tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar SMPPendidikan Pancasila › Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan
SMP · Kelas VII · Fase D

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas VII
Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan

Modul ajar Pendidikan Pancasila SMP kelas VII materi Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Pendidikan Pancasila kelas VII materi Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan
Ringkasan: Perumusan Pancasila oleh Panitia Sembilan adalah tonggak sejarah penting. Panitia ini, yang terdiri dari tokoh-tokoh bangsa, berhasil merumuskan Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Pembukaan UUD 1945 setelah melalui perubahan untuk mengakomodasi keberagaman. Proses ini mengajarkan kita tentang pentingnya musyawarah, toleransi, dan persatuan dalam membangun bangsa.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + Praktik DiskusiDimensi: kewargaan, penalaran kritis, kolaborasiWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISPendidikan Pancasila · Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Kompetensi awal: Peserta didik memahami sejarah singkat pembentukan BPUPKI dan pentingnya dasar negara bagi suatu bangsa.

Pemahaman bermakna: Memahami proses perumusan Pancasila oleh Panitia Sembilan membantu peserta didik menghargai nilai-nilai musyawarah, persatuan, dan keberagaman sebagai fondasi negara.

Pertanyaan pemantik: Mengapa perumusan dasar negara Indonesia tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, dan apa hikmahnya bagi kita saat ini?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (3 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi latar belakang pembentukan Panitia Sembilan dalam perumusan dasar negara.

Kegiatan awal: Guru menyapa dan mengajak peserta didik berdoa, kemudian mengecek kehadiran. Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan 'Apa yang kalian ketahui tentang BPUPKI dan mengapa penting bagi Indonesia memiliki dasar negara?'. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik untuk memicu rasa ingin tahu peserta didik.

Memahami: Peserta didik secara individu mencari informasi dari berbagai sumber (buku teks, internet, video pendek) tentang latar belakang pembentukan Panitia Sembilan dan alasan mengapa BPUPKI merasa perlu membentuk panitia khusus ini. Mereka mencatat poin-poin penting yang ditemukan.

Mengaplikasi: Peserta didik berkelompok untuk mendiskusikan hasil temuan masing-masing, kemudian menyusun peta konsep atau infografis sederhana mengenai kronologi dan tujuan pembentukan Panitia Sembilan. Mereka berbagi pemahaman awal tentang pentingnya Panitia Sembilan.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan peta konsepnya di depan kelas. Guru memberikan umpan balik dan penguatan, serta mengajak peserta didik merangkum poin-poin penting tentang latar belakang pembentukan Panitia Sembilan. Guru memastikan semua peserta didik memahami konteks sejarahnya.

Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi hari ini, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, dan mengingatkan untuk mempersiapkan diri untuk materi selanjutnya. Doa penutup dilakukan dengan semangat kebangsaan.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning (PBL)

Tujuan: Menganalisis peran dan kontribusi tokoh-tokoh Panitia Sembilan dalam perumusan Pancasila serta mendeskripsikan hasil kerja Panitia Sembilan dalam bentuk Piagam Jakarta.

Kegiatan awal: Guru memulai dengan salam dan doa, dilanjutkan dengan presensi. Guru mengingatkan kembali materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan topik hari ini: 'Siapa saja anggota Panitia Sembilan dan apa peran mereka dalam merumuskan dasar negara?'. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis.

Memahami: Peserta didik menerima kasus atau skenario singkat tentang perbedaan pandangan dalam perumusan dasar negara. Mereka secara mandiri atau berpasangan mengidentifikasi tokoh-tokoh Panitia Sembilan dan menelusuri kontribusi serta pemikiran mereka dalam menyusun Piagam Jakarta dari berbagai sumber. Mereka fokus pada bagaimana perbedaan pandangan dapat disatukan.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik menganalisis data yang terkumpul, mengidentifikasi peran kunci setiap tokoh, dan menyusun laporan singkat atau presentasi tentang proses perumusan Piagam Jakarta, termasuk poin-poin utama isinya. Mereka berdiskusi tentang bagaimana Piagam Jakarta menjadi kompromi penting.

Merefleksi: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka mengenai peran tokoh dan isi Piagam Jakarta. Guru memfasilitasi diskusi kelas, mengoreksi miskonsepsi, dan memberikan penguatan tentang pentingnya musyawarah dan kompromi dalam mencapai kesepakatan nasional. Guru juga menyoroti nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam proses tersebut.

Penutup: Guru bersama peserta didik membuat rangkuman singkat tentang peran Panitia Sembilan dan Piagam Jakarta. Guru memberikan apresiasi atas semangat belajar dan kerja sama. Peserta didik diberikan tugas mandiri untuk mempersiapkan materi perubahan Piagam Jakarta. Doa penutup dilaksanakan dengan penuh rasa syukur.

