Modul Ajar & RPP Bahasa Indonesia Kelas X
Hikayat
Modul ajar (RPP) Bahasa Indonesia MA kelas X materi Hikayat lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Berkas ini modul ajar, dan di dalamnya sudah termuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen — tiga komponen inti menurut Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Modul ajar melengkapinya dengan LKPD, ATP, dan bahan ajar. Jadi bila sekolah Anda meminta RPP, berkas ini sudah memenuhinya.
Jenjang, mapel, kelas, semester, dan materinya sudah terbawa dari halaman ini. Tinggal identitas Anda: nama dan sekolah.
Bukan Hikayat yang Anda cari? Materi Bahasa Indonesia Kelas X lainnya:
Lihat peta materi setahun8 materiMateri Anda tidak ada di daftar?Tulis judulnya sendiri — tetap gratis, ±1 menit| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
| Fase / Kelas | E / X |
| Materi Pokok | Hikayat |
| Alokasi Waktu | 3 pertemuan |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning (PjBL) dengan praktik analisis dan kreasi |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki kemampuan dasar dalam memahami cerita fiksi sederhana dan mengidentifikasi unsur intrinsiknya.
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan: keimanan dan ketakwaan, penalaran kritis, kreativitas.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 |
| Elemen / Domain | Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu mengevaluasi dan mengkreasi teks fiksi (hikayat) dengan mengidentifikasi ciri-ciri, nilai-nilai, dan unsur kebahasaan, serta menyajikannya dalam berbagai bentuk kreatif yang relevan dengan konteks kekinian. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Hikayat adalah cerita Melayu klasik yang kaya akan kisah raja-raja, pahlawan, dan petualangan di masa lampau, seperti Hikayat Hang Tuah atau Hikayat Raja-raja Pasai. |
| Konseptual | Hikayat memiliki karakteristik khusus seperti kemustahilan, kesaktian, anonimitas, dan istanasentris yang membedakannya dari jenis karya sastra lain. |
| Prosedural | Peserta didik akan belajar langkah-langkah mengidentifikasi karakteristik hikayat, menganalisis nilai-nilai, mengonversi hikayat ke cerpen, dan menulis hikayat versi modern. |
| Metakognitif | Peserta didik akan menyadari bagaimana pemahaman terhadap hikayat dapat memperkaya wawasan budaya dan melatih kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis karya sastra lama. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi karakteristik dan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat dengan tepat.
- Menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat secara cermat.
- Membandingkan karakteristik hikayat dengan jenis karya sastra lain (misalnya cerpen) dengan kritis.
- Mengonversi hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan unsur kebahasaan yang sesuai.
- Menulis kembali hikayat dengan gaya bahasa dan konteks kekinian secara kreatif.
- Mempresentasikan hasil konversi atau kreasi hikayat dengan percaya diri dan komunikatif.
Pemahaman bermakna: Memahami hikayat bukan hanya tentang cerita lama, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masa lalu tetap relevan untuk direfleksikan dan diadaptasi dalam kehidupan modern.
Pertanyaan pemantik: "Mengapa cerita-cerita lama tentang raja-raja dan pahlawan dengan kekuatan super masih menarik untuk kita pelajari di era digital ini?"
