Modul Ajar & RPP Bahasa Sunda Kelas IX
Babasan Paribasa
Modul ajar (RPP) Bahasa Sunda SMP kelas IX materi Babasan Paribasa lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Berkas ini modul ajar, dan di dalamnya sudah termuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen — tiga komponen inti menurut Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Modul ajar melengkapinya dengan LKPD, ATP, dan bahan ajar. Jadi bila sekolah Anda meminta RPP, berkas ini sudah memenuhinya.
Jenjang, mapel, kelas, dan materinya sudah terbawa dari halaman ini. Tinggal nama, sekolah, dan pilih semester-nya.
Bukan Babasan Paribasa yang Anda cari? Materi Bahasa Sunda Kelas IX lainnya:
Materi Anda tidak ada di daftar?Tulis judulnya sendiri — tetap gratis, ±1 menit| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Bahasa Sunda |
| Fase / Kelas | D / IX |
| Materi Pokok | Babasan Paribasa |
| Alokasi Waktu | 3 pertemuan |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning dan Project-Based Learning dengan praktik |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang kosakata bahasa Sunda dan mampu mengidentifikasi beberapa ungkapan sehari-hari.
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan: penalaran kritis, komunikasi, kreativitas.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah |
| Elemen / Domain | Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu memahami, menganalisis, dan mengaplikasikan berbagai jenis teks sastra Sunda, termasuk babasan dan paribasa, dalam konteks sosial dan budaya untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan kreatif. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Babasan dan paribasa adalah ungkapan tradisional Sunda seperti 'gede hulu' (sombong) atau 'kawas bueuk meunang mabok' (diam termenung). |
| Konseptual | Babasan adalah ungkapan yang maknanya tidak bisa diterjemahkan secara harfiah, sedangkan paribasa adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau perumpamaan. |
| Prosedural | Menganalisis makna babasan dan paribasa melalui konteks kalimat atau cerita, kemudian menggunakannya dalam komunikasi lisan maupun tulisan. |
| Metakognitif | Peserta didik menyadari bahwa mempelajari babasan dan paribasa tidak hanya memperkaya kosakata tetapi juga memahami nilai-nilai dan pandangan hidup masyarakat Sunda. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi pengertian dan ciri-ciri babasan serta paribasa Sunda dengan tepat setelah mengamati contoh.
- Menganalisis makna denotatif dan konotatif dari berbagai babasan dan paribasa Sunda dalam konteks kalimat.
- Mengklasifikasikan babasan dan paribasa Sunda berdasarkan ciri-ciri dan maknanya dengan benar.
- Menyusun kalimat atau paragraf menggunakan babasan dan paribasa Sunda secara kontekstual dan komunikatif.
- Menciptakan sebuah media presentasi (infografis/poster digital) yang berisi kumpulan babasan dan paribasa beserta maknanya.
- Mempresentasikan hasil identifikasi dan analisis babasan serta paribasa Sunda dengan percaya diri.
Pemahaman bermakna: Memahami babasan dan paribasa Sunda akan membantu peserta didik dalam menafsirkan pesan tersirat, memperkaya ekspresi berbahasa, serta melestarikan kearifan lokal Sunda.
Pertanyaan pemantik: "Mengapa orang Sunda sering menggunakan ungkapan 'gede hulu' atau 'leutik burih' alih-alih mengatakan 'sombong' atau 'penakut' secara langsung?"