Pertemuan 3 — Project-Based Learning (PjBL)

Tujuan: Menjelaskan perubahan redaksi Piagam Jakarta menjadi Pembukaan UUD 1945 serta menghargai nilai-nilai kebersamaan dan musyawarah dalam proses perumusan Pancasila.

Kegiatan awal: Guru menyapa dan mengajak berdoa, dilanjutkan dengan presensi. Guru membuka pelajaran dengan pertanyaan 'Mengapa ada perubahan pada Piagam Jakarta sebelum disahkan menjadi Pembukaan UUD 1945?'. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan kegiatan proyek yang akan dilakukan.

Memahami: Peserta didik secara individu menelaah perbedaan redaksi antara Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945 dari teks yang disediakan. Mereka mengidentifikasi kalimat yang berubah dan mencari tahu alasan di balik perubahan tersebut, terutama terkait sila pertama.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik membuat poster digital atau infografis cetak yang membandingkan Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945, menyoroti perubahan yang terjadi dan alasan historisnya. Mereka juga menambahkan pesan tentang nilai-nilai musyawarah dan persatuan yang dicerminkan dalam proses tersebut. Proyek ini mendorong mereka untuk menyajikan informasi secara kreatif.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyeknya. Guru dan peserta didik lain memberikan umpan balik konstruktif. Guru memberikan penguatan tentang makna perubahan redaksi dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, serta pentingnya toleransi antarumat beragama. Guru menekankan bahwa proses ini adalah bukti kematangan bangsa Indonesia.

Penutup: Guru bersama peserta didik menyimpulkan seluruh materi tentang perumusan Pancasila, memberikan apresiasi tinggi atas semua karya dan partisipasi. Guru mengajak peserta didik merefleksikan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara. Doa penutup dilakukan dengan harapan agar nilai-nilai Pancasila selalu terinternalisasi dalam kehidupan mereka.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif dalam diskusi kelompok, kualitas infografis/peta konsep, dan presentasi.

Akhir (sumatif): Tes tertulis (pilihan ganda dan esai) serta penilaian proyek poster digital/infografis.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi latar belakang pembentukan Panitia Sembilan dalam perumusan dasar negara.Latar belakang pembentukan Panitia Sembilan.2 JPpenalaran kritis
Menganalisis peran dan kontribusi tokoh-tokoh Panitia Sembilan dalam perumusan Pancasila.Peran tokoh Panitia Sembilan dan Piagam Jakarta.2 JPkolaborasi
Menjelaskan perubahan redaksi Piagam Jakarta menjadi Pembukaan UUD 1945.Perubahan Piagam Jakarta ke Pembukaan UUD 1945.2 JPkewargaan

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Pancasila adalah dasar negara kita yang lahir dari perjuangan panjang para pendiri bangsa. Salah satu tahapan penting dalam perumusan Pancasila adalah peran Panitia Sembilan. Modul ini akan mengajak kita menyelami sejarah dan nilai-nilai luhur di balik perumusan dasar negara yang menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Pembentukan BPUPKI dan Kebutuhan Dasar Negara

Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk pada 29 April 1945 oleh pemerintah Jepang. Tugas utamanya adalah menyelidiki hal-hal penting yang diperlukan untuk persiapan kemerdekaan, termasuk merumuskan dasar negara. Dalam sidang pertamanya, banyak anggota BPUPKI mengemukakan usulan tentang dasar negara, namun belum ada kesepakatan final. Ini menunjukkan betapa krusialnya mencari titik temu di tengah beragamnya pandangan.

Latar Belakang Pembentukan Panitia Sembilan

Karena belum tercapainya kesepakatan bulat mengenai dasar negara dalam sidang BPUPKI, pada tanggal 22 Juni 1945 dibentuklah sebuah panitia kecil yang dikenal sebagai Panitia Sembilan. Panitia ini dibentuk dengan tujuan untuk merumuskan kembali gagasan-gagasan tentang dasar negara yang telah disampaikan oleh para anggota BPUPKI sebelumnya. Pembentukan panitia ini adalah upaya untuk menemukan rumusan yang dapat diterima oleh semua golongan.

Anggota dan Peran Panitia Sembilan

Panitia Sembilan terdiri dari tokoh-tokoh penting perwakilan berbagai golongan, yaitu Ir. Soekarno (Ketua), Drs. Mohammad Hatta (Wakil Ketua), Mr. Achmad Soebardjo, Mr. Muhammad Yamin, Mr. A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H. Agus Salim, dan Wahid Hasyim. Mereka mewakili golongan nasionalis dan Islam, menunjukkan semangat kebersamaan dalam merumuskan dasar negara.

