tuntas.orgBuat Modul Ajar →
BerandaModul Ajar MIPendidikan Pancasila › Penerapan Nilai Pancasila
MI · Kelas V · Fase C

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas V
Penerapan Nilai Pancasila

Modul ajar Pendidikan Pancasila MI kelas V materi Penerapan Nilai Pancasila lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kurikulum Merdeka 2025/2026. Unduh Word + PDF atas nama Anda.

Sampul modul ajar Pendidikan Pancasila kelas V materi Penerapan Nilai Pancasila
Ringkasan: Penerapan nilai Pancasila adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang rukun, adil, dan sejahtera. Setiap sila Pancasila memiliki nilai luhur yang dapat kita wujudkan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari toleransi beragama, saling menolong, menjaga persatuan, bermusyawarah, hingga berlaku adil. Dengan mempraktikkan Pancasila, kita turut membangun Indonesia yang lebih baik.
Model: Project-Based Learning (PjBL) + PraktikDimensi: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, kolaborasiWord + PDF
Buat & Unduh Modul Ini — GRATISPendidikan Pancasila · Penerapan Nilai Pancasila · atas nama Anda

1 Capaian Pembelajaran

Kompetensi awal: Peserta didik telah memahami makna sila-sila Pancasila dan beberapa contoh sederhana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman bermakna: Memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila bukan hanya sekadar menghafal, tetapi menjadikannya pedoman hidup untuk menciptakan kebaikan dan keharmonisan di lingkungan sekitar.

Pertanyaan pemantik: Mengapa kita perlu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?

2 Tujuan Pembelajaran

3 Kegiatan Pembelajaran (8 Pertemuan)

Pertemuan 1 — Discovery Learning

Tujuan: Mengidentifikasi contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di lingkungan sekitar.

Kegiatan awal: Guru menyapa, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan mengajak peserta didik menyanyikan lagu nasional. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini tentang mengidentifikasi perilaku sesuai sila pertama dan menjelaskan aktivitas yang akan dilakukan, memastikan peserta didik memahami apa yang akan dipelajari dan mengapa itu penting.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok mengamati gambar atau video tentang kegiatan keagamaan dan toleransi, lalu berdiskusi untuk menemukan contoh-contoh perilaku yang mencerminkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di lingkungan mereka.

Mengaplikasi: Setiap kelompok membuat daftar contoh perilaku yang mereka temukan dan mempresentasikannya di depan kelas, kemudian kelompok lain memberikan tanggapan dan menambahkan contoh dari pengalaman pribadi.

Merefleksi: Guru memberikan umpan balik positif atas presentasi peserta didik dan menguatkan pemahaman tentang pentingnya toleransi beragama dan menjalankan ajaran agama masing-masing, serta menanyakan apa yang mereka pelajari hari ini.

Penutup: Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan singkat tentang nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, dan menutup dengan doa serta pesan untuk selalu menjaga kerukunan beragama.

Pertemuan 2 — Problem-Based Learning

Tujuan: Menganalisis pentingnya nilai kemanusiaan dalam interaksi sosial di sekolah dan masyarakat.

Kegiatan awal: Guru memulai dengan cerita pendek tentang seorang teman yang membutuhkan bantuan. Peserta didik diajak untuk merenungkan perasaan mereka jika berada di posisi teman tersebut. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran menganalisis nilai kemanusiaan dan menjelaskan bahwa mereka akan memecahkan masalah terkait hal tersebut.

Memahami: Peserta didik diberikan skenario kasus tentang perundungan atau ketidakadilan di sekolah. Mereka menganalisis masalah tersebut, mengidentifikasi nilai kemanusiaan yang terlanggar, dan dampaknya bagi korban serta lingkungan.

Mengaplikasi: Dalam kelompok, peserta didik merumuskan solusi atau tindakan nyata yang dapat mereka lakukan untuk mengatasi masalah tersebut, dengan mempertimbangkan aspek empati, keadilan, dan persamaan hak.

