Modul Ajar & RPP Bahasa sunda Kelas IX
Sisindiran
Modul ajar (RPP) Bahasa sunda SMP kelas IX materi Sisindiran lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 046/H/KR/2025. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Berkas ini modul ajar, dan di dalamnya sudah termuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen — tiga komponen inti menurut Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Modul ajar melengkapinya dengan LKPD, ATP, dan bahan ajar. Jadi bila sekolah Anda meminta RPP, berkas ini sudah memenuhinya.
Jenjang, mapel, kelas, dan materinya sudah terbawa dari halaman ini. Tinggal nama, sekolah, dan pilih semester-nya.
Bukan Sisindiran yang Anda cari? Materi Bahasa sunda Kelas IX lainnya:
Materi Anda tidak ada di daftar?Tulis judulnya sendiri — tetap gratis, ±1 menit| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Bahasa sunda |
| Fase / Kelas | D / IX |
| Materi Pokok | Sisindiran |
| Alokasi Waktu | 3 pertemuan |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning dan Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Kompetensi awal: Peserta didik telah mengenal beberapa bentuk puisi atau pantun dalam bahasa Indonesia dan memiliki kosakata dasar bahasa Sunda.
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan:
- penalaran kritis — elemen: memperoleh dan memproses informasi dan gagasan
Peserta didik menganalisis struktur dan makna sisindiran, membandingkan berbagai jenis, dan menemukan pola-pola dalam karya sastra Sunda. - kreativitas — elemen: menghasilkan gagasan yang orisinal
Peserta didik menciptakan sisindiran sendiri dengan tema yang relevan, menunjukkan imajinasi dan kemampuan merangkai kata. - komunikasi — elemen: berkomunikasi secara efektif
Peserta didik menyampaikan sisindiran karyanya di depan kelas dengan intonasi dan ekspresi yang tepat, serta memberikan tanggapan konstruktif.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 046/H/KR/2025 |
| Elemen / Domain | Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu memahami, menganalisis, dan mengevaluasi berbagai jenis teks sastra Sunda, serta mampu mengekspresikan gagasan dan perasaannya secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk teks sastra Sunda dengan kaidah yang benar. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Sisindiran adalah bentuk puisi tradisional Sunda yang terdiri dari cangkang (sampiran) dan eusi (isi), seperti rarakitan, paparikan, dan wawangsalan. |
| Konseptual | Konsep inti sisindiran adalah adanya hubungan antara cangkang dan eusi yang saling terkait secara bunyi dan makna, seringkali mengandung sindiran atau nasihat. |
| Prosedural | Peserta didik akan belajar langkah-langkah mengidentifikasi jenis sisindiran, menganalisis strukturnya, dan menciptakan sisindiran sendiri sesuai kaidah. |
| Metakognitif | Kesadaran akan pentingnya melestarikan sastra daerah dan memahami nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam sisindiran akan ditumbuhkan. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis-jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) dengan tepat.
- Menganalisis struktur cangkang dan eusi pada sisindiran rarakitan, paparikan, dan wawangsalan.
- Menentukan makna dan pesan yang terkandung dalam berbagai jenis sisindiran.
- Menciptakan sisindiran (rarakitan, paparikan) sesuai kaidah dengan tema yang ditentukan.
- Mempresentasikan sisindiran karya sendiri dengan lafal dan intonasi yang benar.
Pemahaman bermakna: Memahami sisindiran tidak hanya sekadar menghafal bentuk, tetapi juga memaknai pesan yang terkandung di dalamnya sebagai cerminan kearifan lokal dan sarana berekspresi secara santun.
Pertanyaan pemantik: "Mengapa masyarakat Sunda zaman dahulu suka menyampaikan pesan atau nasihat melalui pantun yang unik ini?"