| Praktik Pedagogis | Discovery Learning dan Project-Based Learning dengan praktik |
| Lintas Disiplin Ilmu | Seni Budaya: Memahami nilai estetika dan filosofi dalam babasan paribasa sebagai bagian dari warisan budaya Sunda. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Mengidentifikasi nilai-nilai luhur dan norma sosial yang terkandung dalam paribasa sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Teknologi Informasi dan Komunikasi: Memanfaatkan aplikasi desain grafis untuk membuat media presentasi digital yang kreatif dan informatif. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua/anggota keluarga di rumah dapat diajak berdiskusi tentang babasan dan paribasa yang mereka ketahui atau sering gunakan dalam percakapan sehari-hari. |
| Lingkungan Pembelajaran | Kelas diatur agar nyaman untuk diskusi kelompok dan presentasi, dengan akses ke proyektor atau papan tulis interaktif. Sumber belajar seperti buku kamus Sunda atau artikel daring tersedia. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Peserta didik menggunakan aplikasi desain grafis (misalnya Canva, Piktochart) untuk membuat infografis/poster digital, serta mengakses kamus daring bahasa Sunda atau video edukasi tentang babasan paribasa. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi pengertian dan ciri-ciri babasan serta paribasa Sunda dengan tepat setelah mengamati contoh. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Guru menyapa, memimpin doa, mengecek kehadiran, dan melakukan apersepsi dengan menanyakan contoh ungkapan khas daerah masing-masing. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi babasan dan paribasa Sunda, serta manfaatnya dalam berkomunikasi. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik mengamati beberapa contoh kalimat yang mengandung babasan dan paribasa Sunda yang ditampilkan guru, lalu secara mandiri mencoba menemukan pola perbedaan antara keduanya. Mereka berdiskusi dengan teman sebangku tentang makna awal yang mereka tangkap. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik dalam kelompok kecil menganalisis lebih banyak contoh babasan dan paribasa yang diberikan melalui LKPD, kemudian mencoba merumuskan pengertian dan ciri-ciri masing-masing berdasarkan temuan mereka. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya tentang pengertian dan ciri-ciri babasan serta paribasa. Guru memberikan umpan balik, meluruskan konsep yang kurang tepat, dan memberikan penguatan tentang pentingnya memahami ungkapan-ungkapan ini. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi tentang babasan dan paribasa. Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta didik dan memberikan motivasi untuk terus belajar bahasa Sunda. Peserta didik mencatat tugas untuk pertemuan berikutnya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menganalisis makna denotatif dan konotatif dari berbagai babasan dan paribasa Sunda dalam konteks kalimat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Guru menyapa, memimpin doa, mengecek kehadiran. Guru mengingatkan kembali materi pertemuan sebelumnya dan mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menganalisis makna babasan dan paribasa. Guru memotivasi peserta didik dengan contoh kasus salah tafsir ungkapan. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik membaca teks pendek atau dialog berbahasa Sunda yang mengandung beberapa babasan dan paribasa. Mereka secara individu mengidentifikasi ungkapan-ungkapan tersebut dan mencoba menebak makna kontekstualnya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Dalam kelompok, peserta didik menganalisis makna denotatif (harfiah) dan konotatif (kiasan) dari babasan dan paribasa yang ditemukan dalam teks, kemudian membandingkan dengan pemahaman mereka sebelumnya. Mereka menggunakan kamus atau sumber lain untuk memverifikasi makna. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Setiap kelompok menyampaikan hasil analisis makna babasan dan paribasa di depan kelas. Guru memberikan klarifikasi, contoh tambahan, dan penguatan tentang pentingnya memahami konteks dalam menafsirkan makna kiasan. Diskusi interaktif dilakukan antar kelompok. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru dan peserta didik merangkum poin-poin penting tentang analisis makna babasan dan paribasa. Guru memberikan apresiasi dan menugaskan peserta didik untuk mencari contoh babasan/paribasa lain di lingkungan sekitar mereka. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning |
| Tujuan Pertemuan 3 | Mengklasifikasikan babasan dan paribasa Sunda berdasarkan ciri-ciri dan maknanya dengan benar dan menyusun kalimat atau paragraf menggunakan babasan dan paribasa Sunda secara kontekstual dan komunikatif. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Guru menyapa, memimpin doa, mengecek kehadiran. Guru mengulas singkat materi sebelumnya dan memperkenalkan proyek yang akan dikerjakan: membuat infografis/poster digital. Guru menjelaskan tujuan proyek dan rubrik penilaian, serta membagi kelompok kerja. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik dalam kelompok merencanakan proyek infografis/poster digital. Mereka berdiskusi tentang babasan dan paribasa yang akan dipilih, desain visual, dan bagaimana menyajikan makna serta contoh penggunaannya secara menarik dan informatif. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok mulai bekerja menyusun konsep infografis/poster digital. Mereka mengklasifikasikan babasan dan paribasa yang telah dianalisis, lalu menyusun kalimat atau paragraf singkat yang menggunakan ungkapan tersebut secara tepat untuk menunjukkan pemahaman mereka. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Setiap kelompok mempresentasikan draf awal atau sketsa infografis/poster mereka kepada kelompok lain untuk mendapatkan masukan. Guru memberikan bimbingan dan umpan balik konstruktif mengenai pilihan babasan/paribasa, kejelasan makna, dan penggunaan dalam kalimat. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru memberikan apresiasi atas semangat kerja kelompok. Guru mengingatkan tenggat waktu penyelesaian proyek dan memberikan motivasi untuk terus berkreasi. Peserta didik merapikan alat dan bahan yang digunakan. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Mengidentifikasi, menganalisis, dan mengklasifikasikan babasan serta paribasa Sunda berdasarkan ciri-ciri dan maknanya.
