Modul Ajar & RPP IPS Kelas VII
Potensi Bencana Alam di Indonesia
Sudah jadi 11 lembar, tinggal tulis nama Anda ✍️
🎁 100% GRATIS · unduh Word + PDF tanpa bayar
Gratis 3 modul, tanpa bayar apa pun.
TERBARUTP 2026/2027Rumus 8-3-3-4Pembelajaran Mendalam
- 8Dimensi Profil Lulusan: keimanan & ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi
- 3Prinsip Pembelajaran: berkesadaran, bermakna, menggembirakan
- 3Pengalaman Belajar: memahami, mengaplikasi, merefleksi
- 4Kerangka Pembelajaran: praktik pedagogis, kemitraan, lingkungan, pemanfaatan digital
📜 Dasar: Permendikdasmen 13/2025 · Standar Proses 1/2026 · CP 046/H/KR/2025 jo. 020/2026
“Lebih fleksibel, mempersingkat waktu, dan jelas.”
Isi modul ini
Di bawah ini 11 lembar A4 pertama, persis seperti yang terunduh. Nama & tema yang Anda pilih di atas sudah terpasang.


| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | IPS |
| Fase / Kelas | D / VII |
| Materi Pokok | Potensi Bencana Alam di Indonesia |
| Alokasi Waktu | 2 pertemuan |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Pendekatan | Pembelajaran Mendalam |
| Model Pembelajaran | Problem-Based Learning (PBL) + Studi Kasus |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Identifikasi Peserta Didik:
| Kesiapan belajar (kompetensi awal) | Peserta didik memahami konsep dasar tentang bentuk-bentuk permukaan bumi dan beberapa fenomena alam yang terjadi di Indonesia. |
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan:
- penalaran kritis — elemen: memperoleh dan memproses informasi dan gagasan
Peserta didik menganalisis informasi tentang jenis dan dampak bencana alam untuk mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan sekitar. - kewargaan — elemen: berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
Peserta didik merumuskan rekomendasi tindakan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang dapat diterapkan di komunitas mereka. - kolaborasi — elemen: bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama
Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana penanggulangan bencana skala kecil di lingkungan sekolah atau rumah.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 |
| Elemen / Domain | Pemahaman Lingkungan |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu mengidentifikasi dan menganalisis potensi, persebaran, serta karakteristik lingkungan alam dan sosial di Indonesia, termasuk tantangan dan peluang dalam pengelolaan sumber daya dan mitigasi bencana. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif, terletak di cincin api Pasifik, dan sering mengalami gempa bumi serta tsunami. |
| Konseptual | Bencana alam adalah peristiwa alam yang dapat menyebabkan kerugian bagi manusia dan lingkungan, yang dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya (geologis, hidrometeorologis, dll.) dan tingkat dampaknya. |
| Prosedural | Langkah-langkah yang dipelajari meliputi identifikasi jenis bencana, analisis faktor penyebab, pemetaan daerah rawan, dan perumusan strategi mitigasi serta kesiapsiagaan. |
| Metakognitif | Kesadaran tentang pentingnya memahami potensi bencana alam di lingkungan sekitar untuk bertindak proaktif dalam mitigasi dan adaptasi demi keselamatan diri dan komunitas. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi jenis-jenis bencana alam geologis dan hidrometeorologis yang berpotensi terjadi di Indonesia dengan tepat.
- Menganalisis faktor penyebab dan dampak dari berbagai bencana alam di Indonesia melalui studi kasus.
- Mengevaluasi upaya mitigasi struktural dan non-struktural yang sesuai untuk mengurangi risiko bencana alam.
- Merumuskan rencana kesiapsiagaan diri dan keluarga dalam menghadapi potensi bencana alam di lingkungan sekitar.
Pemahaman bermakna: Memahami potensi bencana alam di Indonesia bukan hanya tentang mengetahui jenis-jenisnya, tetapi juga kesadaran akan risiko, cara melindungi diri, dan berperan aktif dalam upaya mitigasi.
