Modul Ajar & RPP Bahasa Sunda Kelas IX
Babasan Paribasa
Modul ajar (RPP) Bahasa Sunda MTs kelas IX materi Babasan Paribasa lengkap: ATP, tujuan, LKPD, asesmen, hingga bahan ajar. Sesuai Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025. Unduh Word + PDF atas nama Anda.
Berkas ini modul ajar, dan di dalamnya sudah termuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen — tiga komponen inti menurut Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Modul ajar melengkapinya dengan LKPD, ATP, dan bahan ajar. Jadi bila sekolah Anda meminta RPP, berkas ini sudah memenuhinya.
Jenjang, mapel, kelas, dan materinya sudah terbawa dari halaman ini. Tinggal nama, sekolah, dan pilih semester-nya.
Bukan Babasan Paribasa yang Anda cari? Materi Bahasa Sunda Kelas IX lainnya:
Materi Anda tidak ada di daftar?Tulis judulnya sendiri — tetap gratis, ±1 menit| Penyusun | nama Anda |
| Satuan Pendidikan | sekolah Anda |
| Mata Pelajaran | Bahasa Sunda |
| Fase / Kelas | D / IX |
| Materi Pokok | Babasan Paribasa |
| Alokasi Waktu | 3 Pertemuan (6 JP: 2 JP × 40 menit = 80 menit per pertemuan) |
| Tahun Pelajaran | 2026/2027 |
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Bentuk Dokumen | Modul Ajar — memuat RPP |
✍️ Dua baris kuning di atas terisi otomatis saat Anda mengunduh — beserta kop, logo, dan nama sekolah di kepala tiap lembar.
Kompetensi awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang peribahasa dalam Bahasa Indonesia dan beberapa kosakata umum Bahasa Sunda.
Dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan:
- keimanan dan ketakwaan — elemen: akhlak mulia
Peserta didik mengidentifikasi nilai-nilai luhur dalam babasan paribasa Sunda yang selaras dengan ajaran agama Islam. - penalaran kritis — elemen: memperoleh dan memproses informasi dan gagasan
Peserta didik menganalisis makna tersirat dan konteks penggunaan babasan paribasa untuk memahami pesan moralnya. - kreativitas — elemen: menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal
Peserta didik menciptakan teks atau karya pendek yang menggunakan babasan paribasa secara tepat dan kreatif.
Capaian Pembelajaran (CP):
| Acuan | Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025 |
| Elemen / Domain | Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis |
| Rumusan CP Fase | Peserta didik mampu memahami, menganalisis, dan mengevaluasi berbagai jenis teks lisan, tulis, dan visual berbahasa Sunda, serta mampu berkomunikasi dan berkreasi menggunakan bahasa Sunda sesuai konteks dan tujuan untuk mengembangkan wawasan kebudayaan dan nilai-nilai luhur. |
Identifikasi materi — 4 dimensi pengetahuan:
| Faktual | Babasan paribasa adalah ungkapan tradisional Sunda seperti 'gede hulu' (sombong) atau 'ujung-ujungna' (ujung-ujungnya). |
| Konseptual | Babasan paribasa merupakan kekayaan linguistik yang mengandung kearifan lokal, nilai moral, dan pandangan hidup masyarakat Sunda. |
| Prosedural | Peserta didik belajar mengidentifikasi, menginterpretasi, dan menggunakan babasan paribasa dalam konteks komunikasi yang tepat. |
| Metakognitif | Peserta didik menyadari pentingnya melestarikan bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas diri dan bangsa. |
Tujuan Pembelajaran:
- Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis babasan paribasa Sunda dengan tepat.
- Menganalisis makna denotatif dan konotatif babasan paribasa Sunda yang disajikan.
- Menjelaskan fungsi dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam babasan paribasa Sunda.
- Menggunakan babasan paribasa Sunda dalam kalimat atau paragraf pendek secara kontekstual.
- Membuat karya sederhana (misalnya poster atau cerita pendek) yang mengimplementasikan babasan paribasa Sunda.