Alat & bahan: Kertas kerja, alat tulis, kamus Sunda (cetak/digital), gawai (opsional), contoh teks/dialog berbahasa Sunda
Langkah kerja:
- Bacalah dengan seksama daftar ungkapan Sunda yang disediakan.
- Identifikasi mana yang termasuk babasan dan mana yang termasuk paribasa, kemudian tuliskan di kolom yang sesuai.
- Diskusikan makna dari setiap babasan dan paribasa tersebut dalam kelompok Anda.
- Buatlah satu contoh kalimat yang menggunakan setiap babasan dan paribasa yang telah Anda identifikasi.
- Presentasikan hasil diskusi kelompok Anda di depan kelas.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apa yang Anda ketahui tentang ungkapan kiasan dalam bahasa Indonesia?
- Pernahkah Anda mendengar ungkapan 'gede hulu' atau 'panjang leungeun'?
- Menurut Anda, apa bedanya ungkapan biasa dengan ungkapan kiasan?
- Mengapa penting untuk memahami ungkapan kiasan dalam suatu bahasa?
Formatif (proses): Asesmen formatif dilakukan melalui observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok, kelengkapan dan keakuratan LKPD, serta umpan balik selama proses pembuatan proyek.
Sumatif (akhir): Asesmen sumatif berupa penilaian proyek infografis/poster digital dan presentasi kelompok yang mencakup identifikasi, analisis makna, dan penggunaan babasan paribasa.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi pengertian dan ciri-ciri babasan serta paribasa Sunda | Ciri-ciri dan pengertian babasan paribasa | 2 JP | penalaran kritis |
| 2 | Menganalisis makna denotatif dan konotatif babasan dan paribasa | Makna denotatif dan konotatif babasan paribasa dalam konteks | 2 JP | penalaran kritis, komunikasi |
| 3 | Mengklasifikasikan dan menyusun kalimat menggunakan babasan paribasa | Klasifikasi dan penggunaan babasan paribasa dalam kalimat | 2 JP | penalaran kritis, kreativitas |
| 4 | Menciptakan dan mempresentasikan media berisi babasan dan paribasa | Penyusunan infografis/poster digital dan presentasi | 2 JP | komunikasi, kreativitas |
Bahasa Sunda kaya akan ungkapan-ungkapan kiasan yang memiliki makna mendalam, salah satunya adalah babasan dan paribasa. Ungkapan-ungkapan ini tidak hanya memperindah bahasa, tetapi juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Memahami babasan dan paribasa berarti menyelami kekayaan budaya dan cara pandang masyarakat Sunda dalam memaknai kehidupan.
1. Babasan Sunda: Pengertian dan Ciri-ciri
Babasan adalah ungkapan dalam bahasa Sunda yang maknanya tidak bisa ditafsirkan secara harfiah. Ungkapan ini biasanya terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan makna kiasan. Ciri khas babasan adalah bentuknya yang tetap, tidak bisa diubah-ubah, dan maknanya sudah baku. Contohnya 'gede hulu' yang berarti sombong, bukan benar-benar kepala besar. Babasan sering digunakan untuk menggambarkan sifat atau karakter seseorang secara singkat dan padat. Memahami babasan memerlukan pemahaman konteks budaya Sunda.
2. Paribasa Sunda: Pengertian dan Ciri-ciri
Paribasa adalah peribahasa dalam bahasa Sunda yang berupa kalimat atau frasa yang mengandung nasihat, perumpamaan, atau ajaran moral. Berbeda dengan babasan yang lebih fokus pada sifat, paribasa seringkali berupa perbandingan atau analogi dengan fenomena alam atau kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri paribasa antara lain: bentuknya lebih panjang dari babasan, mengandung hikmah, dan sering bersifat universal meskipun disampaikan dalam konteks lokal. Contohnya 'kawas bueuk meunang mabok' yang berarti diam termenung, seperti burung hantu yang mabuk.
