangan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (Hyang Widhi Wasa). Bentuk penerapan Parahyangan meliputi pelaksanaan yadnya (persembahan suci), seperti sembahyang, puja tri sandhya, perayaan hari raya keagamaan, serta menjaga kesucian tempat-tempat ibadah. Menjaga kebersihan dan kesucian diri serta pikiran juga termasuk dalam Parahyangan. Melalui Parahyangan, umat Hindu menunjukkan rasa syukur dan bhakti kepada Tuhan, memohon tuntunan, serta membersihkan diri dari segala kekotoran batin.

Bagian Kedua: Pawongan

Pawongan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Penerapan Pawongan mencakup sikap saling menghormati, tolong-menolong, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, serta mengembangkan rasa persaudaraan dan toleransi. Menghindari permusuhan, iri hati, dan dengki juga merupakan bagian penting dari Pawongan. Dengan menjaga hubungan baik antar sesama, masyarakat dapat hidup rukun, damai, dan saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama.

Bagian Ketiga: Palemahan

Palemahan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan. Penerapan Palemahan meliputi menjaga kebersihan lingkungan, melestarikan alam, tidak merusak hutan, menjaga kesucian sumber air, serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Menanam pohon, mengelola sampah dengan baik, dan tidak membuang limbah sembarangan adalah contoh nyata Palemahan. Dengan menjaga kelestarian alam, manusia akan mendapatkan manfaat berupa lingkungan yang sehat dan lestari untuk keberlangsungan hidup.

Dampak Positif Penerapan Tei Hitakarana

Penerapan Tei Hitakarana membawa dampak positif yang sangat besar. Bagi individu, akan tercipta ketenangan batin, kebahagiaan, dan kedamaian hidup. Bagi masyarakat, akan terwujud kerukunan, persatuan, dan keharmonisan sosial. Bagi lingkungan, akan tercipta kelestarian alam yang mendukung keberlangsungan hidup semua makhluk. Tei Hitakarana menjadi fondasi untuk membangun peradaban yang beradab dan berkelanjutan, di mana manusia hidup selaras dengan pencipta, sesama, dan alam semesta.

Contoh Konkret dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan Tei Hitakarana dapat dilihat dari berbagai kegiatan. Contoh Parahyangan adalah sembahyang setiap pagi dan sore, serta merayakan Galungan dan Kuningan. Contoh Pawongan adalah membantu tetangga yang kesusahan, bergotong royong membersihkan lingkungan desa, atau bermusyawarah di banjar. Contoh Palemahan adalah tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon di pekarangan rumah, atau menjaga kebersihan sungai. Semua tindakan ini secara holistik menciptakan kebahagiaan.

Rangkuman: Tei Hitakarana adalah tiga penyebab kebahagiaan yang terdiri dari Parahyangan (hubungan dengan Tuhan), Pawongan (hubungan dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan dengan alam). Penerapan ketiga aspek ini secara seimbang akan menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan sejati dalam hidup. Konsep ini menjadi pedoman penting bagi umat Hindu untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin, serta berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Mengidentifikasi dan mengelompokkan contoh-contoh penerapan Tei Hitakarana dalam kehidupan sehari-hari.

Alat & bahan: lembar kerja, alat tulis, buku paket, internet (jika memungkinkan)

  1. Bacalah kembali materi tentang Tei Hitakarana dan bagian-bagiannya (Parahyangan, Pawongan, Palemahan).
  2. Diskusikan dengan kelompokmu contoh-contoh konkret penerapan ketiga bagian Tei Hitakarana yang kalian temui di keluarga, sekolah, atau masyarakat.
  3. Tuliskan contoh-contoh tersebut pada kolom yang sesuai di tabel di bawah ini.
  4. Berikan penjelasan singkat mengapa contoh tersebut termasuk dalam kategori Parahyangan, Pawongan, atau Palemahan.
  5. Siapkan hasil diskusimu untuk dipresentasikan di depan kelas.

8 Glosarium

Tei HitakaranaTiga penyebab kebahagiaan
ParahyanganHubungan harmonis manusia dengan Tuhan
PawonganHubungan harmonis manusia dengan sesama manusia
PalemahanHubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan
YadnyaPersembahan suci
Hyang Widhi WasaTuhan Yang Maha Esa (dalam agama Hindu)

9 Materi Pendidikan Agama Hindu Terkait

Asta Aiswarya ( Anima,Laghima,Mahima,Prapti,Prakamya, Isitwa, Wasitwa, Wasayitwa )Pendidikan Agama Hindu Kelas VII SMP
Pelajari Asta Aiswarya ( Anima,Laghima,Mahima,Prapti,Prakamya, Isitwa, Wasitwa, Wasayitwa ) →
Atman dan KarmaphalaPendidikan Agama Hindu Kelas VII SMP
Pelajari Atman dan Karmaphala →
Itihasa (Ramayana dan Mahabharata)Pendidikan Agama Hindu Kelas VII SMP
Pelajari Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) →
UPAKARA ( sarana upacara yajna )Pendidikan Agama Hindu Kelas VII SMP
Pelajari UPAKARA ( sarana upacara yajna ) →
UPAVEDAPendidikan Agama Hindu Kelas VII SMP
Pelajari UPAVEDA →
Mengaplikasikan ajaran catur marga yogaPendidikan Agama Hindu Kelas IX SMP
Pelajari Mengaplikasikan ajaran catur marga yoga →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Pendidikan Agama Hindu Penerapan Ajaran Tei Hitakarana ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Pendidikan Agama Hindu kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kepka BKPDM No. 020 Tahun 2026.

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.