| Praktik Pedagogis | Project-Based Learning (PjBL) dengan praktik analisis dan kreasi |
| Lintas Disiplin Ilmu | Sejarah: Memahami konteks historis dan budaya di balik penciptaan hikayat serta pengaruhnya terhadap masyarakat Melayu kuno. Seni Budaya: Mengidentifikasi unsur-unsur kesenian (misalnya pertunjukan wayang kulit atau teater tradisional) yang terinspirasi dari cerita hikayat. Pendidikan Agama Islam: Menganalisis nilai-nilai moral dan ajaran agama yang tersirat dalam hikayat dan relevansinya dengan ajaran Islam. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua dapat diajak berdiskusi tentang cerita rakyat atau legenda di daerah asal mereka, atau mengapresiasi hasil karya konversi hikayat anak di rumah. |
| Lingkungan Pembelajaran | Kelas diatur agar nyaman untuk diskusi kelompok dan presentasi, dengan akses ke perpustakaan sekolah untuk mencari referensi hikayat dan buku cerpen. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Pemanfaatan situs web penyedia teks hikayat daring, aplikasi pengolah kata untuk penulisan cerpen, dan aplikasi presentasi (misalnya Canva atau PowerPoint) untuk mendukung presentasi kelompok. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi karakteristik dan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat dengan tepat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 25 menit | Peserta didik disambut dengan salam, doa, dan presensi. Guru menampilkan kutipan singkat dari Hikayat Hang Tuah dan bertanya 'Apa yang kalian rasakan atau bayangkan saat membaca kutipan ini?' Dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran hari ini dan pertanyaan pemantik: 'Mengapa cerita-cerita lama tentang raja-raja dan pahlawan dengan kekuatan super masih menarik untuk kita pelajari di era digital ini?' |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik secara berkelompok membaca teks hikayat pendek (misalnya Hikayat Si Miskin) dan berdiskusi untuk menemukan ciri-ciri khas yang membedakannya dari cerita modern, serta mengidentifikasi nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, mengaitkannya dengan pengalaman pribadi. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 40 menit | Setiap kelompok membuat peta pikiran atau tabel perbandingan sederhana untuk mencatat karakteristik dan nilai-nilai yang ditemukan, kemudian membandingkan temuan mereka dengan kelompok lain untuk memperkaya pemahaman. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep tentang karakteristik (kemustahilan, kesaktian, anonimitas, istanasentris) dan nilai-nilai (agama, moral, sosial, budaya) hikayat, serta menstimulasi peserta didik untuk merefleksikan relevansi nilai tersebut di masa kini. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 25 menit | Bersama-sama menyimpulkan pembelajaran hari ini. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik, mengingatkan materi untuk pertemuan selanjutnya, dan menutup dengan doa serta pesan positif agar terus semangat belajar. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Inquiry Learning |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat secara cermat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 25 menit | Setelah salam, doa, dan presensi, guru mengajak peserta didik mengingat kembali karakteristik hikayat. Guru memperkenalkan tujuan pertemuan kedua, yaitu menganalisis unsur-unsur pembangun hikayat, dan bertanya 'Bagaimana unsur-unsur ini membentuk makna keseluruhan sebuah hikayat?' |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik dalam kelompok menganalisis Hikayat Indraputra atau Hikayat Bayan Budiman, fokus pada identifikasi unsur intrinsik (tokoh, alur, latar, tema, amanat) dan ekstrinsik (nilai-nilai, latar belakang budaya/sejarah) menggunakan panduan analisis yang diberikan. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 40 menit | Setiap kelompok mengisi lembar kerja analisis yang mencakup identifikasi dan penjelasan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Mereka juga diminta untuk menemukan keterkaitan antara unsur-unsur tersebut dalam membangun cerita. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Kelompok mempresentasikan hasil analisisnya. Guru memfasilitasi diskusi kritis antar kelompok mengenai perbedaan atau kesamaan interpretasi, serta memberikan penguatan tentang pentingnya memahami unsur-unsur hikayat untuk mengapresiasi karya sastra lama. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 25 menit | Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman singkat tentang unsur-unsur hikayat. Guru memberikan motivasi dan apresiasi, menyampaikan materi selanjutnya, dan menutup dengan doa. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Problem-Based Learning |
| Tujuan Pertemuan 3 | Membandingkan karakteristik hikayat dengan jenis karya sastra lain (misalnya cerpen) dengan kritis. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 25 menit | Setelah rutinitas awal, guru mengajukan sebuah cerpen modern dan meminta peserta didik membandingkannya secara spontan dengan hikayat yang telah dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran untuk membandingkan hikayat dan cerpen secara sistematis. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik secara individu atau berpasangan membaca satu contoh hikayat dan satu contoh cerpen yang memiliki tema serupa. Mereka diminta untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan pada karakteristik, gaya bahasa, dan nilai-nilai yang terkandung. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 40 menit | Peserta didik membuat tabel perbandingan atau diagram Venn untuk memvisualisasikan perbedaan dan persamaan antara hikayat dan cerpen, kemudian menuliskan kesimpulan singkat dari perbandingan tersebut. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 20 menit | Beberapa peserta didik diminta mempresentasikan hasil perbandingannya. Guru memberikan umpan balik dan menguatkan pemahaman tentang kekhasan masing-masing genre sastra, serta membuka diskusi tentang mengapa kedua bentuk ini tetap relevan di zamannya masing-masing. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 25 menit | Guru bersama peserta didik merangkum poin-poin penting perbandingan. Guru mengapresiasi usaha peserta didik, memberikan informasi tentang persiapan proyek konversi hikayat, dan menutup dengan doa serta semangat untuk pertemuan berikutnya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Membimbing peserta didik menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat.
Alat & bahan: Teks Hikayat Si Miskin, alat tulis, kertas HVS
Langkah kerja:
- Bacalah dengan saksama Hikayat Si Miskin.