Pemahaman bermakna: Memahami babasan paribasa membantu kita menyelami kearifan lokal, memahami nilai-nilai budaya Sunda, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi lebih efektif dan berakhlak mulia.
Pertanyaan pemantik: "Pernahkah kalian mendengar ungkapan 'ulah gampang percaya omongan batur, bisi cilaka' (jangan mudah percaya omongan orang lain, nanti celaka)? Ungkapan seperti itu seringkali mengandung makna yang lebih dalam, bukan?"
| Praktik Pedagogis | Project-Based Learning (PjBL) + praktik |
| Lintas Disiplin Ilmu | Pendidikan Agama Islam: Mengidentifikasi nilai-nilai akhlak mulia dalam babasan paribasa yang selaras dengan ajaran Islam, seperti kejujuran, kesabaran, dan rendah hati. Seni Budaya: Membuat karya visual (poster/ilustrasi) atau drama pendek yang mengaplikasikan babasan paribasa, menumbuhkan apresiasi terhadap seni dan budaya lokal. Bahasa Indonesia: Membandingkan struktur dan makna babasan paribasa Sunda dengan peribahasa atau idiom dalam Bahasa Indonesia untuk memperkaya pemahaman linguistik. |
| Kemitraan Pembelajaran | Orang tua atau anggota komunitas dapat diminta untuk berbagi contoh babasan paribasa yang mereka ketahui dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. |
| Lingkungan Pembelajaran | Ruang kelas ditata agar nyaman untuk diskusi kelompok, dilengkapi dengan tempelan contoh babasan paribasa, serta akses ke perpustakaan sekolah. |
| Pemanfaatan Teknologi Digital | Peserta didik dapat menggunakan kamus daring Sunda-Indonesia, mesin pencari untuk riset babasan paribasa, atau aplikasi desain grafis untuk membuat poster digital. |
| Model Pembelajaran | Discovery Learning |
| Tujuan Pertemuan 1 | Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis babasan paribasa Sunda dengan tepat. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Ice breaking: Tebak Gambar Kata: Peserta didik menebak kata atau frasa tersembunyi dari serangkaian gambar. Contoh: gambar kepala besar untuk 'gede hulu'. Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan memeriksa kehadiran. Guru menghubungkan materi babasan paribasa dengan pentingnya memahami budaya dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta pertanyaan pemantik yang relevan. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik mengamati beberapa contoh babasan paribasa yang disajikan guru, lalu secara berkelompok mengidentifikasi ciri-ciri umum dan perbedaan antara babasan dan paribasa berdasarkan contoh tersebut. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok menganalisis contoh babasan paribasa yang diberikan, mendiskusikan perbedaan dan persamaan, kemudian mempresentasikan hasil identifikasi ciri-ciri dan jenisnya di depan kelas. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Peserta didik memberikan umpan balik atas presentasi kelompok lain, guru menguatkan pemahaman tentang ciri dan jenis babasan paribasa, serta meluruskan miskonsepsi yang mungkin terjadi. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pertemuan ini, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif, dan menyampaikan motivasi untuk pertemuan selanjutnya. Pertemuan diakhiri dengan doa. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Problem-Based Learning |
| Tujuan Pertemuan 2 | Menganalisis makna denotatif dan konotatif babasan paribasa Sunda yang disajikan. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Ice breaking: Rangkai Kata: Guru memberikan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan babasan paribasa, peserta didik merangkai menjadi kalimat bermakna singkat. Guru menyapa, berdoa, dan mengecek kehadiran. Guru mengulas sekilas materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan pentingnya memahami makna mendalam babasan paribasa, kemudian menyampaikan tujuan pertemuan ini. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik diberikan beberapa kasus atau situasi nyata. Dalam kelompok, mereka menganalisis babasan paribasa yang relevan dengan kasus tersebut dan mencoba menafsirkan makna denotatif dan konotatifnya. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Setiap kelompok memilih satu babasan paribasa, menganalisis maknanya secara mendalam, dan mencoba mengaplikasikannya dalam sebuah kalimat atau skenario singkat yang menggambarkan pemahaman mereka. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Kelompok mempresentasikan hasil analisis dan aplikasi babasan paribasa mereka. Guru dan kelompok lain memberikan masukan serta penguatan terhadap pemahaman makna denotatif dan konotatif. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru bersama peserta didik merangkum makna-makna babasan paribasa yang telah dipelajari, memberikan apresiasi, dan memotivasi untuk terus menggali kearifan lokal. Guru juga memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
| Model Pembelajaran | Project-Based Learning |
| Tujuan Pertemuan 3 | Membuat karya sederhana (misalnya poster atau cerita pendek) yang mengimplementasikan babasan paribasa Sunda. |
| Tahapan | Alokasi | Kegiatan Pembelajaran |
|---|---|---|
| Kegiatan AwalBerkesadaran (Mindful) | 15 menit | Ice breaking: Tepuk Babasan: Guru menyebutkan babasan, peserta didik tepuk tangan jika tahu artinya, lalu menyebutkan makna singkatnya secara bergiliran. Guru membuka kelas dengan salam, doa, dan presensi. Guru mengajak peserta didik merefleksikan pentingnya babasan paribasa dalam kehidupan, lalu menyampaikan tujuan akhir pembelajaran yaitu membuat karya. |
| Inti — MemahamiBermakna (Meaningful) | 15 menit | Peserta didik secara individu atau berpasangan memilih beberapa babasan paribasa yang paling menarik bagi mereka. Mereka mendiskusikan bagaimana babasan tersebut bisa diintegrasikan ke dalam sebuah karya kreatif. |
| Inti — MengaplikasiBermakna (Meaningful) | 25 menit | Peserta didik mulai merancang dan membuat karya sederhana (misalnya poster berisi babasan paribasa dan maknanya, atau cerita pendek dengan dialog yang mengandung babasan paribasa) secara mandiri atau berkelompok. |
| Inti — MerefleksiBermakna (Meaningful) | 10 menit | Peserta didik memamerkan atau mempresentasikan karya mereka. Guru dan teman-teman memberikan umpan balik konstruktif terhadap kreativitas, ketepatan penggunaan babasan, dan nilai-nilai yang disampaikan. |
| Kegiatan PenutupMenggembirakan (Joyful) | 15 menit | Guru memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas seluruh proses dan hasil karya peserta didik, menyimpulkan nilai-nilai pembelajaran, dan menutup dengan doa serta harapan agar kearifan lokal terus lestari. |
Tahapan inti mengikuti 3 Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam: memahami → mengaplikasi → merefleksi; label di kolom kiri menunjukkan prinsip yang diwujudkan tiap tahapan.
Tujuan: Menganalisis makna dan konteks penggunaan babasan paribasa Sunda serta mengaplikasikannya dalam kalimat.
Alat & bahan: Kamus Sunda-Indonesia, alat tulis, kertas HVS
Langkah kerja:
- Bentuklah kelompok yang terdiri dari 3-4 orang.
- Bacalah daftar babasan paribasa yang disediakan guru.
- Diskusikan makna denotatif dan konotatif dari setiap babasan paribasa.
- Pilihlah 5 babasan paribasa, lalu buatlah kalimat yang tepat untuk mengaplikasikannya.
- Presentasikan hasil diskusi dan kalimat buatan kelompokmu di depan kelas.
🔒 Tabel kerja dan lembar refleksi murid tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
Asesmen awal (diagnostik):
- Apa yang kalian ketahui tentang peribahasa?
- Pernahkah kalian mendengar ungkapan dalam Bahasa Sunda yang memiliki makna kiasan?
- Coba sebutkan satu contoh peribahasa dalam Bahasa Indonesia!
- Menurut kalian, mengapa penting mempelajari ungkapan-ungkapan daerah?
Formatif (proses): Observasi partisipasi aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan presentasi, serta penilaian hasil LKPD.
Sumatif (akhir): Penilaian produk (poster/cerita pendek) yang dibuat peserta didik dan tes tertulis untuk mengukur pemahaman konsep.