Pertanyaan pemantik: "Mengapa Indonesia sering disebut sebagai 'supermarket bencana' dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya?"
| Praktik Pedagogis | Problem-Based Learning (PBL) + Studi Kasus |
| Lintas Disiplin Ilmu | Geografi: Memahami karakteristik dan persebaran wilayah rawan bencana berdasarkan kondisi geologis dan iklim. Bahasa Indonesia: Menyusun laporan analisis studi kasus bencana dan mempresentasikannya dengan bahasa yang efektif. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan: Latihan evakuasi dan pertolongan pertama dasar saat terjadi bencana. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua dapat diajak berdiskusi mengenai rencana kesiapsiagaan bencana di rumah dan membantu peserta didik menyusun tas siaga bencana. |
| Lingkungan Pembelajaran | Kelas diatur agar mudah bergerak untuk simulasi evakuasi sederhana; akses ke perpustakaan sekolah atau sudut baca untuk referensi tambahan tentang bencana. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Pemanfaatan video dokumenter bencana, infografis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan aplikasi peta rawan bencana untuk analisis data. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi jenis-jenis bencana alam geologis dan hidrometeorologis yang berpotensi terjadi di Indonesia dengan tepat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Ice breaking: Tebak Kata Bencana: Guru menyebut ciri-ciri bencana (misal: 'tanah bergerak turun'), peserta didik cepat menebak nama bencananya. Melatih fokus dan pengenalan awal. Guru menyapa, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan melakukan apersepsi dengan menanyakan pengalaman peserta didik terkait berita bencana. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik: 'Mengapa Indonesia sering disebut sebagai 'supermarket bencana' dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya?' |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik mengamati peta rawan bencana Indonesia dan berbagai gambar/video kejadian bencana, kemudian mengidentifikasi jenis-jenis bencana geologis dan hidrometeorologis serta ciri-cirinya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik berkelompok untuk mencari informasi lebih lanjut dari berbagai sumber (buku, internet) mengenai karakteristik, penyebab, dan contoh kejadian bencana alam yang telah diidentifikasi. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Setiap kelompok mempresentasikan hasil identifikasi jenis bencana dan karakteristiknya, dilanjutkan dengan diskusi kelas untuk mengklarifikasi dan menguatkan pemahaman. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman singkat materi, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, dan menyampaikan pengantar untuk materi pertemuan berikutnya tentang dampak bencana. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Problem-Based Learning (PBL) |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menganalisis faktor penyebab dan dampak dari berbagai bencana alam di Indonesia melalui studi kasus. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Ice breaking: Rantai Kata Bencana: Peserta didik bergiliran menyebutkan kata yang berhubungan dengan bencana, sambung menyambung. Meningkatkan kosakata dan kesiapan mental. Guru menyapa, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan mengulas singkat materi pertemuan sebelumnya. Guru memperkenalkan studi kasus bencana alam (misalnya Gempa Palu atau Banjir Jakarta) dan mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran hari ini. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik secara berkelompok menganalisis studi kasus bencana yang diberikan, mengidentifikasi faktor penyebab (alamiah dan antropogenik) serta dampak yang ditimbulkan (sosial, ekonomi, lingkungan). |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok menyusun laporan analisis studi kasus, termasuk diagram sebab-akibat atau peta pikiran mengenai bencana tersebut, serta mempresentasikan temuannya di depan kelas. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Diskusi interaktif antar kelompok untuk membandingkan hasil analisis, memberikan umpan balik, dan mengidentifikasi pola umum faktor penyebab dan dampak bencana di Indonesia. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru memberikan penguatan materi mengenai kompleksitas penyebab dan dampak bencana, mengapresiasi kerja kelompok, dan memberikan penugasan awal untuk memikirkan solusi mitigasi. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Menganalisis studi kasus bencana alam untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan dampak yang ditimbulkan.
Alat & bahan: Kertas A3, spidol warna, gunting, lem, artikel/berita studi kasus bencana
Langkah kerja:
- Baca dan pahami studi kasus bencana alam yang diberikan oleh guru.
- Identifikasi faktor-faktor penyebab bencana (misalnya, kondisi geografis, aktivitas manusia) dan dampaknya (sosial, ekonomi, lingkungan).
- Buatlah diagram sebab-akibat atau peta pikiran yang menggambarkan hubungan antara penyebab dan dampak bencana.