3. Perbedaan Mendasar Babasan dan Paribasa
Meskipun sama-sama ungkapan kiasan, babasan dan paribasa memiliki perbedaan mendasar. Babasan cenderung lebih pendek, sering menggambarkan sifat atau keadaan seseorang, dan maknanya lebih langsung ke objek yang dimaksud (misal: 'panjang leungeun' = suka mencuri). Sementara itu, paribasa lebih panjang, sering berupa kalimat lengkap, dan mengandung perumpamaan atau nasihat yang lebih umum (misal: 'ulah ngaliarkeun taleus ateul' = jangan menyebarkan aib orang lain). Membedakan keduanya penting untuk penggunaan yang tepat.
4. Analisis Makna Denotatif dan Konotatif
Setiap babasan dan paribasa memiliki makna denotatif (harfiah) dan konotatif (kiasan). Makna denotatif adalah arti sebenarnya dari kata-kata penyusun ungkapan tersebut, yang seringkali tidak relevan dengan maksud ungkapan. Makna konotatif adalah arti kiasan atau makna tersirat yang ingin disampaikan. Misalnya, pada 'leutik burih', makna denotatifnya adalah 'perut kecil', tetapi makna konotatifnya adalah 'penakut'. Kemampuan menganalisis kedua makna ini sangat penting untuk memahami pesan yang terkandung dalam ungkapan.
5. Penggunaan Babasan dan Paribasa dalam Komunikasi
Babasan dan paribasa sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, sastra, maupun media massa berbahasa Sunda. Penggunaannya dapat memperkaya ekspresi, menyampaikan pesan secara halus, atau memberikan nasihat tanpa menggurui. Memilih babasan atau paribasa yang tepat sesuai konteks sangat penting agar pesan tersampaikan dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Latihan menggunakan ungkapan ini dalam kalimat akan meningkatkan kelancaran berbahasa Sunda.
6. Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Babasan dan Paribasa
Di balik setiap babasan dan paribasa, tersimpan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sunda. Ungkapan-ungkapan ini mencerminkan pandangan hidup, etika, moral, dan ajaran leluhur. Contohnya, 'hade gogog hade tagog' (perkataan dan perbuatan harus selaras) mengajarkan tentang integritas. Mempelajari babasan dan paribasa tidak hanya sekadar menghafal makna, tetapi juga memahami dan menginternalisasi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sehingga dapat membentuk karakter yang baik.
Rangkuman: Babasan dan paribasa adalah kekayaan bahasa Sunda berupa ungkapan kiasan. Babasan lebih fokus pada sifat dan lebih pendek, sementara paribasa berupa perumpamaan atau nasihat yang lebih panjang. Keduanya memiliki makna denotatif dan konotatif. Memahami serta menggunakan babasan dan paribasa dengan tepat tidak hanya memperkaya kemampuan berbahasa, tetapi juga melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Sunda yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Babasan | Ungkapan kiasan Sunda yang maknanya tidak bisa diterjemahkan harfiah, biasanya menggambarkan sifat. |
| Paribasa | Peribahasa Sunda yang mengandung nasihat, perumpamaan, atau ajaran moral. |
| Denotatif | Makna sebenarnya atau harfiah dari suatu kata atau frasa. |
| Konotatif | Makna kiasan atau makna tersirat dari suatu kata atau frasa. |
| Kearifan Lokal | Nilai-nilai, norma, dan pandangan hidup suatu masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Babasan Paribasa" mata pelajaran Bahasa Sunda Kelas IX ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Pembelajaran Mendalam) · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses) · CP: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025
1 Materi Bahasa Sunda Terkait
BiantaraBahasa sunda Kelas IX SMPGuaran GuguritanBahasa Sunda Kelas IX SMPKaulinan Budak LemburBahasa sunda Kelas IX SMPMisuka sisindiranBahasa sunda Kelas IX SMPWisata Kampung AdatBahasa sunda Kelas IX SMP[UJIAN pts1]Bahasa sunda Kelas VIII SMP2 Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah modul ajar Bahasa Sunda Babasan Paribasa ini gratis?
Ya. Modul Babasan Paribasa untuk kelas IX SMP dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Sunda kelas IX langsung tersusun atas nama Anda.
Apakah modul ajar Bahasa Sunda kelas IX ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Babasan Paribasa ini mengikuti Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, pada Fase D untuk kelas IX SMP.
Ini modul ajar atau RPP?
Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Babasan Paribasa untuk Bahasa Sunda kelas IX di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Bisakah modul Babasan Paribasa ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Babasan Paribasa dapat Anda sesuaikan dengan murid Bahasa Sunda kelas IX di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.