🔒 Rubrik KKTP dan kunci jawaban tidak ditampilkan di pratinjau — keduanya ada di berkas unduhan.
| No | Tujuan Pembelajaran | Materi | Alokasi | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi ciri-ciri dan jenis babasan paribasa Sunda dengan tepat. | Ciri-ciri dan Jenis Babasan Paribasa | 2 JP | penalaran kritis |
| 2 | Menganalisis makna denotatif dan konotatif babasan paribasa Sunda yang disajikan. | Makna Babasan Paribasa dan Nilai Luhur | 2 JP | penalaran kritis, keimanan dan ketakwaan |
| 3 | Menggunakan babasan paribasa Sunda dalam kalimat atau paragraf pendek secara kontekstual. | Aplikasi Babasan Paribasa dalam Kalimat | 2 JP | kreativitas, komunikasi |
Integrasi Panca Cinta (KBC):
| Nilai Cinta | Wujud dalam Pembelajaran |
|---|---|
| 1. Cinta Allah dan Rasul-Nya | Mempelajari babasan paribasa yang mengandung nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia, seperti anjuran untuk jujur dan sabar, sebagai wujud Cinta Allah dan Rasul-Nya. |
| 2. Cinta Ilmu | Antusias dalam menggali makna dan fungsi babasan paribasa, serta aktif berdiskusi untuk memperkaya pengetahuan, menunjukkan Cinta Ilmu yang mendalam. |
| 3. Cinta Lingkungan | Mengidentifikasi babasan paribasa yang berkaitan dengan menjaga kebersihan atau kelestarian alam, menumbuhkan kesadaran akan Cinta Lingkungan. |
| 4. Cinta Diri dan Sesama | Menganalisis babasan paribasa yang mengajarkan pentingnya toleransi dan empati, sehingga menumbuhkan sikap saling menghargai sebagai wujud Cinta Diri dan Sesama Manusia. |
| 5. Cinta Tanah Air | Melestarikan dan mempopulerkan babasan paribasa Sunda sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa, demi menumbuhkan rasa bangga dan Cinta Tanah Air. |
Babasan paribasa adalah kekayaan tak ternilai dalam khazanah bahasa Sunda. Lebih dari sekadar rangkaian kata, ia adalah cerminan kearifan lokal, pandangan hidup, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Mempelajari babasan paribasa berarti menyelami jiwa budaya Sunda, memahami cara berpikir masyarakatnya, dan melestarikan warisan leluhur yang penuh makna.
1. Pengertian Babasan dan Paribasa
Babasan adalah ungkapan atau frasa yang maknanya sudah tetap dan tidak bisa diartikan secara harfiah, namun maknanya masih bisa ditelusuri dari kata-kata pembentuknya. Contoh: 'gede hulu' (besar kepala) berarti sombong. Sementara itu, paribasa adalah ungkapan yang lebih panjang, berupa kalimat lengkap, yang maknanya sama sekali tidak bisa diartikan secara harfiah dari kata-kata pembentuknya. Maknanya sudah baku dan seringkali mengandung nasihat atau perumpamaan. Contoh: 'ulah ngaliarkeun taleus ateul' (jangan menyebarkan talas gatal) berarti jangan menyebarkan berita bohong atau fitnah. Keduanya berfungsi sebagai perhiasan bahasa dan penasihat moral.
2. Ciri-ciri Babasan dan Paribasa
Ciri utama babasan adalah bentuknya yang relatif pendek, terdiri dari dua atau tiga kata, dan maknanya kiasan namun masih ada korelasi dengan makna literalnya. Misalnya 'kandel kulit beungeut' (tebal kulit muka) untuk orang yang tidak punya malu. Sedangkan paribasa memiliki ciri bentuk yang lebih panjang, menyerupai kalimat, maknanya sudah sangat konotatif dan seringkali berupa perumpamaan atau perbandingan yang mendalam. Contoh 'asa ditonjok congcot' (seperti ditonjok tumpeng) untuk perasaan senang yang tidak terduga. Keduanya bersifat statis, tidak bisa diubah susunan katanya.