- Identifikasi tokoh utama dan tokoh pendukung beserta wataknya.
- Analisis alur cerita, latar (tempat, waktu, suasana), dan tema utama hikayat.
- Temukan amanat atau pesan moral yang terkandung dalam hikayat.
- Identifikasi nilai-nilai ekstrinsik (agama, moral, sosial, budaya) yang menonjol dalam hikayat dan berikan contohnya.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apa yang kalian ketahui tentang cerita rakyat?
- Pernahkah kalian mendengar atau membaca cerita yang disebut 'hikayat'?
- Menurut kalian, apa bedanya cerita masa lalu dengan cerita masa kini?
- Sebutkan satu tokoh pahlawan atau raja dari cerita lama yang kalian ketahui.
Formatif (proses): Observasi partisipasi aktif dalam diskusi kelompok, kelengkapan analisis LKPD, dan kontribusi dalam proyek konversi hikayat.
Sumatif (akhir): Penilaian hasil konversi hikayat menjadi cerpen (produk) dan kualitas presentasi kelompok (kinerja).
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi karakteristik dan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat dengan tepat. | Karakteristik dan nilai-nilai hikayat. | 3 JP | keimanan dan ketakwaan, penalaran kritis |
| 2 | Menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat secara cermat. | Unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. | 3 JP | penalaran kritis |
| 3 | Membandingkan karakteristik hikayat dengan jenis karya sastra lain (misalnya cerpen) dengan kritis. | Perbandingan hikayat dan cerpen. | 3 JP | penalaran kritis |
| 4 | Mengonversi hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan unsur kebahasaan yang sesuai dan mempresentasikannya. | Konversi hikayat menjadi cerpen. | 9 JP | kreativitas, kolaborasi, komunikasi |
Hikayat adalah salah satu kekayaan sastra klasik Indonesia yang memukau. Berisi kisah-kisah fantastis, petualangan heroik, dan ajaran moral, hikayat menjadi cerminan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu lampau. Mempelajari hikayat bukan sekadar menelusuri masa lalu, tetapi juga menemukan kearifan yang abadi serta melatih kemampuan kita untuk berkreasi dan mengadaptasi cerita lama ke dalam konteks modern.
1. Pengertian dan Ciri-ciri Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa lama Melayu yang berisi cerita rekaan, sejarah, biografi, atau gabungan dari sifat-sifat tersebut. Ciri-ciri utama hikayat meliputi kemustahilan (cerita di luar nalar), kesaktian tokoh-tokohnya, anonimitas (pengarang tidak diketahui), dan istanasentris (berpusat pada kehidupan istana atau kerajaan). Contohnya, dalam Hikayat Indera Bangsawan, sang pangeran bisa terbang dan berbicara dengan binatang, menunjukkan unsur kemustahilan dan kesaktian yang kuat.
2. Unsur Intrinsik Hikayat
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun cerita dari dalam. Ini meliputi tema (gagasan pokok cerita), tokoh dan penokohan (karakter dan sifatnya), alur (urutan peristiwa), latar (tempat, waktu, dan suasana), serta amanat (pesan moral yang ingin disampaikan pengarang). Misalnya, dalam Hikayat Hang Tuah, temanya adalah kesetiaan dan kepahlawanan, dengan tokoh Hang Tuah yang digambarkan gagah berani dan setia kepada raja.
3. Unsur Ekstrinsik Hikayat
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra namun memengaruhi penciptaan dan pemahaman terhadap karya tersebut. Ini termasuk nilai-nilai yang terkandung (agama, moral, sosial, budaya), latar belakang pengarang, dan kondisi sosial budaya masyarakat saat hikayat diciptakan. Dalam banyak hikayat, nilai agama Islam sangat kental, seperti ajaran untuk bersyukur, sabar, dan tawakal, yang mencerminkan pengaruh Islam pada masa itu.
4. Jenis-jenis Hikayat
Hikayat dapat dikelompokkan berdasarkan isi dan asalnya. Berdasarkan isinya, ada hikayat berlatar Hindu (misalnya Hikayat Sri Rama), hikayat berlatar Islam (misalnya Hikayat Amir Hamzah), hikayat berlatar Jawa (misalnya Hikayat Panji Semirang), dan hikayat sejarah (misalnya Hikayat Raja-raja Pasai). Penggolongan ini membantu kita memahami keragaman budaya dan pengaruh yang membentuk sastra Melayu klasik.