| Praktik Pedagogis | Discovery Learning dan Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Lintas Disiplin Ilmu | Seni Budaya: Memahami nilai estetika dan seni pertunjukan dalam pembacaan sisindiran. Pendidikan Pancasila: Mengidentifikasi nilai-nilai moral dan kearifan lokal yang terkandung dalam sisindiran sebagai bagian dari budaya bangsa. Bahasa Indonesia: Membandingkan struktur dan fungsi sisindiran dengan pantun atau puisi dalam Bahasa Indonesia. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua diajak untuk mendorong anak bercerita tentang sisindiran yang dipelajari dan mungkin berbagi sisindiran yang mereka ketahui dari tradisi keluarga. |
| Lingkungan Pembelajaran | Kelas diatur agar nyaman untuk diskusi kelompok dan presentasi, dengan poster contoh sisindiran atau kata-kata Sunda yang ditempel di dinding. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Peserta didik memanfaatkan gawai atau komputer untuk mencari referensi sisindiran dari internet atau menonton video pertunjukan sisindiran sebagai inspirasi. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis-jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) dengan tepat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 10 menit | Ice breaking: Tebak Kata Sunda: Guru menyebutkan kata dalam bahasa Sunda, siswa menebak artinya. Jika benar, siswa lain melanjutkan dengan kata baru. Melatih kosakata Sunda. Peserta didik mengucapkan salam dan berdoa bersama, lalu guru mengecek kehadiran. Guru menyajikan contoh sisindiran dan menanyakan apa yang mereka ketahui, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik yang relevan. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Peserta didik mengamati beberapa contoh sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) yang disajikan guru, lalu secara berkelompok mengidentifikasi ciri-ciri umum dan perbedaan antar jenis sisindiran tersebut. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Setiap kelompok mengisi LKPD untuk mengelompokkan sisindiran berdasarkan jenisnya dan menuliskan ciri khas masing-masing, kemudian membandingkan hasil identifikasi mereka. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil identifikasi mereka, kelompok lain memberikan tanggapan, dan guru memberikan penguatan serta meluruskan konsep yang kurang tepat. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 10 menit | Guru bersama peserta didik menyimpulkan ciri-ciri sisindiran, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, serta menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menganalisis struktur cangkang dan eusi pada sisindiran rarakitan, paparikan, dan wawangsalan. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 10 menit | Ice breaking: Sambung Sisindiran: Guru memulai satu baris sisindiran, siswa lain melanjutkan baris berikutnya hingga lengkap. Melatih kepekaan rima dan irama. Setelah salam dan doa, guru mengulang sedikit materi pertemuan sebelumnya dan mengaitkannya dengan tujuan pertemuan ini, yaitu menganalisis struktur sisindiran lebih mendalam. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Peserta didik secara individu menganalisis lebih detail contoh sisindiran yang diberikan, fokus pada hubungan bunyi dan makna antara cangkang dan eusi, serta pola rima yang digunakan. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Dalam kelompok kecil, peserta didik mendiskusikan hasil analisis mereka, mengisi tabel perbandingan struktur cangkang dan eusi untuk rarakitan, paparikan, dan wawangsalan, serta mengidentifikasi pesan yang tersirat. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Masing-masing kelompok mempresentasikan analisis mereka tentang struktur dan pesan sisindiran, saling memberikan umpan balik, dan guru mengklarifikasi konsep-konsep kunci. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 10 menit | Guru dan peserta didik menyimpulkan pentingnya memahami struktur untuk memaknai sisindiran, memberikan motivasi, dan menginformasikan persiapan untuk menciptakan sisindiran di pertemuan selanjutnya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning (PjBL) |
| Tujuan Pertemuan 3 | Menciptakan sisindiran (rarakitan, paparikan) sesuai kaidah dengan tema yang ditentukan. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 10 menit | Ice breaking: Tebak Wawangsalan: Guru membacakan cangkang wawangsalan, siswa menebak eusinya. Meningkatkan daya tangkap dan kreativitas berpikir. Peserta didik memulai dengan salam dan doa, guru mengulas singkat materi sebelumnya dan menjelaskan tujuan pertemuan ini yaitu membuat karya sisindiran, serta menyampaikan tahapan proyeknya. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Peserta didik secara individu atau berpasangan memilih tema yang relevan (misalnya: lingkungan, pendidikan, persahabatan) dan mulai menyusun draf sisindiran (minimal 2 jenis: rarakitan dan paparikan) berdasarkan pemahaman kaidah yang telah dipelajari. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Peserta didik berkolaborasi dalam kelompok untuk saling memberikan masukan dan menyunting draf sisindiran masing-masing, memastikan kesesuaian dengan kaidah dan keindahan bahasa. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 5 menit | Beberapa peserta didik secara sukarela membacakan draf sisindiran mereka untuk mendapatkan umpan balik awal dari teman dan guru, yang kemudian digunakan untuk perbaikan lebih lanjut. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 10 menit | Guru memberikan apresiasi atas kreativitas peserta didik, mengingatkan untuk menyempurnakan karyanya di rumah, dan menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan ada presentasi karya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis-jenis sisindiran serta menganalisis struktur cangkang dan eusinya.
Alat & bahan: Kertas, alat tulis, contoh sisindiran yang sudah dicetak
Langkah kerja:
- Bacalah dengan cermat setiap contoh sisindiran yang diberikan.
- Identifikasi ciri-ciri khusus dari setiap sisindiran (jumlah baris, rima, hubungan cangkang-eusi).
- Kelompokkan sisindiran tersebut ke dalam jenis rarakitan, paparikan, atau wawangsalan.
- Tuliskan struktur cangkang dan eusi dari masing-masing sisindiran yang kalian kelompokkan.
- Diskusikan hasil identifikasi kalian dengan kelompok dan siapkan untuk presentasi.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apakah kalian pernah mendengar istilah 'pantun' atau 'puisi'?