Proses Perumusan Piagam Jakarta

Setelah melalui perdebatan dan musyawarah yang intens, Panitia Sembilan berhasil merumuskan sebuah naskah yang kemudian dikenal sebagai 'Piagam Jakarta' pada tanggal 22 Juni 1945. Naskah ini merupakan cikal bakal Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Proses perumusannya melibatkan kompromi dan kesepahaman antaranggota untuk menghasilkan rumusan yang inklusif.

Isi Pokok Piagam Jakarta

Piagam Jakarta memuat lima sila sebagai dasar negara, yaitu: 1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan ini adalah hasil dari pemikiran dan kompromi para tokoh bangsa.

Perubahan Redaksi Piagam Jakarta

Beberapa hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan, terdapat usulan dari perwakilan Indonesia bagian Timur untuk mengubah kalimat 'Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. Perubahan ini dilakukan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta mengakomodasi seluruh rakyat Indonesia yang beragam agama. Ini menunjukkan jiwa besar para pendiri bangsa.

Piagam Jakarta Menjadi Pembukaan UUD 1945

Dengan perubahan tersebut, Piagam Jakarta kemudian disahkan menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penting yang menunjukkan bahwa Pancasila adalah hasil dari konsensus nasional dan semangat toleransi yang tinggi.

Nilai-nilai Luhur dalam Perumusan Pancasila

Proses perumusan Pancasila oleh Panitia Sembilan mengandung nilai-nilai luhur seperti musyawarah untuk mufakat, persatuan, toleransi, dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga dan amalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai wujud penghargaan terhadap jasa para pahlawan.

Relevansi Perumusan Pancasila Kini

Memahami proses perumusan Pancasila bukan hanya tentang menghafal sejarah, tetapi juga meneladani semangat para pendiri bangsa dalam menghadapi perbedaan. Di era modern ini, kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji persatuan. Nilai-nilai Pancasila, yang lahir dari proses musyawarah, tetap relevan sebagai panduan kita dalam menjaga keutuhan bangsa dan menyelesaikan masalah bersama.

Rangkuman: Perumusan Pancasila oleh Panitia Sembilan adalah tonggak sejarah penting. Panitia ini, yang terdiri dari tokoh-tokoh bangsa, berhasil merumuskan Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Pembukaan UUD 1945 setelah melalui perubahan untuk mengakomodasi keberagaman. Proses ini mengajarkan kita tentang pentingnya musyawarah, toleransi, dan persatuan dalam membangun bangsa.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Menganalisis peran tokoh Panitia Sembilan dan isi Piagam Jakarta serta perubahannya.

Alat & bahan: Lembar kerja, alat tulis, buku teks, gawai dengan akses internet.

  1. Bentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang.
  2. Baca dan pahami materi tentang Panitia Sembilan dan Piagam Jakarta.
  3. Diskusikan peran masing-masing tokoh Panitia Sembilan dan poin-poin penting Piagam Jakarta.
  4. Identifikasi perbedaan antara Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945.
  5. Buat rangkuman hasil diskusi dalam bentuk tabel perbandingan dan kesimpulan.

8 Glosarium

BPUPKIBadan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Panitia SembilanPanitia kecil yang dibentuk BPUPKI untuk merumuskan dasar negara.
Piagam JakartaNaskah awal perumusan dasar negara yang dihasilkan Panitia Sembilan.
KonsensusKesepakatan bersama yang dicapai melalui musyawarah.
ToleransiSikap saling menghargai perbedaan.
UUD 1945Undang-Undang Dasar 1945, konstitusi negara Republik Indonesia.

9 Materi Pendidikan Pancasila Terkait

Perumusan dan Penetapan PancasilaPendidikan Pancasila Kelas VII SMP
Pelajari Perumusan dan Penetapan Pancasila →
bab 2 penerapan nilai-nilai pancasilaPendidikan Pancasila Kelas VII SMP
Pelajari bab 2 penerapan nilai-nilai pancasila →
Norma dan UUD NRI 1945Pendidikan Pancasila Kelas VII SMP
Pelajari Norma dan UUD NRI 1945 →
Hunungan pancasila,undang-undang dasar 1945,bhineka tinggal ikaPendidikan Pancasila Kelas IX SMP
Pelajari Hunungan pancasila,undang-undang dasar 1945,bhineka tinggal ika →
Pancasila sebagai Dasar NegaraPendidikan Pancasila Kelas VIII SMP
Pelajari Pancasila sebagai Dasar Negara →
Hak dan kewajiban warga negarPendidikan Pancasila Kelas IX SMP
Pelajari Hak dan kewajiban warga negar →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Pendidikan Pancasila Perumusan Pancasila oleh panitia sembilan ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Pendidikan Pancasila kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.