3. Jenis-jenis Babasan Paribasa
Babasan dan paribasa dapat dikategorikan berdasarkan isi atau pesan yang terkandung. Ada yang berisi nasihat moral (misalnya 'ulah ngaliarkeun taleus ateul'), sindiran atau kritik sosial (misalnya 'ngomong sorangan'), perbandingan sifat manusia dengan alam (misalnya 'kawas anjing tutung buntut'), atau menggambarkan kondisi tertentu. Pemahaman terhadap jenis-jenis ini membantu kita menginterpretasi makna dan konteks penggunaannya secara lebih akurat. Beberapa di antaranya bersifat humoris, namun tetap mengandung makna mendalam.
4. Makna Denotatif dan Konotatif
Dalam babasan paribasa, makna denotatif adalah arti harfiah dari kata-kata penyusunnya, yang seringkali tidak relevan atau bahkan lucu. Misalnya, 'gede hulu' secara denotatif berarti 'kepala besar'. Namun, makna konotatifnya adalah arti kiasan yang sebenarnya ingin disampaikan, yaitu 'sombong' atau 'angkuh'. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk dapat menafsirkan babasan paribasa dengan benar. Makna konotatif inilah yang mengandung nilai-nilai dan kearifan lokal. Proses berpikir untuk menemukan makna konotatif ini melatih penalaran kritis.
5. Fungsi dan Nilai-nilai dalam Babasan Paribasa
Babasan paribasa memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai alat komunikasi yang indah dan efektif, penasihat moral, pengingat akan etika dan sopan santun, serta cerminan budaya dan pandangan hidup masyarakat Sunda. Nilai-nilai yang terkandung sangat beragam, mulai dari kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, kerja keras, gotong royong, hingga pentingnya menjaga lisan dan perbuatan. Misalnya, 'ulah babari nyarita' (jangan mudah bicara) mengandung nilai kehati-hatian dalam bertutur kata, selaras dengan ajaran agama tentang menjaga lisan.
6. Contoh Babasan Paribasa Populer
Beberapa contoh babasan paribasa yang sering digunakan: 1. 'Mani asa ditonjok congcot': Merasa senang sekali karena mendapatkan anugerah yang tidak disangka-sangka. 2. 'Kawas anjing tutung buntut': Sangat gelisah atau tidak tenang. 3. 'Adat kakurung ku harti': Adat atau kebiasaan yang terhalang oleh akal sehat atau pikiran. 4. 'Gedé hulu': Sombong. 5. 'Amis budi': Ramah, murah senyum. 6. 'Ulah ngaliarkeun taleus ateul': Jangan menyebarkan berita bohong atau fitnah. Contoh-contoh ini menunjukkan betapa kayanya bahasa Sunda dalam menggambarkan berbagai situasi dan karakter manusia.
Rangkuman: Babasan paribasa adalah warisan budaya Sunda berupa ungkapan atau kalimat kiasan yang mengandung makna mendalam, nilai moral, dan kearifan lokal. Babasan umumnya pendek dengan makna kiasan yang masih terkait arti literal, sedangkan paribasa lebih panjang, berupa kalimat, dan maknanya sepenuhnya konotatif. Keduanya berfungsi sebagai penasihat dan cerminan budaya, mengajarkan kita tentang etika, sopan santun, dan cara hidup yang baik dalam masyarakat.
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Babasan | Ungkapan atau frasa kiasan pendek dalam Bahasa Sunda yang maknanya sudah tetap. |
| Paribasa | Ungkapan atau kalimat kiasan panjang dalam Bahasa Sunda yang maknanya sudah baku dan sering mengandung nasihat. |
| Denotatif | Makna harfiah atau makna sebenarnya dari sebuah kata atau frasa. |
| Konotatif | Makna kiasan, bukan makna sebenarnya, yang muncul karena asosiasi atau pengalaman. |
| Kearifan Lokal | Pengetahuan, nilai, dan praktik yang telah teruji dan diwariskan secara turun-temurun oleh suatu komunitas. |
🔒 Daftar pustaka tidak ditampilkan di pratinjau — ada di berkas unduhan.