- Diskusikan dalam kelompok, solusi mitigasi awal yang mungkin dapat diterapkan untuk mengurangi risiko di masa depan.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apa saja bencana alam yang pernah kamu dengar atau lihat di berita?
- Menurutmu, mengapa Indonesia sering terjadi gempa bumi?
- Apa yang akan kamu lakukan jika terjadi banjir di dekat rumahmu?
- Sebutkan satu contoh tindakan yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana.
Formatif (proses): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan presentasi, serta kelengkapan analisis pada LKPD.
Sumatif (akhir): Penilaian proyek 'Rencana Kesiapsiagaan Diri dan Keluarga' dan tes tertulis untuk mengukur pemahaman konsep dan kemampuan analisis.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — rubrik ada di berkas unduhan, kunci jawaban khusus member Paket Lengkap.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi jenis-jenis bencana alam geologis dan hidrometeorologis yang berpotensi terjadi di Indonesia dengan tepat. | Jenis-jenis bencana alam (geologis, hidrometeorologis), karakteristik dan persebarannya. | 2 JP | penalaran kritis |
| 2 | Menganalisis faktor penyebab dan dampak dari berbagai bencana alam di Indonesia melalui studi kasus. | Faktor penyebab bencana (alamiah, antropogenik), dampak bencana (sosial, ekonomi, lingkungan). | 2 JP | penalaran kritis, kolaborasi |
| 3 | Mengevaluasi upaya mitigasi struktural dan non-struktural yang sesuai untuk mengurangi risiko bencana alam. | Mitigasi bencana (struktural, non-struktural), kesiapsiagaan diri dan keluarga. | 2 JP | kewargaan, kolaborasi |
Indonesia, dengan letak geografisnya yang unik di persimpangan lempeng tektonik dan iklim tropis, seringkali dihadapkan pada berbagai potensi bencana alam. Memahami jenis, penyebab, dan dampak bencana adalah langkah awal yang krusial. Modul ini akan membimbing kita untuk tidak hanya mengenali ancaman, tetapi juga mempersiapkan diri dan komunitas agar lebih tangguh.
1. Pendahuluan: Indonesia sebagai Negara Rawan Bencana
Indonesia dikenal sebagai 'laboratorium bencana' karena seringnya terjadi berbagai fenomena alam yang berujung pada bencana. Hal ini disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), pertemuan tiga lempeng tektonik besar (Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik), serta iklim tropis yang rentan terhadap bencana hidrometeorologis. Kondisi ini menjadikan Indonesia memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi, meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
2. Jenis-jenis Bencana Alam Geologis
Bencana alam geologis adalah bencana yang disebabkan oleh aktivitas di dalam bumi. Contoh utamanya adalah gempa bumi, yaitu getaran di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam. Tsunami adalah gelombang laut besar yang dipicu oleh gempa bawah laut atau letusan gunung berapi. Letusan gunung berapi terjadi saat magma, gas, dan material padat dikeluarkan dari perut bumi. Tanah longsor adalah pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng, sering dipicu oleh hujan lebat atau gempa.
3. Jenis-jenis Bencana Alam Hidrometeorologis
Bencana hidrometeorologis berkaitan dengan faktor cuaca dan iklim. Banjir adalah meluapnya air dari batas normal, sering terjadi akibat curah hujan tinggi atau pasang air laut. Kekeringan adalah kekurangan air dalam jangka waktu lama, yang berdampak pada pertanian dan ketersediaan air bersih. Angin puting beliung adalah angin kencang berputar yang dapat merusak bangunan. Kebakaran hutan dan lahan, meskipun sering dipicu manusia, juga diperparah oleh kondisi cuaca kering dan panas.
4. Faktor Penyebab Bencana Alam
Penyebab bencana alam dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor alamiah dan faktor antropogenik (aktivitas manusia). Faktor alamiah meliputi pergerakan lempeng tektonik, aktivitas vulkanik, curah hujan ekstrem, dan perubahan iklim global. Sementara itu, faktor antropogenik mencakup deforestasi (penggundulan hutan), urbanisasi tanpa perencanaan yang baik, pembangunan di daerah resapan air, pembuangan sampah sembarangan yang menyumbat saluran air, serta degradasi lingkungan lainnya yang memperparah dampak bencana.