5. Nilai-nilai dalam Hikayat
Hikayat kaya akan nilai-nilai luhur yang dapat dipetik dan direfleksikan. Nilai moral mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan, nilai agama tentang ketaatan dan keyakinan, nilai sosial tentang hubungan antarmanusia, dan nilai budaya tentang adat istiadat serta tradisi. Contohnya, kisah kesabaran dan ketabahan Si Miskin dalam menghadapi cobaan mencerminkan nilai moral yang kuat, serta nilai agama tentang tawakal kepada Tuhan.
6. Perbandingan Hikayat dengan Cerpen
Meskipun sama-sama karya prosa fiksi, hikayat dan cerpen memiliki perbedaan mendasar. Hikayat bersifat statis, istanasentris, anonim, menggunakan bahasa klise, dan penuh kemustahilan. Sementara itu, cerpen bersifat dinamis, berpusat pada kehidupan sehari-hari, jelas pengarangnya, menggunakan bahasa lugas, dan logis. Membandingkan keduanya membantu kita mengapresiasi evolusi sastra dan kekhasan masing-masing genre dalam menyampaikan cerita.
7. Konversi Hikayat menjadi Cerpen
Mengonversi hikayat menjadi cerpen berarti mengadaptasi cerita lama ke dalam bentuk yang lebih modern tanpa menghilangkan esensi aslinya. Proses ini melibatkan penyesuaian gaya bahasa agar lebih lugas dan kekinian, mengubah latar dan penokohan agar lebih realistis, serta menonjolkan konflik yang relevan dengan kehidupan masa kini. Tujuannya adalah agar hikayat tetap dapat dinikmati dan dipahami oleh pembaca modern, sambil tetap mewariskan nilai-nilai luhurnya.
Rangkuman: Hikayat adalah prosa fiksi Melayu klasik yang memiliki ciri kemustahilan, kesaktian, anonimitas, dan istanasentris. Karya ini kaya akan unsur intrinsik (tema, tokoh, alur, latar, amanat) dan ekstrinsik (nilai agama, moral, sosial, budaya) yang mencerminkan kearifan lokal. Membandingkan hikayat dengan cerpen membantu kita memahami evolusi sastra. Mengonversi hikayat menjadi cerpen adalah upaya melestarikan dan merelevansikan warisan sastra ini untuk generasi sekarang.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Hikayat | Karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita rekaan, sejarah, atau biografi. |
| Kemustahilan | Karakteristik hikayat yang menampilkan peristiwa atau kejadian di luar nalar manusia. |
| Istanasentris | Karakteristik hikayat yang ceritanya berpusat pada kehidupan istana atau kerajaan. |
| Anonim | Karakteristik hikayat di mana pengarangnya tidak diketahui atau tidak disebutkan. |
| Prosa | Karangan bebas, tidak terikat oleh rima, irama, dan kemerduan bunyi. |
| Konversi | Perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain tanpa mengubah esensi. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Hikayat" mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Berbasis Cinta · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: KMA No. 1503 Tahun 2025 (Kurikulum Berbasis Cinta) · Kep. Dirjen Pendis No. 6077 Tahun 2025 · CP: SK Dirjen Pendis No. 9941 Tahun 2025
1 Peta Materi Bahasa Indonesia Kelas X Setahun
Urutan mengajarnya, bukan urutan pencarian. Yang sudah ada tinggal diunduh; yang belum, disusun atas nama Anda — sama-sama gratis.
Semester 1 / Ganjil4 dari 4 siap
Teks Laporan Hasil ObservasiModul siap unduh · Word + PDF ber-kopTeks EksposisiModul siap unduh · Word + PDF ber-kopTeks AnekdotModul siap unduh · Word + PDF ber-kopSemester 2 / Genap0 dari 4 siap
Teks NegosiasiBelum tersedia — susun atas nama Anda, gratisBERIKUTNYADebatBelum tersedia — susun atas nama Anda, gratisTeks BiografiBelum tersedia — susun atas nama Anda, gratisPuisiBelum tersedia — susun atas nama Anda, gratis2 Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah modul ajar Bahasa Indonesia Hikayat ini gratis?
Ya. Modul Hikayat untuk kelas X MA dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Indonesia kelas X langsung tersusun atas nama Anda.
Apakah modul ajar Bahasa Indonesia kelas X ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Hikayat ini mengikuti Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025, pada Fase E untuk kelas X MA.
Ini modul ajar atau RPP?
Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Hikayat untuk Bahasa Indonesia kelas X di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Bisakah modul Hikayat ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Hikayat dapat Anda sesuaikan dengan murid Bahasa Indonesia kelas X di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.