Modul ajar "Babasan Paribasa" mata pelajaran Bahasa Sunda Kelas IX ini disusun sesuai ketentuan Kurikulum Berbasis Cinta · Pembelajaran Mendalam dan dinyatakan dapat digunakan dalam pembelajaran Tahun Pelajaran 2026/2027.
Rujukan: KMA No. 1503 Tahun 2025 (Kurikulum Berbasis Cinta) · Kep. Dirjen Pendis No. 6077 Tahun 2025 · CP: SK Dirjen Pendis No. 9941 Tahun 2025
1 Materi Bahasa Sunda Terkait
DRAMABahasa sunda Kelas IX MTsKampung adat sundaBahasa sunda Kelas IX MTsnovelBahasa sunda Kelas IX MTsPAKEMAN BASABahasa sunda Kelas IX MTsPERANGKAT PEMBELAJARANBahasa sunda Kelas IX MTsPTS BIANTARABahasa sunda Kelas IX MTs2 Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah modul ajar Bahasa Sunda Babasan Paribasa ini gratis?
Ya. Modul Babasan Paribasa untuk kelas IX MTs dapat diunduh gratis dalam Word + PDF tanpa watermark, lengkap dengan kop sekolah dan nama Anda sebagai penyusun. Tiga modul gratis tersedia bertahap; modul berikutnya terbuka setiap 10 jam.
Berapa lama modul ini tersusun?
Sekitar satu menit. Cukup isi nama, jenjang, sekolah, mapel, dan materi — modul Bahasa Sunda kelas IX langsung tersusun atas nama Anda.
Apakah modul ajar Bahasa Sunda kelas IX ini sesuai kurikulum terbaru?
Ya. Modul Babasan Paribasa ini mengikuti Kepka BSKAP No. 046/H/KR/2025, pada Fase D untuk kelas IX MTs.
Ini modul ajar, RPP, atau RPM deep learning?
Ketiganya berkas yang sama. Sampulnya memang bertanda Deep Learning · Pembelajaran Mendalam, dan sebagian guru menyebutnya RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam). Modul ajar memuat RPP — keduanya bukan dua dokumen terpisah. Sejak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, istilah resmi untuk dokumen rencananya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar adalah ketiganya beserta lampirannya — LKPD, ATP, dan bahan ajar. Berkas Babasan Paribasa untuk Bahasa Sunda kelas IX di halaman ini memuat semuanya, jadi dapat disetorkan baik ketika sekolah meminta RPP maupun modul ajar.
Apakah ada soal, kisi-kisi, dan rubrik KKTP-nya?
Ada. Modul Babasan Paribasa ini memuat bank soalnya sendiri — 6 pilihan ganda dan 5 uraian beserta kunci jawaban, ditambah rubrik KKTP pada bagian asesmennya. Yang belum termasuk: paket soal satu semester penuh Bahasa Sunda kelas IX MTs berikut kisi-kisi dan kartu soalnya — Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS/PTS) dan Akhir Semester (ASAS/PAS). Penjelasannya ada di halaman Kisi-Kisi & ASAS.
Apakah ini modul ajar Bahasa Sunda kelas 9 yang saya cari?
Kemungkinan besar ya. Kelas IX dan kelas 9 adalah kelas yang sama — yang satu ditulis angka Romawi seperti di dokumen resmi, yang satu angka biasa. Berkas ini perangkat ajar untuk materi Babasan Paribasa pada Bahasa Sunda MTs, Fase D, elemen Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis.
Bisakah modul Babasan Paribasa ini diedit?
Bisa. Hasil unduhan berupa dokumen Word yang bisa disunting penuh — tujuan, alokasi waktu, dan langkah kegiatan Babasan Paribasa dapat Anda sesuaikan dengan murid Bahasa Sunda kelas IX di sekolah Anda. Sudah ber-kop sekolah dan atas nama Anda, tersedia juga dalam PDF.
tuntas.org — administrasi beres, kinerja tuntas. Semua modul disusun sebagai materi bantu belajar yang independen.