- Apa yang kalian ketahui tentang sastra Sunda?
- Bisakah kalian menyebutkan satu kata dalam bahasa Sunda dan artinya?
- Menurut kalian, apa fungsi dari pantun atau puisi?
Formatif (proses): Observasi terhadap partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan keaktifan dalam mengisi LKPD.
Sumatif (akhir): Penilaian terhadap hasil karya sisindiran (rarakitan dan paparikan) dan presentasi lisan di depan kelas.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis-jenis sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan) dengan tepat. | Pengenalan sisindiran, ciri-ciri umum, dan jenis-jenisnya. | 1 JP | penalaran kritis |
| 2 | Menganalisis struktur cangkang dan eusi pada sisindiran rarakitan, paparikan, dan wawangsalan. | Analisis struktur sisindiran, hubungan cangkang-eusi, pola rima, dan makna. | 1 JP | penalaran kritis |
| 3 | Menciptakan sisindiran (rarakitan, paparikan) sesuai kaidah dengan tema yang ditentukan. | Praktik menulis sisindiran rarakitan dan paparikan dengan tema bebas/ditentukan. | 1 JP | kreativitas |
| 4 | Mempresentasikan sisindiran karya sendiri dengan lafal dan intonasi yang benar. | Presentasi karya sisindiran dan diskusi/umpan balik. | 1 JP | komunikasi |
Sastra Sunda kaya akan berbagai bentuk ekspresi, salah satunya adalah sisindiran. Sisindiran merupakan bentuk puisi tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, mirip dengan pantun dalam sastra Melayu. Melalui sisindiran, masyarakat Sunda menyampaikan berbagai pesan, nasihat, bahkan sindiran secara halus dan artistik. Mempelajari sisindiran berarti menyelami kekayaan budaya dan kearifan lokal Sunda yang patut dilestarikan.
1. Pengertian Sisindiran
Sisindiran adalah salah satu bentuk puisi tradisional Sunda yang terikat oleh aturan tertentu, yaitu jumlah baris, rima, dan hubungan antara bagian sampiran (cangkang) dan isi (eusi). Kata 'sisindiran' berasal dari kata 'sindir' yang berarti 'menyindir' atau 'menyampaikan secara tidak langsung'. Meskipun demikian, tidak semua sisindiran berisi sindiran; banyak juga yang berisi nasihat, ajakan, atau ungkapan perasaan. Sisindiran adalah warisan budaya lisan yang sangat berharga.
2. Struktur Sisindiran
Secara umum, sisindiran terdiri dari dua bagian utama: cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Cangkang adalah dua baris pertama (atau empat baris pertama jika sisindiran empat baris) yang berfungsi sebagai pengantar dan memiliki persamaan bunyi dengan eusi. Eusi adalah dua baris terakhir (atau empat baris terakhir) yang merupakan inti pesan atau maksud dari sisindiran. Meskipun cangkang seringkali tidak berhubungan langsung dengan eusi secara makna, tetapi keduanya terikat oleh pola rima yang khas.
3. Jenis-jenis Sisindiran
Sisindiran dibagi menjadi tiga jenis utama berdasarkan pola dan bentuknya: rarakitan, paparikan, dan wawangsalan. Setiap jenis memiliki ciri khas yang membedakannya. Memahami perbedaan ini akan memudahkan kita dalam mengidentifikasi dan menciptakan sisindiran yang tepat. Ketiga jenis ini menunjukkan kekayaan variasi dalam sastra lisan Sunda.
4. Rarakitan
Rarakitan adalah sisindiran yang memiliki ciri khas pengulangan kata pada awal baris cangkang dan awal baris eusi. Pola rima pada rarakitan adalah a-b-a-b. Rarakitan biasanya terdiri dari empat baris. Contohnya: 'Majar maneh cengkeh koneng, kuliat-kuli teu jeung bako. Majar maneh geulis koneng, kuliat-kuli teu jeung nako.' Kata 'majar maneh' diulang di awal cangkang dan eusi.
5. Paparikan
Paparikan memiliki ciri khas persamaan bunyi pada suku kata awal setiap baris cangkang dengan suku kata awal setiap baris eusi, namun tidak ada pengulangan kata secara utuh. Pola rima paparikan juga a-b-a-b dan umumnya terdiri dari empat baris. Contoh: 'Boboko wadah bakatul, nyiru wadahna tampah. Ngomong kosong ngabohong, nyiksa batur teu karumpah.' Perhatikan persamaan bunyi 'bo-' dan 'nyi-' di awal baris.