Merefleksi: Setiap kelompok mempresentasikan solusi mereka, diikuti dengan diskusi kelas untuk mencari solusi terbaik dan menguatkan pemahaman tentang pentingnya saling menghargai dan menolong sesama, serta menanyakan bagaimana perasaan mereka setelah menemukan solusi.

Penutup: Guru menyimpulkan pembelajaran tentang nilai kemanusiaan, memberikan pujian atas ide-ide kreatif peserta didik, dan menutup dengan pesan untuk selalu berbuat baik dan peduli terhadap sesama, diakhiri dengan doa.

Pertemuan 3 — Inquiry-Based Learning

Tujuan: Mengevaluasi sikap persatuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan awal: Guru menampilkan gambar atau video tentang kegiatan gotong royong di desa atau pertandingan olahraga antar kelas. Guru menanyakan apa yang membuat kegiatan itu berhasil dan menyenangkan. Guru menyampaikan tujuan mengevaluasi sikap persatuan dan memandu peserta didik untuk mencari tahu lebih dalam.

Memahami: Peserta didik mencari informasi dari berbagai sumber (buku, internet, wawancara singkat) tentang contoh-contoh sikap persatuan dan akibat jika tidak ada persatuan, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Mengaplikasi: Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, peserta didik membuat peta pikiran atau poster yang menggambarkan pentingnya persatuan dan contoh-contoh konkret penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta cara mengatasi perbedaan.

Merefleksi: Peserta didik memamerkan hasil karyanya dan saling memberikan masukan. Guru memfasilitasi diskusi tentang bagaimana menjaga persatuan di tengah perbedaan, serta menanyakan apa saja yang membuat suatu kelompok bisa bersatu.

Penutup: Guru merangkum poin-poin penting tentang persatuan, memberikan motivasi agar peserta didik selalu menjadi agen persatuan, dan menutup dengan apresiasi atas kerja keras mereka, dilanjutkan dengan doa.

Pertemuan 4 — Collaborative Learning

Tujuan: Mendemonstrasikan perilaku musyawarah untuk mencapai mufakat dalam pengambilan keputusan.

Kegiatan awal: Guru mengajak peserta didik untuk mengingat pengalaman mereka saat berdiskusi atau mengambil keputusan bersama. Guru menanyakan apakah semua pendapat selalu sama. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran mendemonstrasikan musyawarah dan menjelaskan bahwa mereka akan belajar cara berdiskusi yang baik.

Memahami: Peserta didik diberikan kasus sederhana yang memerlukan pengambilan keputusan bersama (misalnya, memilih ketua kelas, menentukan tema kegiatan kelas). Mereka diminta untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk mencari solusi terbaik.

Mengaplikasi: Setiap kelompok melakukan simulasi musyawarah di depan kelas, dengan peran yang berbeda (pemimpin diskusi, anggota yang menyampaikan pendapat, anggota yang mencatat). Mereka harus menunjukkan cara menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mencapai mufakat.

Merefleksi: Setelah simulasi, guru dan peserta didik lain memberikan umpan balik tentang jalannya musyawarah, mengidentifikasi praktik baik dan area yang perlu ditingkatkan, serta menanyakan apa yang mereka rasakan saat berdiskusi dan mencapai kesepakatan.

Penutup: Guru menyimpulkan pentingnya musyawarah dan mufakat dalam kehidupan demokrasi, memberikan apresiasi atas upaya peserta didik, dan menutup dengan pesan untuk selalu menerapkan nilai ini dalam setiap keputusan bersama, diakhiri dengan doa.

Pertemuan 5 — Case Study Method

Tujuan: Menyajikan contoh tindakan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan awal: Guru memulai dengan pertanyaan 'Apa itu adil?' dan membiarkan peserta didik berbagi pemahaman awal mereka. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran menyajikan contoh keadilan sosial dan menjelaskan bahwa mereka akan menganalisis kasus-kasus terkait.

Memahami: Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing diberikan studi kasus singkat tentang situasi yang melibatkan keadilan sosial (misalnya, pembagian tugas yang tidak merata, akses pendidikan yang berbeda, hak-hak anak).