5. Dampak Bencana Alam
Dampak bencana alam sangat luas dan kompleks. Secara sosial, bencana dapat menyebabkan korban jiwa, luka-luka, pengungsian, trauma psikologis, dan putusnya hubungan sosial. Secara ekonomi, bencana merusak infrastruktur (jalan, jembatan, rumah), menghancurkan lahan pertanian, mengganggu aktivitas ekonomi, dan menyebabkan kerugian finansial yang besar. Secara lingkungan, bencana dapat merusak ekosistem, mencemari air dan tanah, serta mengubah bentang alam secara drastis.
6. Upaya Mitigasi Bencana: Struktural dan Non-Struktural
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi struktural meliputi pembangunan fisik seperti tanggul, bendungan, bangunan tahan gempa, dan sistem drainase. Mitigasi non-struktural meliputi edukasi masyarakat, sosialisasi jalur evakuasi, pembentukan peraturan daerah tentang tata ruang, sistem peringatan dini, dan pelatihan kesiapsiagaan bencana.
7. Kesiapsiagaan Diri dan Keluarga Menghadapi Bencana
Kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi dampak bencana. Setiap individu dan keluarga perlu memiliki rencana kesiapsiagaan, termasuk mengetahui jalur evakuasi di rumah dan lingkungan, menentukan titik kumpul aman, menyiapkan tas siaga bencana (berisi makanan, air, obat-obatan, senter, dll.), serta mengetahui nomor telepon darurat. Latihan rutin dan komunikasi yang baik antar anggota keluarga sangat penting untuk memastikan semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.
Rangkuman: Indonesia memiliki potensi bencana alam yang tinggi karena letak geografisnya. Bencana dapat berupa geologis (gempa, tsunami, gunung meletus) atau hidrometeorologis (banjir, kekeringan). Penyebabnya bisa alamiah maupun ulah manusia, dengan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang besar. Mitigasi struktural (bangunan) dan non-struktural (edukasi) serta kesiapsiagaan diri dan keluarga adalah kunci untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Mitigasi | Serangkaian upaya mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran. |
| Kesiapsiagaan | Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna. |
| Hidrometeorologis | Bencana yang berkaitan dengan faktor cuaca dan iklim, seperti banjir, kekeringan, dan angin puting beliung. |
| Geologis | Bencana yang disebabkan oleh aktivitas di dalam bumi, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. |
| Antropogenik | Disebabkan atau dipengaruhi oleh aktivitas manusia. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Potensi Bencana Alam di Indonesia" mata pelajaran IPS Kelas VII ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Pembelajaran Mendalam) · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses) · CP: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025
Bukan Potensi Bencana Alam di Indonesia yang Anda cari?Pilih dari peta materi setahun di bawah ini 👇
Materi Anda tidak ada di daftar?Tulis judulnya sendiri — tetap gratis, ±1 menitPeta Materi IPS Kelas VII Setahun
Urutan mengajarnya, bukan urutan pencarian. Yang sudah ada tinggal diunduh; yang belum, disusun atas nama Anda — sama-sama gratis.
Semester 1 / Ganjil2 dari 2 siap unduh
Kehidupan Sosial dan Kondisi Lingkungan SekitarModul siap unduh · Word + PDF ber-kopKeberagaman Lingkungan SekitarModul siap unduh · Word + PDF ber-kopSemester 2 / Genap2 dari 2 siap unduh
Potensi Ekonomi LingkunganModul siap unduh · Word + PDF ber-kopPemberdayaan MasyarakatModul siap unduh · Word + PDF ber-kopModul IPS lain yang sudah tersedia
Potensi bencana alamIPS Kelas VII SMPBerkenalan dengan Alam (Pencemaran Lingkungan)IPS Kelas VII SMPBerkenalan Dengan Alam (Pencemaran Lingkungn)IPS Kelas VII SMPMengenal lokasi indonesiaIPS Kelas VII SMPLihat semua Modul Ajar IPS Kelas VII →📝 Butuh soal ujiannya juga?
Materi Potensi Bencana Alam di Indonesia masuk ujian semester IPS Kelas VII. Lihat contoh soal dan kuncinya, lalu rakit paket soalnya — kisi-kisi, naskah, kunci, kartu soal.