6. Wawangsalan
Wawangsalan berbeda dari rarakitan dan paparikan karena hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah cangkang yang berupa teka-teki, dan baris kedua adalah eusi yang merupakan jawaban dari teka-teki tersebut, namun tidak disebutkan secara langsung melainkan diwakili oleh salah satu kata yang memiliki kemiripan bunyi atau makna. Contoh: 'Abdi mah lain tukang sisir, abdi mah tukang nyisir rambut.' Jawabannya adalah 'sisir'.
7. Nilai-nilai dalam Sisindiran
Sisindiran seringkali mengandung nilai-nilai luhur seperti nasihat moral, kritik sosial yang halus, ajaran budi pekerti, dan ungkapan cinta. Melalui metafora dan perumpamaan, sisindiran mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Memahami nilai-nilai ini membantu kita tidak hanya sekadar menikmati keindahan bahasanya, tetapi juga mengambil hikmah dari setiap pesan yang disampaikan.
8. Cara Membuat Sisindiran
Untuk membuat sisindiran, mulailah dengan menentukan eusi atau pesan yang ingin disampaikan. Kemudian, carilah kata-kata untuk cangkang yang memiliki persamaan bunyi atau rima dengan eusi. Perhatikan jumlah suku kata per baris dan pola rima (a-b-a-b untuk rarakitan/paparikan, atau a-a untuk wawangsalan). Latihan terus-menerus akan mengasah kemampuan dalam merangkai kata-kata menjadi sisindiran yang indah dan bermakna.
Rangkuman: Sisindiran adalah bentuk puisi tradisional Sunda yang terdiri dari cangkang dan eusi, terikat oleh aturan rima dan jumlah baris. Ada tiga jenis utama: rarakitan (pengulangan kata di awal baris), paparikan (persamaan bunyi di awal suku kata), dan wawangsalan (teka-teki dua baris). Sisindiran kaya akan nilai moral dan kearifan lokal, serta menjadi sarana komunikasi yang artistik dan santun dalam budaya Sunda.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Sisindiran | Puisi tradisional Sunda yang memiliki sampiran dan isi, terikat aturan rima. |
| Cangkang | Bagian sampiran pada sisindiran, dua baris pertama yang berfungsi sebagai pengantar. |
| Eusi | Bagian isi pada sisindiran, dua baris terakhir yang berisi pesan atau maksud. |
| Rarakitan | Jenis sisindiran yang mengulang kata di awal baris cangkang dan eusi. |
| Paparikan | Jenis sisindiran yang memiliki persamaan bunyi di awal suku kata cangkang dan eusi. |
| Wawangsalan | Jenis sisindiran dua baris yang berupa teka-teki dengan jawaban tersirat. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Sisindiran" mata pelajaran Bahasa sunda Kelas IX ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Pembelajaran Mendalam) · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses) · CP: Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025
1 Materi Bahasa sunda Terkait
Misuka sisindiranBahasa sunda Kelas IX SMP[UJIAN pts1]Bahasa sunda Kelas IX SMPBabasan ParibasaBahasa Sunda Kelas IX SMPBiantaraBahasa sunda Kelas IX SMPGuaran GuguritanBahasa Sunda Kelas IX SMPKampung AdatBahasa sunda Kelas IX SMP2 Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah modul ajar Bahasa sunda Sisindiran ini gratis?
Ya. Modul Sisindiran untuk kelas IX SMP dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa sunda kelas IX langsung tersusun atas nama Anda.
Apakah modul ajar Bahasa sunda kelas IX ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Sisindiran ini mengikuti Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 046/H/KR/2025, pada Fase D untuk kelas IX SMP.
Ini modul ajar, RPP, atau RPM deep learning?
Ketiganya berkas yang sama. Sampulnya memang bertanda Deep Learning · Pembelajaran Mendalam, dan sebagian guru menyebutnya RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam). Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Sisindiran untuk Bahasa sunda kelas IX di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Apakah ada soal, kisi-kisi, dan rubrik KKTP-nya?
Ada. Modul Sisindiran ini memuat bank soalnya sendiri — 6 pilihan ganda dan 5 uraian beserta kunci jawaban, ditambah rubrik KKTP pada bagian asesmennya. Yang belum termasuk: paket soal satu semester penuh Bahasa sunda kelas IX SMP berikut kisi-kisi dan kartu soalnya — Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS/PTS) dan Akhir Semester (ASAS/PAS). Penjelasannya ada di halaman Kisi-Kisi & ASAS.
Apakah ini modul ajar Bahasa sunda kelas 9 yang saya cari?
Kemungkinan besar ya. Kelas IX dan kelas 9 adalah kelas yang sama — yang satu ditulis angka Romawi seperti di dokumen resmi, yang satu angka biasa. Berkas ini perangkat ajar untuk materi Sisindiran pada Bahasa sunda SMP, Fase D, elemen Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis.
Bisakah modul Sisindiran ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Sisindiran dapat Anda sesuaikan dengan murid Bahasa sunda kelas IX di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.