Mengaplikasi: Setiap kelompok menganalisis studi kasus, mengidentifikasi aspek keadilan atau ketidakadilan, dan menyajikan solusi atau tindakan nyata yang mencerminkan keadilan sosial di lingkungan sekitar mereka dalam bentuk poster atau presentasi singkat.

Merefleksi: Kelompok mempresentasikan hasil analisis dan solusinya. Guru memfasilitasi diskusi tentang bagaimana mewujudkan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari, serta menanyakan bagaimana mereka bisa menjadi agen keadilan di lingkungan mereka.

Penutup: Guru bersama peserta didik merangkum konsep keadilan sosial, memberikan apresiasi atas pemikiran kritis mereka, dan menutup dengan pesan untuk selalu memperjuangkan keadilan bagi semua, diakhiri dengan doa.

Pertemuan 6 — Project-Based Learning (Tahap Perencanaan)

Tujuan: Merancang proyek sederhana yang mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan kelompok.

Kegiatan awal: Guru mengingatkan kembali semua nilai Pancasila yang telah dipelajari dan bertanya bagaimana kita bisa melihat nilai-nilai itu dalam tindakan nyata. Guru menyampaikan tujuan merancang proyek dan menjelaskan langkah-langkah proyek yang akan mereka lakukan selama dua pertemuan ke depan.

Memahami: Peserta didik secara berkelompok berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah atau kebutuhan di lingkungan sekolah atau rumah yang dapat diatasi dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila (misalnya, kebersihan kelas, membantu teman yang kesulitan belajar, membuat jadwal piket adil).

Mengaplikasi: Setiap kelompok merancang sebuah proyek sederhana yang mengimplementasikan salah satu atau beberapa nilai Pancasila. Mereka membuat proposal proyek yang mencakup tujuan, langkah-langkah, alat/bahan, dan pembagian tugas.

Merefleksi: Guru dan kelompok lain memberikan masukan konstruktif terhadap proposal proyek. Peserta didik merevisi proposal mereka berdasarkan masukan tersebut, serta menanyakan tantangan apa yang mungkin mereka hadapi dan bagaimana mengatasinya.

Penutup: Guru memberikan penguatan dan semangat untuk memulai proyek, mengapresiasi ide-ide kreatif, dan menutup dengan doa agar proyek berjalan lancar.

Pertemuan 7 — Project-Based Learning (Tahap Implementasi)

Tujuan: Melaksanakan proyek sederhana yang mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dengan kolaborasi yang baik.

Kegiatan awal: Guru menanyakan kesiapan setiap kelompok untuk melaksanakan proyek yang telah dirancang. Guru mengingatkan kembali tujuan proyek dan menekankan pentingnya kerja sama tim. Peserta didik sadar bahwa hari ini adalah waktunya mewujudkan ide mereka.

Memahami: Setiap kelompok mulai melaksanakan proyek sesuai dengan proposal yang telah dibuat. Guru berkeliling memantau, memberikan bimbingan, dan memastikan setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dan menerapkan nilai-nilai Pancasila selama proses kerja.

Mengaplikasi: Peserta didik berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas-tugas proyek, misalnya membersihkan lingkungan sekolah, membuat poster ajakan kebaikan, atau menyusun jadwal piket yang adil. Mereka mendokumentasikan proses kerja mereka dengan foto atau video singkat.

Merefleksi: Di akhir sesi, setiap kelompok secara singkat melaporkan progres proyek mereka, kendala yang dihadapi, dan bagaimana mereka mengatasinya. Guru memberikan umpan balik dan penguatan, serta menanyakan pelajaran apa yang mereka dapatkan saat bekerja sama.

Penutup: Guru memberikan apresiasi atas kerja keras dan semangat kolaborasi, mengingatkan untuk menyelesaikan proyek pada pertemuan berikutnya, dan menutup dengan doa.

Pertemuan 8 — Project-Based Learning (Tahap Presentasi & Evaluasi)

Tujuan: Mempresentasikan hasil proyek dan merefleksikan pengalaman penerapan nilai-nilai Pancasila.