Mesin Soal IPS Kelas VII →Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ini modul ajar IPS kelas 7 yang saya cari?
Kemungkinan besar ya. Kelas VII dan kelas 7 adalah kelas yang sama — yang satu ditulis angka Romawi seperti di dokumen resmi, yang satu angka biasa. Berkas ini perangkat ajar untuk materi Potensi Bencana Alam di Indonesia pada IPS SMP, Fase D, elemen Pemahaman Lingkungan.
Modul Potensi Bencana Alam di Indonesia ini untuk semester 1 (ganjil) atau semester 2 (genap)?
Mengikuti program semester sekolah Anda. Pilih Semester 1 atau 2 saat mengunduh; pilihan itu tercetak di lembar identitas modul Potensi Bencana Alam di Indonesia untuk IPS kelas VII.
Apakah modul ajar IPS materi Potensi Bencana Alam di Indonesia ini gratis?
Ya. Modul Potensi Bencana Alam di Indonesia untuk kelas VII SMP dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 18 jam.
Bagaimana cara download modul ajar Potensi Bencana Alam di Indonesia ini dalam Word (.docx) dan PDF?
Ketuk tombol unduh, isi nama dan sekolah, lalu buka dengan email atau Google dan nomor WhatsApp aktif. Berkas IPS kelas VII ini turun sebagai Word (.docx) yang bisa diedit dan PDF siap cetak, tanpa iklan dan tanpa tautan Drive.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul IPS kelas VII langsung tersusun atas nama Anda.
Bisakah modul Potensi Bencana Alam di Indonesia ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Potensi Bencana Alam di Indonesia dapat Anda sesuaikan dengan murid IPS kelas VII di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
Apakah modul ajar IPS kelas VII ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Potensi Bencana Alam di Indonesia ini mengikuti Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025, pada Fase D untuk kelas VII SMP. Profil Pelajar Pancasila (P5) kini dilanjutkan sebagai 8 Dimensi Profil Lulusan; dimensi yang dikembangkan materi Potensi Bencana Alam di Indonesia tercantum di lembar identitasnya.
Ini modul ajar, RPP, atau RPM deep learning?
Ketiganya berkas yang sama. Sampulnya memang bertanda Deep Learning · Pembelajaran Mendalam, dan sebagian guru menyebutnya RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam). Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Potensi Bencana Alam di Indonesia untuk IPS kelas VII di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Apakah ada soal, kisi-kisi, dan rubrik KKTP-nya?
Ada. Modul Potensi Bencana Alam di Indonesia ini memuat bank soalnya sendiri — 6 pilihan ganda dan 5 uraian (kunci jawabannya khusus member Paket Lengkap), ditambah rubrik KKTP pada bagian asesmennya. Yang belum termasuk: paket soal satu semester penuh IPS kelas VII SMP berikut kisi-kisi dan kartu soalnya — Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS/PTS) dan Akhir Semester (ASAS/PAS). Penjelasannya ada di halaman Kisi-Kisi & ASAS.
Apakah Kaldik, Prota, dan Promes (Program Semester) ikut di unduhan gratis?
Tidak. Unduhan gratis berisi modul ajar Potensi Bencana Alam di Indonesia beserta ATP, LKPD, asesmen, dan bank soalnya. Perangkat pembelajaran pelengkap IPS kelas VII berupa Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes/Prosem) ber-kop sekolah tersedia lewat Paket Modul — bersama Kalender Pendidikan (libur nasional & cuti bersama resmi SKB 3 Menteri sudah tercantum) dan Alokasi Waktu yang menghitung minggu efektifnya otomatis.
Modul IPS ini cocok untuk SMP negeri, swasta, maupun MTs?
Ya. Kop, logo, dan nama SMP Anda dipasang otomatis, negeri maupun swasta; sekolah berciri (Muhammadiyah, NU, Islam Terpadu) mendapat kop dan mapel khasnya sendiri saat mengisi borang. Untuk MTs, pilih jenjang MTs saat mengisi borang: materi Potensi Bencana Alam di Indonesia yang sama disusun dalam versi madrasah (Kurikulum Berbasis Cinta, kop Kemenag), dan halaman IPS MTs ada di daftar jenjang lain di bawah.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.