Kegiatan awal: Guru menyambut peserta didik dengan antusias, menanyakan perasaan mereka tentang proyek yang telah diselesaikan. Guru menyampaikan tujuan pertemuan terakhir yaitu presentasi dan refleksi, memastikan peserta didik siap berbagi hasil karya dan pembelajaran mereka.

Memahami: Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek mereka kepada kelas, menjelaskan tujuan, proses pelaksanaan, nilai-nilai Pancasila yang diterapkan, dan dampak yang diharapkan. Mereka juga menunjukkan dokumentasi proyek.

Mengaplikasi: Setelah presentasi, peserta didik saling memberikan pertanyaan dan umpan balik konstruktif. Guru memfasilitasi diskusi tentang keberhasilan proyek, tantangan yang dihadapi, dan pelajaran berharga yang didapat dari penerapan nilai Pancasila secara langsung.

Merefleksi: Peserta didik secara individu menulis refleksi singkat tentang pengalaman mereka selama proyek, nilai Pancasila mana yang paling terasa, dan bagaimana mereka akan terus menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Guru menguatkan pemahaman mereka.

Penutup: Guru memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas seluruh proses dan hasil proyek peserta didik, menekankan pentingnya Pancasila sebagai pedoman hidup, dan menutup dengan doa serta harapan agar mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter Pancasila, dalam suasana penuh kebanggaan.

4 Asesmen

Proses (formatif): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan pelaksanaan proyek, serta penilaian terhadap hasil kerja kelompok (LKPD dan proposal proyek).

Akhir (sumatif): Penilaian hasil presentasi proyek dan refleksi individu peserta didik tentang penerapan nilai Pancasila.

5 Alur Tujuan Pembelajaran

TujuanMateriAlokasiDimensi
Mengidentifikasi contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di lingkungan sekitar.Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan toleransi beragama.2 JPkeimanan dan ketakwaan
Menganalisis pentingnya nilai kemanusiaan dalam interaksi sosial di sekolah dan masyarakat.Nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan.2 JPkewargaan
Mengevaluasi sikap persatuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.Nilai persatuan, gotong royong, dan mengatasi perbedaan.2 JPkolaborasi
Merancang dan melaksanakan proyek sederhana yang mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan kelompok.Perencanaan, pelaksanaan, dan presentasi proyek Pancasila.6 JPkewargaan, kolaborasi, kreativitas

6 Bahan Ajar & Ringkasan Materi

Pancasila adalah dasar negara kita yang luhur. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan yang sangat penting untuk kita terapkan setiap hari. Dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila, kita bisa hidup rukun, adil, dan saling membantu. Mari kita pelajari bagaimana Pancasila menjadi pedoman dalam setiap langkah kita.

Penerapan Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama Pancasila mengajarkan kita untuk percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Penerapannya terlihat dari sikap toleransi antarumat beragama, seperti menghargai teman yang sedang beribadah, tidak mengganggu hari raya agama lain, dan menjaga kerukunan. Contoh lain adalah rajin beribadah, berdoa sebelum dan sesudah belajar, serta selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan karena merasa diawasi Tuhan. Sila ini juga mengajarkan kita untuk tidak memaksakan agama kepada orang lain.

Penerapan Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua mengajarkan kita untuk mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan. Penerapannya dapat dilihat dari sikap saling menolong teman yang kesulitan, menjenguk teman yang sakit, tidak membeda-bedakan teman dalam bermain, serta bersikap sopan dan santun kepada semua orang. Penting juga untuk berani membela kebenaran dan keadilan, serta tidak melakukan perundungan atau kekerasan kepada siapa pun.

Penerapan Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila ketiga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari antara lain dengan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan daerah asal atau bahasa, ikut serta dalam kegiatan gotong royong di lingkungan sekolah atau rumah, serta bangga menggunakan produk dalam negeri. Menjaga kerukunan, menghindari perpecahan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan juga merupakan wujud penerapan sila ini.

Penerapan Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Sila keempat mengajarkan kita untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Penerapannya terlihat saat kita berdiskusi di kelas untuk menentukan jadwal piket, memilih ketua kelas, atau memutuskan tema kegiatan. Setiap anggota harus berani menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain dengan baik, dan menerima hasil keputusan bersama dengan lapang dada. Menghindari pemaksaan kehendak dan mengutamakan kepentingan bersama adalah kunci dari sila ini.

Penerapan Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila kelima bertujuan untuk mewujudkan keadilan dalam segala aspek kehidupan. Penerapannya di lingkungan sekolah misalnya dengan tidak menyontek saat ujian, berbagi tugas piket secara adil, tidak pilih kasih dalam pertemanan, dan menggunakan fasilitas sekolah dengan bertanggung jawab. Di rumah, contohnya adalah berbagi tugas rumah tangga, tidak boros, dan menghormati hak milik orang lain. Keadilan sosial berarti semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk hidup layak dan sejahtera.

Mengintegrasikan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Menerapkan nilai-nilai Pancasila bukan hanya satu per satu, tetapi secara terpadu dalam setiap tindakan kita. Misalnya, saat kita gotong royong membersihkan kelas (sila 3), kita juga menunjukkan sikap peduli terhadap sesama (sila 2) dan bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan (sila 5). Penting untuk selalu merenungkan apakah tindakan kita sudah sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan begitu, kita bisa menjadi warga negara yang baik dan berkontribusi menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Rangkuman: Penerapan nilai Pancasila adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang rukun, adil, dan sejahtera. Setiap sila Pancasila memiliki nilai luhur yang dapat kita wujudkan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari toleransi beragama, saling menolong, menjaga persatuan, bermusyawarah, hingga berlaku adil. Dengan mempraktikkan Pancasila, kita turut membangun Indonesia yang lebih baik.

7 LKPD — Lembar Kerja Peserta Didik

Tujuan: Mengidentifikasi dan mengelompokkan perilaku sehari-hari berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang sesuai.

Alat & bahan: Kertas karton, spidol warna, gunting, lem, gambar-gambar perilaku

  1. Amati gambar-gambar perilaku yang disediakan.
  2. Diskusikan dalam kelompok, perilaku apa saja yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
  3. Gunting gambar-gambar tersebut dan tempelkan pada kolom nilai Pancasila yang sesuai di kertas karton.
  4. Tuliskan alasan mengapa kalian mengelompokkan perilaku tersebut pada sila Pancasila yang dipilih.
  5. Presentasikan hasil kerja kelompok kalian di depan kelas.

8 Glosarium

ToleransiSikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.
MufakatKesepakatan bersama yang dicapai melalui musyawarah.
Gotong RoyongKerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil.
EmpatiKemampuan merasakan perasaan orang lain.
PerundunganTindakan menyakiti atau menindas orang lain.

9 Materi Pendidikan Pancasila Terkait

Pancasila sebagai Nilai KehidupanPendidikan Pancasila Kelas IV MI
Pelajari Pancasila sebagai Nilai Kehidupan →
Makna Sila PancasilaPendidikan Pancasila Kelas III MI
Pelajari Makna Sila Pancasila →
Simbol-simbol PancasilaPendidikan Pancasila Kelas I MI
Pelajari Simbol-simbol Pancasila →
Aturan dan Tata TertibPendidikan Pancasila Kelas II MI
Pelajari Aturan dan Tata Tertib →
tempat tinggalku bagian dari NKRIPendidikan Pancasila Kelas III MI
Pelajari tempat tinggalku bagian dari NKRI →

10 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah modul ajar Pendidikan Pancasila Penerapan Nilai Pancasila ini gratis?

Ya. Tiga modul ajar gratis tersedia bertahap dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.

Berapa lama modul ini tersusun?

Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Pendidikan Pancasila kelas V langsung tersusun atas nama Anda.

Apakah sesuai kurikulum terbaru?

Ya. Modul mengikuti Kurikulum Merdeka dengan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen 13/2025).

Bisakah hasilnya diedit?

Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh, ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.

Buat Modul Ajar Lain — GRATISIsi nama & materi, selesai ±1 menit

tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.